.
.
.
Happy reading
.
.
.
Medeia berdiri di depan pintu gerbang Mansion Beliard. Mengantarkan kepergian murid kesayangannya.
“Baiklah saya pamit dulu Duchess Medeia dan saya harap anda menjaga kesehatan anda. Musim dingin akan tiba sebentar lagi.”
“Aaa, tentu saja. Begitu juga denganmu Halley, jaga diri baik-baik jangan sampai aku mendengar kau terluka. Sebab jika itu terjadi aku sendiri yang akan menyeret Kardinal narsis itu ke perapian..”
Hellio tersenyum kecil membungkuk sebentar lalu memacu kudanya menghampiri Pheron yang sudah menantinya tak jauh dari gerbang. Berpacu dengan waktu menuju ke arah timur.
Akankah misi ini berjalan dengan baik? Ataukah sang dewa justru akan mempermainkan dua orang asing yang mulai saling terhubung dengan tali takdir entah itu berakhir bahagia atau berakhir kesedihan tak berujung.
Bias sinar mentari masuk perlahan menerangi kamar gelap di salah satu mansion Beliard. Suasana dingin perlahan menghangat membangunkan satu sosok yang mulai terjaga.
Iaros orang pertama yang terbangun dan menyadari dirinya masih berada di dalam kamar Dekis. Keningnya mengernyit samar ketika mengingat tumpukan pekerjaan diatas mejanya sudah menggunung menunggu belaian tangannya. Dan pasti asistennya juga sudah menangis dari kemarin.
Dekis menggeliat samar, semakin mendusal ke leher Iaros. Memberi efek geli terhadap diri Iaros. Ini tidaklah baik sebab bagian bawahnya juga ikut mulai bereaksi.
“Sayang ayo bangun, sudah pagi ini aku harus segera kembali..” Bisik Iaros lembut di telinga kiri Dekis. Tangannya memainkan helaian rambut Dekis menyampaikan poni yang menjuntai menutupi dahi.
Hanya gumaman lirih yang di dapat. Iaros semakin semangat mengerjai kekasihnya ini. Lidah panasnya terjulur mengulum daun telinga Dekis. Menggigit kecil membuat Dekis bergerak tak nyaman.
“Ughhh.. Iaros berhenti.. Nghhh.. jangan mengganggu tidurku.” keluh Dekis tapi tetap tak kunjung bangun.
“Bangun sayang. Aku tidak akan berhenti sebelum dirimu terbangun.”
Iaros kembali menjilati leher Dekis kemudian menghisapnya membuat tanda merah di sana bukan hanya satu tapi ada 5 sekaligus. Berderet menuju belakang telinga.
Tangannya juga tak ketinggalan menyusup kedalam kemeja Dekis. Mengusap perut datanya dengan sensual menjalar ke bagian pinggang menari dengan irama membawa panas semakin turun menyusup kedalam celana Dekis dan bermain dengan pipi bokong Dekis yang halus. Meremasnya sensual, kuat sesekali menamparnya.
“Nghhh.. Ckkk.. iya iya aku bangun sekarang jadi berhentilah berbuat mesum di pagi hari Iaros.” Dengus Dekis menahan erangan di pagi hari itu tidak mengenakkan. Tangannya dengan kesal mencoba mendorong kepala Iaros yang kini menjelajahi dadanya. Bermain-main dengan puting dadanya lalu menghisapnya bagaikan bayi kelaparan.
“Ngghhh Iaros.. ughhh berhentihh..”
Wajah Dekis perlahan memerah akibat rangsangan Iaros. Kedua alisnya hampir menyatu dengan mata mulai berkaca-kaca. Tangan yang tadinya mendorong kepala Iaros kini semakin menekan. Membuat hisapan Iaros di puting dadanya semakin kuat. Begitu juga Ramadan tangan nakal Iaros di bokongnya semakin kuat.
“Hahhh Iaros.. Mmhh berhentihh kuhh mohon akhhh..”
Iaros melepaskan kulumannya di dada kesayangannya dengan terkekeh. Mulut manis Dekis berkata tidak tetapi tubuhnya berkata lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine
FanfictionYang orang-orang tahu Pangeran Putra Mahkota Iaros Orona Eperanto sangat mencintai Psyche Polli tunangannya. Dan Medeia Belliard antagonis yang sangat terobsesi dengan tahta dan cinta Iaros. Justru kenyataannya berbanding terbalik dengan faktanya. S...
