Chapter 6

14 4 0
                                        

Lemparan bola tepat mengenai sasaran. Pemainnya saling berebut benda berbentuk bulat tersebut lalu memasukkannya kedalam ring.

"Huft, kali ini elo gabakal bisa ngalahin gue bro'' ujar Danis sambil memberikan sebotol minum untuk temannya.

"Baru menang sekali doang udah sombong" cibirnya.

"Gimana hubungan lo sama adek lo"

Danis hanya menghela nafas lelah mendengar ucapan Rio.

"Susah, mau sampai kapanpun hubungan ini nggak bakalan berhasil"

"Apa itu artinya lo nyerah?" Tanya Rio dibalas senyuman kecut Danis.

"Gue gatau, biarin saat ini dia bersikap sesukanya. Tapi elo tau kan gue nggak bakalan lepasin dia gitu aja"

"Gila yaa, selama ini gue punya temen yang ga waras. Adek sendiri mau dipacarin" ujar Rio menggeleng tak habis pikir dengan kelakuan sobatnya itu.

"Andai gue bisa milih dengan siapa jatuh cinta. Tapi lo tau kan gue nggak punya kuasa" sahut Danis.

***

"Nira elo hari ini mau pulang bareng gue nggak? Sekalian temenin gue beli baju di mall"

Dua gadis dengan rambut sebahu nampak berjalan dikoridor kampus, sambil menentang tas branded miliknya.

"Ayok" sahutnya, membuat gadis berkacamata itu melongo tak percaya.

"Tumben lo bisa diajak pergi, biasanya ada abang tercinta yang ngintilin"

"Ya bagus dong kalo dia nggak ngikutin gue, itu artinya gue bisa bebas" sahutnya dengan ceria.

"Kalian baik-baik aja kan?" Tanyanya penuh selidik.

"Nggak, udah deh gausah ngomongin dia. Mending kita buruan berangkat deh" Sahutnya sambil merangkul bahu temannya bergegas meninggalkan kampus.

Seorang wanita paruh baya terlihat gelisah diruang tamu, seraya terus melirik jam dinding rumahnya. Ia nampak cemas menunggu putrinya yang belum juga pulang sejak dari kampus. Tidak biasanya putri nya itu telat pulang, mengingat putra sulung nya sudah berada dirumah sejak tadi sore.

"Kamu udah coba hubungan teman-temannya Dan'' tanya nya pada putra sulungnya.

"Udah Mah, tapi mereka nggak tau dimana Danira" sahutnya sambil mengepal tangannya dengan kuat

Gadis itu selalu menguji kesabarannya, kebebasan yang ia berikan ternyata terlalu disepelekan oleh Danira. Ia mencoba menahan emosi agar tidak terlihat didepan Mama nya.

"Mama khawatir sama dia Dan, bisa gawat kalo sampai Papamu tahu kalo Danira belum pulang. Lagian kan kalian biasanya pulang sama Nira kan, kenapa kamu biarin dia pulang sama temennya sih"

Sementara Danis menggeleng lelah memikirkan kelakuan adik semata wayangnya itu.

Tak lama suara motor terdengar di teras rumah mereka. Segera keduanya bergegas ke depan rumah. Terlihat Danira turun dari jok motor seorang lelaki dengan wajah cerianya, tanpa ia tahu hal apa yang terjadi setelah ini.

Gadis itu berbalik badan dengan tubuh menegang ia nampak gugup melihat dua orang yang kini menatapnya.

"Aduh sayang kamu dari mana saja, kamu tahu Mama sama abang kamu cemas dari tadi"ucap Mama sambil menghampiri gadis itu yang nampak gelisah.

"Ma-maafin Nira Mah, tadi aku ningkrong sama temen-temen sampai lupa lihat jam" cicitnya sembari memainkan jari.

"Bagus ya pulang jam segini! Mau jadi apa lo anak cewek keluyuran ga jelas jam segini, apalagi sama cowok lagi!" Seru Danis menatap nyalang kearahnya.

"Tadi gue beneran lupa liat jam, gue juga udah maksa buat pulang duluan kok tadi"

"Segitunya asik pacaran sampai lupa liat jam"

"Gue baru pulang telat sekali, kenapa langsung dimarahin sih" ucapnya tak terima pada lelaki itu.

Sudah ia duga lelaki didepannya ini akan marah. Sepertinya sifat over posesif nya muncul lagi padanya.

" Ya karena elo itu cewek Nira, bisa nggak nurut kalo kata orang tua!"

"Sudah hentikan Danis, tenangin diri kamu. Nira sebaikanya kamu segera masuk ke kamar ya sayang"

Tanpa sepatah katapun Danira melenggang masuk menuju kamarnya tanpa memperdulikan tatapan tajam dari lelaki yang berstatus abangnya itu.

Brakkk

Danis membuka pintu kamarnya kasar membuat Nira berdecak kesal.

"Lihat gue Nira! Gue bilang lihat gue!!"

"Mau lo apa sih?! Nggak inget ucapan lo waktu itu, nyuruh gue untuk bertindak semau gue"

"Tapi lo udah kelewat batas Nira, makin gabisa diatur dan apa itu tadi elo beraninya pulang sama cowok gajelas!" Ucap nya menatap nyalang gadis itu yang kini duduk diranjang kamarnya.

"Gue baru telat pulang sekali kenapa reaksi lo berlebihan kaya gini"

"Berlebihan katamu! Gue kasih lo kebebasan bukan berarti bisa bersikap seenaknya. Gue sedang berusaha gapai lo tapi malah jalin hubungan sama cowok lain" ujar Danis

Tatapannya mulai melemah pada Nira, gadis itu menatap abangnya dengan mata yang berkaca. Harukah lelaki itu membahas hal itu lagi?

"Gue minta maaf" lirihnya.

Dengan cepat Danis memeluk tubuh yang bergetar itu. Ia mengusap rambutnya pelan. lalu ia menangkup wajah cantik itu yang dipenuhi air mata.

"Maaf tadi gue kebawa emosi, gue cuma gamau lo kenapa-kenapa"

"Maafin gue juga udah bikin khawatir. Tolong jangan acuhin gue lagi bang, gue ga sanggup jauh dari lo"
Sahutnya menatap lirih abangnya

Entah dorongan dari mana Danis mendekatkan bibirnya pada gadis itu, mengecupnya pelan seolah mengatakan bahwa ia begitu mencintainya. Danira melotot tak percaya dengan apa yang lelaki ini lakukan. Dengan pelan ia melepaskan tautan keduanya, kemudian memeluk tubuh tegap itu.

Sepasang suami istri nampak tengah berbincang di ruang kerja milik sang suami. Keduanya larut dalam obrolan yang panjang.

"Aku tau kalau Danira itu bukan anakku Pah, tapi  aku sangat menyayanginya. Kenapa perempuan itu tiba-tiba muncul setelah kita melalui semua ini" perempuan paruh baya itu menatap suaminya penuh derai air mata.

''Kamu tenang aja Ma, Danira itu anak kita. Nggak akan ada yang bisa Nira dari kita" ucap sang suami mencoba menenangkan istrinya.

"Aku nggak mau dia ambil anakku, sampai kapanpun Nira itu tetap anakku Pah" sahut wanita itu dengan tangis hebat.

"Papa jamin wanita itu nggak akan ketemu Nira, apapun caranya" ujarnya sambil memeluk tubuh istrinya yang menangis.

Tanpa mereka sadari seseorang mendengar percakapan mereka, tak segaja dia lewat didepan kamar orangtua nya. Tiba-tiba ia mendengar sang Mama menangis di pagi hari seperti ini. Orang itu mencoba meresapi apa yang dimaksud oleh orang tua nya. Seperti ada yang salah disini.

"Gue harus cari tau" ucapnya lalu segera bergegas pergi.

****
See you in the next chapter 👋





Rewrite the Stars Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang