"Jika cinta membawa kebahagiaan, lalu kenapa bagimu itu sebuah kesalahan''
------------------------
"Lelet banget sih lo larinya dari tadi ngeluh mulu sih"
Danira mendengus kesal mendengar ucapan abangnya ini. Pagi tadi lelaki itu seenaknya menggedor pintu kamarnya dan membangun nya yang masih terlelap ditempat tidur. Memang bukan pertama kali lelaki itu berbuat seperti ini padanya. Setiap minggu pagi lelaki tengil itu memaksanya untuk menemani joging pagi. Meski wajah melasnya ia tunjukan pada lelaki itu, namun yah memang dasarnya lelaki menyebalkan itu sangat keras kepala jadi sulit untuk diajak kompromi.
"Gue capek tau Abang mah seenaknya bangunin gue tadi, mana belum sarapan juga" dengusnya membuat Danis menghentikan langkahnya dan berjalan kearah adiknya.
"Itu juga buat kesehatan lo biar gak krempeng kaya gitu"
"Udah ah capek gue mau istirahat dulu"
Kemudian Danis menyerahkan botol air minum pada Danira dengan senang hati gadis itu pun menerimanya dan langsung meneguknya.
"Kasihan banget sih keringetan"
Perlakuan manis dari abangnya membuat Danira menghentikan minumnya menatap dalam pada abangnya itu yang dengan lembut mengelap keringat di dahinya. Sejenak pandangan mereka terkunci saling menatap manik mata mata elang tajam lelaki itu penuh keteduhan. Danira tertegun melihat tatapan abangnya, seperti ada sesuatu yang lain membuatnya sulit mengartikan arti tatapan itu.
"E-hh udah nggak papa" ucapnya halus berusaha menetralkan detak jantungnya. Ada dengan dirinya.
"Yaudah yuk pulang" dengan pelan Danis menarik tangan gadis itu kemudian mereka berjalan beriringan meninggalkan taman itu.
Sesampainya dirumah mereka melihat mobil tak asing yang terparkir di halaman rumah mereka. Dan juga terdengar gelak tawa dari dalam membuat mereka ingin segera masuk kedalam.
Mata Danis melebar mengetahui seseorang yang datang kerumahnya, berani sekali musuhnya itu datang kesini dan menemui adiknya.
"Eh kalian sudah pulang, Danira dari tadi Ragil nyariin kamu lo, Mama nggak nyangka kalo kalian satu kelas ya" ucap Mama Leta tersenyum manis menatapnya.
"Iy-iya a ada apa Gil?" Danira menunduk ragu berbicara didepan lelaki ini. Dan jangan lupakan Danis menatapnya tajam.
"Gue tadi nggak sengaja lewat sini, mau mampir ketemu elo. Mau pergi sama gue nggak?" Ragil sempat melirik Danis yang sedari tadi menatapnya tajam. Bagaimanapun ia tahu arti tatapan lelaki itu.
"Kemana?"
"Kita jalan aja dulu" Danira mengangguk mengiyakan.
"Mau kemana lo" ucap Danis sambil mencekal lengannya membuat gadis itu memutar bola matanya malas.
"Bukan urusan lo ya" kemudian Danira segera menarik tangan Ragil berlalu menuju taman belakang rumah tanpa memperdulikan wajah abangnya yang merah padam.
Sepasang remaja itu tengah duduk di pinggiran taman kota menatap lalu lalang kendaraan di malam hari. Disaat tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing sampai akhirnya Ragil membuka percakapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rewrite the Stars
RomanceKetika pena memaksa untuk bercerita sedangkan hati tak lagi untuknya, namun cinta masih berkuasa diatas segalanya.. "Harus apa aku agar menghapus rasa ini untukmu, jika takdir saja menentangnya. Mengapa Tuhan harus menciptakan hati untuk mencintai o...
