.
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
.
“Tuan Dekis, ini sudah malam kenapa anda ada diluar? Angin malam tidak baik untuk kesehatan anda Tuan.”
Dekis tetap diam menatap bulan yang bersinar begitu cantik. Ditemani taburan berlian yang berkeliling lembut. Meskipun desiran angin terus menusuk tulangnya, mengingat Dekis tidak mengenakan mantel. Hanya kemeja putih sedikit kebesaran.
“Aku hanya tidak bisa tidur dan memutuskan menghirup udara sebentar. Apa aku mengganggumu?”
“Ahh tidak Tuanku. Bukan maksud saya seperti itu, saya hanya khawatir dengan kesehatan anda dan saya juga tidak ingin dimarahi oleh Duchess Medeia dengan membiarkan anda berada di luar malam-malam.”
Dekis terkekeh ringan mendengar keluhan tak langsung dari Reiz. Pengawal yang bertugas di sekitar kamarnya. Banyak pekerja di mansion Beliard takut terhadap adiknya.
“Baiklah sudah cukup aku berada disini. Aku akan segera kembali dan tidur. Kau juga beristirahatlah.” perintah Dekis berjalan meninggalkan Reiz di belakang.
“Baik Tuan, setelah saya memastikan anda memasuki kamar dengan selamat saya akan segera beristirahat.” sahut Reiz mengekori langkah kaki Dekis. Dia tidak ingin Tuannya Itu tiba-tiba pingsan terserang demam.
Setelah menyaksikan sendiri Dekis memasuki kamarnya, Reiz lekas berbalik pergi meninggalkan kamar Tuannya. Bergantian dengan rekannya yang bertugas berjaga malam.
Baru saja Dekis menyamankan posisi tidurnya, tiba-tiba saja tangan kekar seseorang memeluknya dari belakang. Terlebih napas panas pria itu menerpa lehernya yang terbuka.
“Kenapa malam-malam begini kau keluar sayang? Angin malam tidak bagus untuk tubuh indahmu.”
“Iaros?” panggil Dekis mengusap surai biru gelap sang pangeran yang semakin menyusup di leher jenjangnya.
“.. Hmmm… “ Sahut Iaros mengeratkan pelukannya. Kedua matanya terpejam dengan kaki panjangnya menimpa kaki Dekis.
“Hei.. Kau belum menjawab pertanyaan kuis sayang. Kenapa kau keluar selarut ini dengan kemeja tipis dan berduaan dengan pengawal itu?” Tanya Iaros dengan tangan kirinya bergerak masuk ke dalam kemeja alpha itu.
Kening Dekis mengernyit halus merasakan sensasi dari telapak tangan besar Iaros bergerak secara sensual. Menggoda setiap jengkal yang terlewati terus merambat naik hingga mencapai dadanya.
“Ughhh.. Aku hanya tidak bisa tidur mmhhh.. Hnnhh..”
“Benarkah?” balas Iaros kini membuka matanya dan melihat wajah Dekis mulai memerah. Dengan seringai perlahan muncul tangan Iaros meremas dada berisi Dekis tak lupa memainkan tonjolan merah muda yang perlahan mengeras, mencuat meminta di lahap oleh mulut nakal Iaros.
“Hahh.. I-iya, dan ughh… pengawal itu hanya menjagaku nghhh.. Akhhh Iarosss berhentiihhh..”
Napas Dekis semakin berantakan, bagian bawahnya juga sudah mengeras dengan sentuhan sentuhan Iaros.
Tangan kanan Iaros tak tinggal diam, dengan gerakan cepat membuka kancing celana Dekis dan menurunkan celananya hingga lutut, mengeluarkan adik kecil kesayangannya yang berdiri tegak. Keras. Sama seperti miliknya yang sudah mengeras sejak desahan Dekis menguar, menusuk bokong Dekis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine
FanfictionYang orang-orang tahu Pangeran Putra Mahkota Iaros Orona Eperanto sangat mencintai Psyche Polli tunangannya. Dan Medeia Belliard antagonis yang sangat terobsesi dengan tahta dan cinta Iaros. Justru kenyataannya berbanding terbalik dengan faktanya. S...
