.
.
.
Happy Reading
.
.
.
Berantakan.
Kata yang sangat mewakili kondisi kamar Psyche sekarang. Begitu berantakan dengan serpihan dari kaca rias, vas bunga yang hancur bersama bunga mawar merah yang gugur terinjak. Peralatan make up berhamburan ke mana-mana.
Pysche duduk memeluk lututnya di sudut kamar yang temaram tak tersentuh penguasa siang. Meringkuk, menyembunyikan tangis pilu kehancuran sendirian tanpa uluran tangan dari orang-orang yang dirinya harapkan.
Iaros.
Namanya begitu indah melekat pada paras menawan pria muda yang begitu tampan dan kuat. Psyche jatuh hati tanpa bisa terelakkan. Begitu dalam hingga lupa menyisakan ruang logika untuk turut andil mengambil peran dalam perasaan cintanya.
Sepanjang hidupnya dia selalu mengambil keputusan sesuai isi hatinya tak mengindahkan logika yang sering menjerit tak terima sebab tak pernah didengarkan.
Dan kini hatinya hancur berserakan melukai setiap jengkal dadanya. Setiap urat nadinya meneriakan rasa sakit sebab sosok yang dicintainya telah terperangkap dalam pesona Dekis. Pria tampan yang lebih tua dari Iaros.
“Ya ampun Nona apa anda baik-baik saja?!” Dengan panik pelayan muda seumuran dengan Psyche berlari menghampiri gadis malang itu.
“Nona apa yang terjadi, kenapa kamar anda bisa berantakan seperti ini? Apa anda terluka? Atau ada seseorang yang mencoba melukai anda? Tolong katakan sesuatu Nona Psyche?!”
Pelayan itu berkata cepat, panik masih menguasai dirinya melihat malaikat penolongnya begitu hancur berantakan seperti ini.
“Heii.. Liana apakah aku kurang cantik? Apakah aku kurang baik? Apakah aku tidak pantas bahagia? Kenapa semua orang yang aku cintai malah pergi meninggalkanku? Apa aku memang tidak seberharga itu?” Dengan lirih dan tatapan kosong pertanyaan Psyche membuat Liana terdiam tak bisa menjawab.
Dia sangat tahu bagaimana Nona mudanya ini begitu mencintai Iaros bahkan ikut menemani gadis pirang itu melukis siluet Iaros.
Dan ketika Iaros berbalik dengan begitu kejam, kini Liana melihat berapa hancurnya gadis yang selalu tersenyum ceria seperti matahari di langit. Gadis yang menyimpan banyak luka tanpa seorang pun bisa memahaminya. Tak peduli berapa banyak hadiah yang telah diberikan oleh Count Polli untuk Psyche, nyatanya hal yang paling diingin Psyche bukanlah sebuah barang.
Gadis itu begitu mendamba cinta dan kasih sayang meski sang ayah berada di dalam satu rumah. Tapi Psyche sudah kehilangan peran seorang ayah sejak kecil.
“Nona…” lirih Liana dengan cepat merangkul sosok rapuh yang terus terdiam meskipun air mata tetap mengalir. Tatapan itu kosong, kehilangan cahaya.
Kehilangan Iaros ternyata lebih menyakitkan dibandingkan kasih sayang palsu dari ayahnya.
“Liana.. Bisakah aku meminta bantuanmu kali ini?”
Dalam pelukan Liana Psyche bertanya lirih. Mata yang sempat kehilangan cahaya, secara perlahan mulai kembali terpercik api dendam. Sebuah bentuk rasa cinta yang jauh lebih dalam daripada merelakan adalah dengan menumbuhkan obsesi. Mengambil segala cara dan konsekuensinya demi mempertahankan Iaros. Meski itu berarti Psyche harus menghilangkan nyawa seseorang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine
FanfictionYang orang-orang tahu Pangeran Putra Mahkota Iaros Orona Eperanto sangat mencintai Psyche Polli tunangannya. Dan Medeia Belliard antagonis yang sangat terobsesi dengan tahta dan cinta Iaros. Justru kenyataannya berbanding terbalik dengan faktanya. S...
