IX

1.8K 219 42
                                        

.
.
.

Happy Reading
.
.
.

"—Dengan ini anda dilarang memasuki istana dalam waktu sebulan. Dilarang keluar rumah meski hanya satu langkah. Dilarang mengirimkan surat kepada Pangeran Iaros. Dilarang muncul di perkumpulan kelas bangsawan. Dan terakhir hukuman dari Duchess Medeia anda harus berlutut meminta maaf kepada Tuan Dekis setelah sebulan dari sekarang."

Psyche jatuh terduduk. Air matanya menggenang tak percaya dengan keputusan hukuman Iaros. Perasaan tidak terima akan kekalahan mengguncang diri Psyche. 

Kesal sekali. Lagi dan lagi dan sekali lagi dia kalah dengan ketidakberdayaan rasa cemburu. Dia tidak bisa bermain cantik. Dia tidak bisa bersikap selayaknya bangsawan. Dia terlalu emosional dan tidak bisa bersikap palsu. 

Count Poli sendiri sudah menduga jika putrinya akan dihukum. Tetapi tak disangkanya hukumannya akan sekejam ini. Ini tidak adil untuk Psyche. 

“Dan ini adalah peringatan terakhir sekali lagi anda melukai Tuan Dekis status anda sebagai calon putri Mahkota akan dicopot. Tertanda Iaros Orna Eperanto. Sekian.”

“Apakah tidak bisa dikurangi hukumannya? Ini tidak adil untuk putri saya Tuan.”

“Saya hanya menyampaikan perintah dari Pangeran Iaros. Dan saya tidak memiliki wewenang dan kewajiban untuk mengurangi masa hukuman Lady Poli. Kalau begitu saya permisi.”

Dua Ksatria itu pergi begitu saja meninggalkan ayah dan anak yang perlahan terjatuh ke jurang. Count Poli tidak terima tentu saja. Bisnisnya bisa terkena dampaknya jika Psyche benar-benar dicabut dari posisi calon putri Mahkota. Itu tidaklah aman untuk keberlangsungan hidupnya. Keberlangsungan nama keluarganya. 

“kesalahan apa yang kau lakukan lagi Psyche? Tidakkah kau bisa mengendalikan rasa cemburu mu itu? Dengan melukai kakak Duchess Medeia itu sama saja membuat leher ayahmu berada di tiang gantung!” Bentak Count Poli. 

Psyche menggeleng keras. Tidak Terima disalahkan begitu saja. Dia sudah melakukan hal yang benar.

“Itu hanya kesalah pahaman ayah. Iarosku di goda lebih dulu oleh Alpha menjijikan itu. Bukan salahku jika aku cemburu dan marah padanya. Dia bahkan dengan berani mencium leher Iaros. Itulah kenapa aku menumpahkan sup kepunggungnya—”

Bunyi tamparan menggema di ruang tamu kediaman count Poli. Begitu keras. Kepala Psyche tertoleh ke kanan dengan paksa. Pupilnya melebar tak percaya. Ayahnya baru saja menampar dirinya? Putri semata wayangnya? Putri kesayangannya? 

“Keterlaluan! Pantas saja Pangeran marah. Apa kau lupa kalau Tuan Dekis itu Kakak Duchess Medeia Beliard. Keturunan Duke yang sangat berpengaruh di Kekaisaran ini? Apa kau lupa itu Psyche? Bagaimana bisa kau—kau—”

Count Poli tak sanggup melanjutkan perkataannya. Amarahnya begitu memuncak hingga tak bisa bersuara sehingga memilih diam dan pergi begitu saja meninggalkan Psyche. 

“Argggg sialan kau Dekis Beliard. Kenapa kau harus muncul di saat yang tidak tepat seperti sekarang?!”

Di kamar sang Pangeran, Dekis akhirnya mulai membuka mata kembali. Iris ungu seindah bunga Lavender mengerjap lesu. Demamnya sudah mulai menurun meski masih terasa panas. Setidaknya lebih baik dari semalam. 

Alis Dekis mengerut samar melihat dada bidang Iaros begitu dekat dengannya. Beberapa detik setelahnya Dekis baru saja menyadari kalau mereka berdua dalam kondisi bertelanjang dada. 

“Pangeran—Pangeran bisakah anda bangun sebentar?”

Dekis berusaha mendorong dekapan tangan Iaros yang melilit bagaikan ular membelit mangsanya. 

MineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang