Kisah cinta Rakandra Danendra atau yang biasa di kenal dengan nama Raka, selebgram yang humble. Di pertemukan dengan Sky, cewek pindahan Jakarta yang cuek dan introvert.
Awalnya Raka hanya penasaran sama Sky namun rasa penasaran itu berubah menjadi...
"Hidup kita sudah ditentukan oleh garis takdir,sekeras apapun kita berusaha jika memang bukan ditakdirkan untuk kita,maka itu hanya akan menjadi kenangan dari bagian perjalanan hidup kita" • • •
Matahari mulai turun perlahan, tenggelam di balik cakrawala dengan anggun yang nyaris tak terdengar. Langit sore itu seperti kanvas hidup, menampilkan gradasi warna yang menakjubkan—dari biru lembut, bergeser ke jingga hangat yang memeluk lanskap.
Raka dan Sky berdiri di rooftop fakultas, membiarkan angin pegal menyapu lembut wajah mereka. Di atas gedung Universitas Palapa Jogjakarta itu, semuanya terasa lebih tenang.
Sky memejamkan mata sejenak, lalu menatap langit lagi dengan penuh kekaguman. "Tuhan benar-benar seniman,"gumamnya dalam hati. Pemandangan ini... sisi dunia seolah-olah sedang berhenti sejenak hanya untuk pajangan terindahnya.
Dan di tempatnya, Raka hanya diam, matanya tak lepas dari Sky—karena bagi Raka, keindahan langit sore itu tidak mampu mengalahkan kecantikan Sky Valstaria.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Matahari perlahan turun dari singgasananya, menyapu langit dengan warna keemasan yang memukau. Tapi keindahan "magic hour" hari ini gagal menyejukkan dua hati yang tengah bertempur melawan keegoisan masing-masing.
Raka dan Sky berdiri di rooftop fakultas, tempat yang dulunya penuh tawa, kini terasa terlalu sunyi. Di antara hembusan angin dan langit yang berubah warna, tak ada kata yang terucap sejak lima belas menit lalu. Mereka hanya diam, saling menatap tanpa tahu harus mulai dari mana. Ada luka yang terlalu dalam untuk dijelaskan dengan kalimat biasa.
Raka melangkah maju, menyamakan posisinya dengan Sky. Ia menoleh, menatap gadis yang setahun terakhir mengisi hari-harinya. Banyak kenangan indah yang mereka ukir di sini, banyak tantangan yang berhasil mereka lewati bersama. Namun tampaknya, semesta kembali menguji mereka. Atau mungkin ini, pertanda untuk berhenti.
Mereka telah melupakan satu hal besar yang sejak awal mereka abaikan: perbedaan keyakinan. Entah ini ujian dari Sang Pencipta, atau bentuk pengingat bahwa cinta tidak selalu cukup.
Lelah. Itu satu kata yang menggambarkan perasaan Sky. Bukan mereka—hanya Sky. Cewek yang selama ini kekasih menjadi Rakandra Danendra kini berdiri di batas akhir kesabarannya. Ia ingin mengakhiri semuanya. Bukan karena tak cinta, tapi justru karena ia terlalu mencintai—dan tak ingin cinta itu berubah jadi luka yang lebih besar.
Dengan suara yang bergetar namun sarat akan tekad yang bulat, Sky akhirnya mengucap kalimat yang terasa bagai petir di siang bolong, "Ayo akhiri hubungan ini." Kata-kata itu meluncur bagai anak panah yang menghujam tepat di jantung kebersamaan mereka, menandakan sebuah keputusan final dalam hubungan mereka.
Raka menarik napas panjang. "Harus banget ngambil keputusan seperti ini, hm?" tanyanya dengan suara rendah yang berusaha tetap tenang.
"Iya," jawab Sky cepat, suaranya tajam namun gemetar. "Gua rasa ini jalan terbaik buat kita berdua. Lu pernah mikir gak sih? Hubungan ini mau dibawa ke mana? Ending-nya mau di Gereja atau Masjid?"