ch V

2.6K 258 22
                                        

.
.
.
.

Selamat Membaca

.
.
.
.

Psyche menghela napas sedih. Hati kecilnya begitu terluka mengingat kembali Iaros marah dengannya.

Kenapa?

Padahal kan dia bukan orang asing, dia adalah calon tunangan Iaros. Calon ratu berikutnya bersama Iaros di sisinya.

Bukan pula bawahan Iaros yang harus menunggu dan membuat janji jika ingin bertemu dengan Iaros.

".. Mengapa aku merasa Iaros akan berubah dan meninggalkanku.." bisik Psyche sedih.

Entah mengapa ia memiliki firasat suatu saat nanti Iaros akan meninggalkan dirinya.

Dan itu tidak akan pernah Psyche biarkan terjadi.

.
.

Dekis berjalan menyusuri lorong istana pangeran. Dirinya ingin membahas tentang pengangkatan Medeia menjadi Duchess Belliard.

Mengetuk pintu dengan ukuran rumit tiga kali sampai suara dari dalam mengizinkannya masuk.

"Salam untuk calon Matahari Eperanto,"

" Ada apa? " tanya Iaros tanpa mengalihkan perhatiannya.

"Yang Mulia, Tuan Dekis meminta izin untuk bertemu dengan anda."

Tangan Iaros berhenti sejenak. Menatap ksatria yang berjaga di depan pintu sebentar.

"Suruh dia masuk."

"Baik Pangeran, "

Dekis masuk ke dalam ruangan Iaros yang tengah mengerjakan setumpuk dokumen. Sepertinya kedatangannya kurang tepat waktu jika melihat tumpukan gunung berkas di atas meja sang pangeran.

"Salam untuk calon Matahari Eperanto, Semoga keberkahan selalu menyertai anda, " Dekis membungkuk sebentar.

"Sudah lama aku tidak melihatmu berkunjung ke istana? Ada apa, ada sesuatu yang kau butuhkan dariku Dekis?"

Iaros menatap Dekis, memfokuskan pandangnya pada Tuan Muda Belliard.

Dekis mengangguk pelan, menghampiri meja kerja Iaros. Berdiri beberapa langkah di depan Iaros.

"Ya Pangeran, sebelumnya saya ingin meminta izin pada anda untuk menggunakan aula istana Azure dalam rangka pengangkatan adik saya sebagai Duchess. Dan juga hal itu bertepatan dengan pesta debutante para anak bangsawan yang memasuki usia legal. Maka dari itu saya ingin mengusulkan untuk menggabungkan kedua acara tersebut." pinta Dekis.

Jari telunjuk Iaros mengetuk-ngetuk meja. Mempertimbangkan permintaan sang pujaan hati.

"Sepertinya bukan ide yang buruk. Malah bisa menghemat waktu dan menekan anggaran pengeluaran juga," pikir Iaros, tidak buruk juga ide dari dambaan hatinya ini.

"Baiklah aku mengizinkan penggabungan acara pelantikan Medeia dan pesta Debutante secara bersamaan di istana Azure. Apa kau bisa membantuku mengatur penyelenggaraan tersebut Dekis? "

Tanya Iaros, menghampiri Dekis. Berdiri di depan pemuda serba ungu itu. Menghirup aroma harum dari tubuh yang lebih pendek darinya.

Dekis mendongak sedikit. Menatap iris kelabu sang Pangeran.

"Tentu saja Pangeran saya akan ikut andil membantu menyiapkan segala yang dibutuhkan. Kalau begitu saya izin permisi dulu,"

Dekis mengerjap beberapa kali, bingung dengan keadaan yang menyerangnya secara cepat ini. Kenapa Iaros memeluk dirinya?

MineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang