VIII

1.9K 236 76
                                        

.
.
.

Happy reading

.
.
.

"Katakan padaku bagaimana hal ini bisa terjadi?"

Mereka membeku mendengar suara Iaros berbeda dari biasanya. Nada marah terdengar jelas di telinga mereka.

"Maaf Pangeran izinkan saya menjelaskan semua yang terjadi. Sebelumnya saya dan beberapa Lady lainnya tengah berbicara dengan Tuan Dekis meminta saran untuk beberapa rencana kami sebelum melakukan rapat dengan anda, namun tiba-tiba saja Lady Polli menabrak punggung Tuan Dekis dan saya yakin Lady Polli juga menumpahkan sup pada punggung Tuan Dekis, Yang mulia."

Rahang Iaros mengeras. Matanya semakin menggelap. Menatap Psyche dengan kemarahan yang rasanya ingin dirinya semburkan detik itu juga.

Matanya memicing semakin tajam melihat Psyche masih sesunggukan dengan tubuh gemetar. Tetapi tidak ada kata maaf untuk Dekis.

Kesayangannya yang berharga telah terluka dibawah hidungnya. Kekasihnya tercinta harus menjadi korban dari rasa cemburu gadis asing di depannya.

"Sup?" Tanya Iaros rendah. Aura mengintimidasi semakin memenuhi ballroom.  Menyesakkan. Gelap. Itu bukanlah aura Alpha pada umumnya maupun Alpha Dominan.

Itu adalah aura dari sosok yang dianggap telah punah ratusan tahun lalu. Sosok yang diceritakan sebagai legenda bahkan banyak orang hanya menganggapnya sebagai dongeng belaka.

Sang Enigma.

Sebuah entitas kuat yang jauh lebih mengerikan dari pada Alpha. Satu-satunya sosok yang bisa mengendalikan apa saja. Apapun. Sesuai dengan kehendaknya. Layaknya Dewa.

Iaros menghela napas kasar. Kedua tangannya mengepal erat dengan dahi mengerut dalam. Tidak. Tahan dirimu Iaros. Jangan sampai Iaros melepas kendalinya. Dan menghancurkan istana ini.

"Maafkan aku Pangeran, aku tidak sengaja menumpahkan sup pada Dekis," Jelas Psyche masih menangis berharap Iaros segera membantunya.

"Sejak kapan ada sup disini? Aku tidak pernah memerintahkan koki istana untuk membuatkan sup." Desis Iaros. Dan untuk pertama kalinya Iaros memperlihatkan kemarahannya. Didepan mata Bangsawan.

Tanpa membiarkan Psyche membela dirinya lebih lanjut Iaros sudah memerintahkan dua penjaga membawa koki istana untuk menemuinya di ruang kerjanya.

"Kau keterlaluan Psyche Polli. Akan kupastikan kau mendapatkan hukumanmu telah melukai Dekis." Geram Iaros. Setelahnya berbalik memunggungi Psyche. Berhadapan dengan Bangsawan muda yang memperhatikan sebuah drama yang akan memantik rumor tidak mengenakkan.

"Kejadian ini sangat memalukan dan mengecewakan saya. Seharusnya pesta tidak selesai secepat ini, akan tetapi sekarang dikarenakan ada kecelakaan menimpa pada Dekis, pestanya harus di bubarkan lebih awal. Teruntuk para Lady dan Tuan Muda sekalian saya meminta maaf atas keributan ini dan menghentikan pesta sebelum waktunya."

"Kami mengerti Pangeran, anda tidak seharusnya meminta maaf karena itu bukan kesalahan anda. Bukankah seharusnya Lady Polli yang meminta maaf pada kami semua dan tentu saja pada Tuan Dekis?"

Psyche tercengang tak percaya, Iaros tak membelanya sedikit pun. Tidak menenangkannya, tidak memeluknya, tidak mengucapkan sebuah kalimat lembut bahwa itu bukan kesalahannya tetapi sebuah ketidaksengajaan.

Psyche terjatuh kembali dalam jurang kecewa. Kenapa lagi dan lagi dia kembali tidak beruntung? Sebuah kesalahan kah jika dirinya hanya ingin menjadi pendamping Iaros tanpa harus menjadi Ratu? Yang Psyche inginkan hanyalah Iaros. Cinta Iaros. Perhatian Iaros. Kasih sayang Iaros. Bukan tahta ataupun sebuah gelar. Psyche hanya menginginkan diri Iaros. Sesulit itukah?

MineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang