Chapter 40- Penjara

137 69 32
                                        


Happy Reading ♥



JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN YA👉🏻

JANGAN LUPA FOLLOW AKUN
👇
IG: @aphroditee05

TIKTOK: @aphroditee579

Thankyou🍂


Di dalam gubuk tua itu, Sky mulai sadar. Tubuhnya terasa berat, darah mengering di pelipis, dan suara jangkrik di luar hanya membuat rasa sunyi makin pekat. Levi melangkah mendekati Sky, nafasnya memburu, peluh bercampur darah menetes dari dahinya.

Ia duduk menatap Sky yang terikat lemah di sudut ruangan.

"Shh.." lirih Sky, perlahan namun pasti hazel coklat itu menyesuaikan cahaya yang masuk dalam penglihatannya.

Levi mengambil kursi dan duduk di sudut ruangan, menatap tajam. "Akhirnya bangun juga."

Sky berusaha menopang tubuhnya yang remuk agar bisa bersadar di tempat tidur yang sudah using. "L-lu p-pikir dengan lu ngelakuin ini semua, bakal bikin kita balikan seperti dulu?" tanya Sky dengan terus menahan sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya. "L-lu sepertinya gak kenal gua. Sky yang dulu, udah mati," lanjutnya.

Levi terkekeh pelan, ia bangkit dari kursi dan berjalan mendekati Sky. Ia menganggkat dagu Sky hingga kedua matanya saling menatap bahkan karena jaraknya sangat dekat, Sky dapat merasakan aura yang begitu mencekam.

Levi kemudian mundur, memberi jarak antar mereka berdua, hingga—

Plak

Satu tamparan itu berhasil mendarat di pipi mulus Sky.

Sakit.

Sky saat ini terlihat begitu menyedihkan.

Levi mencengkeram rambut Sky dengan brutal, menarik paksa kepalanya agar menatap langsung ke wajah bengisnya. Napasnya kasar, penuh nafsu dan kemarahan. "Sepertinya gua terlalu baik sama lu, sayang," desisnya rendah, diiringi kekehan jahat yang membekukan darah. Matanya menyala dalam kegelapan, haus akan kuasa.

Levi mencengkeram hoodie Sky, merobeknya paksa hingga hanya menyisakan tank top hitam yang melekat di tubuhnya. Ia tertawa, puas atas penderitaan di wajah Sky, yang kini menjerit tertahan, tubuhnya gemetar.

Tangan kotor itu merayap ke kulit Sky yang pucat dan bergetar. Jemarinya menyusuri dengan cara yang membuat udara di sekeliling terasa dingin menusuk. "Tubuh lu memabukkan, Sky. Cocok banget buat ngandung anak gua."

Sky menggertakkan gigi, air mata bercucuran tanpa henti di pipinya. "Jauhin tangan lu, Levi! Demi Tuhan, gua sumpah—berani lu nyentuh gua, Raka gak bakal biarin lu hidup tenang!" Suaranya serak, namun penuh amarah dan ketakutan yang nyata.

Namun ada satu hal yang Levi tak tahu—yang tak pernah ia duga.

Liontin kecil di leher Sky—tidak sekadar aksesoris. Di dalamnya, tersembunyi kamera kecil yang merekam tiap desisan busuk, sentuhan menjijikkan, terekam dengan sempurna.

Bukti nyata dari teror yang pasti akan memberatkan Levi di penjara.

Brak

Pintu gubuk didobrak paksa. Cahaya senter menyapu ruangan, diikuti oleh suara teriakan:

"LEPASIN CEWEK GUA ATAU HARI INI TERAKHIR LU GUNAKAN TANGAN LU!" bentak Raka dengan emosi dan nafas yang menggebu-gebu.

Raka menerobos masuk bersama Dion, Angga, El, Bumi, dan Levin—semuanya dengan wajah penuh amarah. Di belakang mereka, polisi bersenjata lengkap mengepung gubuk.

RAKASKY  || TERBITTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang