X

1.8K 212 37
                                        

.
.
.

Happy Reading

.
.
.


Lari. Teruslah lari. 

Psyche menghiraukan siapa saja yang ia tabrak. Menghiraukan cibiran dan ejekan di setiap langkahnya meninggalkan toko. Meninggalkan ratusan surat untuk Iaros tertinggal begitu saja. Tidak tahu dibaca atau malah berakhir di bakar oleh Lady Phantom. 

Napas nya terengah beriringan dengan ketakutan semakin menghampirinya. Berpasang-pasang mata seolah tengah memandangnya bagaikan debu. Memandangnya seolah keberadaan dirinya tak pernah layak untuk hidup di dunia. 

Padahal dulu di kehidupan Psyche kecil hanya ada tawa bahagia di setiap langkah kaki. Hanya ada kehangatan di kala Psyche ketakutan akan gelap. Hanya ada bisikan penenang setiap kali Psyche meringkuk ketakutan akan petir. 

Psyche tumbuh menjadi gadis cantik lugu yang beranggapan semua orang itu sama. Baik bangsawan maupun rakyat biasa, mereka itu sama. Tidak ada perbedaannya. Psyche tumbuh begitu dekat dengan rakyat biasa dibandingkan bangsawan. 

Dia tidak pernah hadir dalam pesta teh para Lady sekalipun itu undangan dari Lady Phantom. Selalu berpikir positif. Dan dengan berkah Dewi Cahaya dirinya mampu menyembuhkan setiap luka orang-orang yang datang kepadanya. 

Dan karena berkah itu pula Psyche terkenal di seantero Kekaisaran Eperanto. Dikenal sebagai gadis baik hati yang mampu bersaing dengan Lady Medeia bahkan keluar sebagai pemenang kandidat calon putri mahkota. Hanya menunggu hari pelantikannya saja. 

Tapi sayang, semua itu adalah dulu. Masa lalu. Karena sekarang Psyche mulai terkenal sebagai Lady yang tidak kompeten. Berani bertindak impulsif dengan menyerang kakak dari Medeia Beliard. Dekis Beliard Alpha muda yang pernah menjabat sebagai kapten batalion yang berperang di garis depan. Berperang di sisi calon matahari Eperanto. Iaros. 

“Hooo—jadi gadis itu melanggar semua hukumannya? Sayang sekali kenapa baru sekarang dia melanggarnya? Harusnya dia melanggar sejak hukuman itu di jatuhkan, itu akan jauh lebih baik.” 

Medeia melepas pena kerjanya. Menatap penuh pada Hellio yang baru saja menyampaikan informasi tersebut. 

“Kali ini apa rencana anda Duchess?” Hellio melihat Medeia seperti tengah berpikir dengan seringai menyeramkan terpoles di bibir menawannya. 

“Untuk sekarang kita lihat dulu sejauh mana gadis itu bertindak. Kita cukup mengawasinya dari jauh tapi—”Medeia mengambil pisau kecil dari laci memainkannya dengan lihai. 

“—Jika sekali lagi gadis itu melukai kakakku meski hanya segores ujung kuku, dengan tanganku sendiri akan kuantarkan nyawanya kehadapan dewa kematian detik itu juga.”

Dengan dingin Medeia menancapkan pisaunya tepat ke potret lukisan Psyche. Medeia masih menyimpan dendam dengan gadis pirang itu. Beraninya putri seorang Count melukai tuan muda Beliard. 

“Aaa benar juga, gadis itu belum mengirim surat permintaan maaf bukan, Halley?”

“Benar Duchess. Lady Poli hanya sibuk menulis surat untuk pangeran Iaros.” Medeia mengangguk kembali menyamankan duduknya. Mengejek bagaimana sebuah perasaan bernama cinta mampu membuat manusia menjadi bodoh. 

“Halley apa kau tengah sibuk sekarang?”

“Tidak Duchess, saya sekarang memiliki waktu luang untuk beberapa minggu kedepan setelah kembali dari invasi ke wilayah barat. Sepertinya Pangeran Iaros tengah kerasukan malaikat sampai memberikan saya libur selama itu.”

MineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang