VI

2.2K 239 55
                                        

Dalam sebuah permainan, hanya ada dua peraturan mutlak. Menang dengan kebanggaan atau kalah dengan memalukan.

Di sebuah ruangan yang sedikit temaram  dengan hanya mengandalkan beberapa cahaya lilin, terdapat tiga orang tengah bermain Billiard.

"Hei bukankah harusnya ini giliranmu Enigma?"

Sosok yang disebutkan hanya mengangkat gelas berisi wine nya, menandakan permainan dilanjutkan ke pihak setelahnya.

"Ckk, mau sampai kapan kau ingin membiarkan gadis itu bertindak semaunya?" Bunyi bola berwarna putih mengenai bola warna merah.

"Bukankah akan menyenangkan melihat mangsa yang bertindak sebagai predator ternyata hanyalah bidak yang bermain di atas telapak tangan kita?"

Lagi.

Bola putih mengenai bola merah dan masuk kedalam lubang kecil seukuran bola disudut meja.

"Tskkk, berdoa lah rencanamu tidak menjadi boomerang untukmu dan untukku Enigma,"

Benturan gelas wine dengan meja kaca terdengar nyaring. Sang Enigma berdiri mendekati meja Billiard. Kini gilirannya untuk memasuki permainan.

"Tentu saja tidak, tapi sebuah permainan tanpa adanya pengorbanan akan terasa sedikit membosankan bukan? Alpha?"

Dengan sekali dorongan, bola putih mengenai dia bola warna merah dan masuk dengan tepat. Menyelesaikan permainan mereka kali ini.

"Oya, Oya kalian berdua tidak melupakan kehadiran ku disini kan?"

"Tsk, diamlah mata satu, aku juga memperingati mu untuk tidak mendekati anak anjingku!"

"Kejamnya..."

.
.
.

"Kakak kau sedang apa? Apa kehadiran ku menganggu kesibukanmu?"

Dekis menoleh sebentar lalu kembali fokus menatap hamparan langit malam yang gelap tanpa permata dan purnama. Sepertinya akan ada hujan malam ini.

"Hanya memikirkan kembali seandainya saat itu aku tidak kabur, mungkin aku tidak akan menyaksikan adikku harus berlumuran darah... Jika saja saat itu aku lebih kuat dan bertahan lebih lama aku tidak akan menyaksikan adikku memenuhi firman itu.."

Medeia menghampiri kakaknya. Sosok hebat yang selalu menjadi rumahnya.

Medeia memeluk tubuh kakaknya dari belakang, mengubur wajahnya di punggung tegap sang kakak, tetapi juga rapuh disaat yang sama.

Kenapa air mata selalu saja keluar dengan seenaknya.

"Kak, tolong lupakan masa-masa itu, aku sudah tidak ingin mengingatnya. Aku hanya ingin melihat kakak ku bisa menemukan kebahagiaan, menikah lalu aku akan punya keponakan yang sangat mirip denganmu.."

Telinga Medeia dapat mendengar kekehan ringan dari sang kakak. Dapat ia rasakan tangan kakaknya menumpu diatas tangannya.

"Konyol, justru kakak yang ingin melihatmu menikah terlebih dahulu. Kakak sudah bahagia hanya dengan melihatmu hidup dan masih berasa disini, disisi kakak,"

"Aku tidak ada keinginan untuk menikah kak, tidak ada pasangan yang cocok bersanding denganku di Kerajaan ini,"

Sementara itu, di istana Azure kini tengah dihias dengan sangat mewah. Lampu hias yang terbuat dari batu kristal dipasang dengan hati-hati.

Bunga Lavender, Baby Breath, Morning Glory ditata dengan sempurna dan di tempatkan disudut sudut yang tepat. Lorong menuju aula dihias dengan begitu cantik yang memukau penglihatan orang.

"Kau tahu tidak kalau bunga Lavender ini sedikit banyak mirip dengan Tuan Dekis?"

"Ehhh kau menyadarinya juga ya? Yaa awalnya ketika aku melihat Tuan Dekis di ingatanku beliau seperti bunga Lavender ini. Beliau begitu tenang dan sangat royal dengan orang-orang yang berharga untuknya,"

MineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang