(23) Kemurkaan

1.9K 148 2
                                        

♤♤♤♠︎♤♤♤

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

♤♤♤♠︎♤♤♤

Soerabaja, 1939

Beberapa hari telah berlalu begitu cepat, Jonathan telah mengurus pembunuhan yang dialami oleh Robert Brouwer. Kini untuk beberapa hari Jonathan akan berada di Soerabaja, ia mengajukan permohonan untuk di tempatkan di Loemadjang kepada Alexander Fritz dengan dalih akan mencari pembunuh Roseanne Fritz.

Alexander menyetujuinya karena memang kematian putrinya pasti ada hubungannya dengan keberadaan Samira. Alexander menuntut Jonathan agar membuktikan bahwa Samira bukanlah pembunuh, melainkan objek yang dilindungi oleh pembunuh.

Alexander meminta Jonathan untuk memimpin pasukan KNIL menyergap markas yang disinyalir sebagai tempat para pejuang kemerdekaan berkumpul. Jonathan harus melaksanakan tugasnya meskipun semuanya terasa begitu berat baginya.

Jonathan mengerahkan 3 truk berisi pasukan KNIL ke dalam misinya itu. Setibanya di daerah Grisse (Gresik) tepat di sebuah bangunan Belanda yang begitu kokoh, para pasukan diturunkan dan mengepung seluruh bangunan itu.

Jonathan memegang senapannya sembari berjalan mengendap-endap. Ia memimpin di depan memasuki gedung melalui pintu belakang, beberapa serdadu KNIL berhasil melumpuhkan beberapa pejuang dengan tembakan maupun pukulan. Sejujurnya, Jonathan merasa prihatin dan tak tega dengan semua ini, namun ia harus bersikap profesional dalam pekerjaan untuk tanah airnya.

Dalam sekejap, para pejuang yang tengah berkumpul di dalam gedung itu berhasil dilumpuhkan oleh pasukan Jonathan. Beberapa pejuang pria maupun wanita yang masih hidup dikumpulkan dalam sebuah ruangan besar yang berada di tengah gedung itu.

"Bunuh saja kami!" teriak seorang pria yang terlihat sebagai pimpinan pejuang itu.

"Relax, we vermoorden je snel," ujar seorang serdadu Belanda sembari menodongkan senapannya kepada pria itu.

"Kalian hanyalah penjajah yang biadab! Pergilah dari tanah air kami!" teriak seorang wanita.

"Diam!" teriak seorang serdadu sembari menodongkan senjatanya kepada kepala wanita itu. Jonathan hanya menatap datar ke arah para pejuang itu sembari menyalakan rokoknya dengan santai.

"Kalian bisa saja menginjak-injak kami di tanah air kami sendiri! Tapi, kami tak akan pernah menyerah untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa kami dari kalian para bajingan!" teriak wanita itu lagi.

Jonathan menarik salah satu sudut bibirnya, ia berjalan ke arah wanita itu. Jonathan berjongkok sejajar dengan wanita yang tengah duduk bertumpu pada lututnya itu, ia menghembuskan asap rokoknya ke arah wajah wanita itu.

"Kau pasti Wedari, bukan?" Jonathan menatap datar sembari menyesap rokoknya lagi.

"Istri dari Wardojo, pimpinan sekaligus otak pemberontakan ini," imbuh Jonathan sembari melirik ke arah Wardojo.

Let Me Love You [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang