Sesuai kesepakatan minggu lalu, keluarga harmonis itu memilih rencana berlibur ke Singapore. Kini mereka tiba dibandara, bersiap melakukan penerbangan menuju negara tentangga.
Danis nampak keheranan melihat sang Mama dengan gusar terlihat seperti menunggu seseorang.
"Mama kenapa?" Tegurnya sembari menenteng tas ransel dipundak kiri.
"Aduh kemana sih dia? kita udah ga punya banyak waktu, Mama takut kita ketinggalan pesawat" sahut sang Mama sambil celingak-celinguk menatap kerumunan orang di bandara.
"Dia siapa sih, Mama nyari siapa?"
Tak lama tampak sesosok gadis berambut panjang berjalan slow motion kearah mereka. Wajah cantik dengan body bak model itu, kini menjadi pusat perhatian semua orang karena daya tarik dirinya. Gadis itu melambaikan tangan, lalu berjalan kearahnya.
"Maaf Clara telat" ucapnya sembari menampilkan senyum manisnya.
"Akhirnya kamu datang juga Clara, Tante kira kamu nggak jadi ikut lo"
"Hmm.. jadi dong Tan. Om, Danis apa kabar?"
Danira memandang tak suka kearah gadis itu, kehadirannya kini serasa tak dianggap. Bisa-bisanya gadis itu hanya menyapa Papa dan Danis. Dasar cari perhatian sekali. Pikirnya menggerutu sebal dalam hati.
"Baik kamu makin cantik saja Clara" sahut sang Papa diiringi tawa renyahnya, sementara Danis hanya membalas deheman saja.
"Yasudah ayo kita segera masuk kedalam"
Dengan seenaknya gadis itu menggandeng lengan Mama Leta menuju pesawat. Sekali lagi Danira memandang kesal kearah Clara. Memang dia pikir dia siapa?!
Sebuah resort mewah milik keluarga Danis berada dipinggir pantai Singapura. Kini mereka tampak asyik berselonjor dipinggir pantai dan bercanda ria.
"Kamu tau Cla, Danis itu sejak kecil senang sekali tiap diajak liburan kesini. Apalagi masakan seafood chief disini itu enak sekali. Nanti kamu cobain juga ya"
Saat ini mereka tengah berkumpul di meja makan yang berada di pinggir pantai. Diiringi alunan musik klasik malam hari, ditambah hiasan lampu yang menambah kesan mewah makan malam mereka.
"Kamu udah berapa lama dekat dengan Danis, sayang?'' tanya Mama Leta pada gadis itu.
"Kita udah lama dekat kok Tan, Danis itu teman yang baik sekali"
"Tapi kamu suka kan sama anak Om?"
Sementara Clara hanya menunduk malu mendengar ucapan Papa Danis. Gadis itu menatap kagum kearah lelaki yang duduk disampingnya kini. Tak dipungkiri jika malam ini, lelaki itu sangat tampan sekali.
"Adik kamu kok lama banget ya dandannya, tadi perasaan Mama ke kamarnya dia sudah selesai make up deh" Danis pun terhenyak mendengar ucapan Mamanya. Tumben sekali gadis itu lama berdandan.
"Mending Danis susulin aja deh Mah" Danis bersiap beranjak dari kursi, sebelum sang Mama menghentikan nya.
"Udah kamu makan aja dulu, paling sebentar lagi Nira kesini" ucap Mama Leta kemudian meneruskan perbincangan dengan Clara
****
Sementara itu Danira tampak berjalan seorang diri menyusuri pantai. Dengan balutan dress putih selutut, gadis itu seakan tak perduli dengan dinginnya malam yang seakan menusuk hingga rongga tulang.
Tak lama ia menjatuhkan diri untuk duduk ditepi pantai, sembari menatap hamparan ombak. Dirinya itu kesal dengan kedatangan gadis pencari perhatian itu. Ia seakan tak dianggap oleh keluarganya, apalagi hingga kini tak satupun diantara mereka yang mencarinya.
"Lo bisa nggak sih, sekali aja nggak nyusahin orang?! Kita nungguin lo dari tadi tau nggak. Kenapa tadi nggak ikut makan malam?" Ucap seseorang yang ia kenal sebagai abangnya.
Entah datang dari mana, pria itu tiba-tiba mengomel seperti biasa. Danira hanya memutar bola matanya malas.
"Oh, masih inget sama gue ya"
"Kenapa ngomong gitu?!!"
''Kirain gue udah nggak penting, kan udah ada si cewek caper itu sekarang"
"Are u jealous ?" Ujar Danis sekenannya membuat gadis itu terperanjat kaget.
"Kenapa gue harus jealous, lagian aneh banget masa gue harus jealous sama abang gue sendiri" sahutnya mendengus sebal pada lelaki itu.
"Ikut gue" tanpa pikir panjang Danis langsung menarik lengan adiknya tanpa memperdulikan protes dari gadis itu.
"Lo mau bawa gue kemana" dengus nya lalu menyentakkan genggaman Danis.
"Gue tanya sekali lagi sama elo. Gimana perasaan lo sama gue?"
Ucapan lelaki itu membuat Nira terperangah tak percaya. Kenapa ia harus membahas hal itu lagi.
"Gu- gue.."
"Tingkah lo kaya gini malah bikin gue makin yakin kalo lo juga perasaan yang sama" ujarnya menatap lurus mata legam milik gadis didepannya ini.
Kekhawatirannya kini sirna, mengelak pun percuma. Karena hatinya tetap berlabuh pada gadis cantik yang tak lain adalah adiknya sendiri.
"Jangan gila Bang! Lo mau Papa marah denger omongan lo tadi. Nggak usah sok tau perasaan gue" pekiknya menatap tajam kearah Danis.
"Udah stop lo bersikap denial kaya gini Nira, kita bisa jalanin pelan-pelan kalo lo mau" ucapnya enteng.
"Gimana perasaan Mama kalo tau lo kaya gini, dia pasti sedih" sahutnya sambil menitikkan air mata
Dengan perlahan Danis membawa tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Ia sendiri juga tak bisa membendung air matanya sendiri. Hanya terdengar suara isakan dari bibir mungil gadis cantik itu, membuat Danis tak henti mengusap suraujya pelan.
Tak lama Nira mencoba melepas pelukan Danis. Ia menatap sendu kearah lelaki yang berstatus abangnya itu.
"Gue sendiri juga nggak tau kenapa gue bisa kaya gini. Gue udah coba tapi nggak bisa, gue--"
"Sstttt"
Dengan cepat Danis kembali membawa Nira dalam pelukannya. Ia semakin mengeratkan pelukan pada Danis sembari menumpahkan tangisannya. Biarlah deru ombak membawa perasaannya yang malang. Apa boleh buat jika hati telah diciptakan sang pencipta sedemikian rupa, kenapa harus ia tolak. Perasaannya itu bukan kuasa atas dirinya sendiri, kendati demikian ia harus melawan takdir yang merencanakan kisah ini untuknya.
****
Don't forget to vote and comment. See you in the next chapter 👋
KAMU SEDANG MEMBACA
Rewrite the Stars
RomanceKetika pena memaksa untuk bercerita sedangkan hati tak lagi untuknya, namun cinta masih berkuasa diatas segalanya.. "Harus apa aku agar menghapus rasa ini untukmu, jika takdir saja menentangnya. Mengapa Tuhan harus menciptakan hati untuk mencintai o...
