"Hahahaha...," Salsa akhirnya tertawa hambar mendengar jawaban Nanda setelah mereka terdiam beberapa saat. Matanya melirik dua pengunjung di sebelah mereka yang tersenyum-senyum geli. Seperti tidak ingin mengganggu momen mereka saat ini. "Ya kalau nggak suka berarti saya dipecat dong, Pak?"
"Nggak dong. Kalau kamu dipecat terus saya kangen gimana?"
Salsa meneguk ludah. Opo seeehhhhhh bosku iki?!
"Pak, ini bulan September."
"Terus?"
"Ini bukan April Mop."
"Siapa bilang—kamu pikir saya bercanda?" terdengar tidak terima, Nanda berbalik menghadap Salsa seutuhnya. Memindah satu kakinya sehingga ia duduk seperti sedang menunggang kuda. Salsa mundur beberapa senti karena canggung. Dia baru sadar kalau mereka duduk bersebelahan, bukannya berhadap-hadapan seperti dua pengunjung di sebelah mereka. Salsa yakin pipinya juga sudah memerah karena dia bisa merasakan panas di seluruh wajahnya.
"Pak, jangan gitu, dong. Bercandanya kayak biasa aja,"
"Saya nggak bercanda?!"
Salsa terdiam. Benar-benar kikuk di pojok kursi panjang itu.
"Coba ini lihat dua mata saya—" seperti tidak mau tahu dengan kecanggungan Salsa, Nanda mendekatkan wajahnya. Salsa menahan napas. "Tuh, kelihatan bohong nggak?"
Ya Tuhan, ini otak saya kok tiba-tiba nggak jalan, ya? Salsa mengeluh dalam hati. Berusaha menghalau wangi tubuh Nanda yang khas dan sempat mampir ke indera penciumannya sebelum menahan napas.
"Mas. Jadi makan, nggak?" pelayan tadi sudah kembali ke meja mereka, membawa dua minuman untuk Nanda dan Salsa. Suaranya datar, tapi ada nada kesal seperti mengancam di suaranya.
Nanda tersenyum manis, mengedipkan satu mata, lalu menjauhkan wajahnya dari wajah Salsa. "Jadi, kok. Maaf, ini lagi inspeksi katanya tadi dia kelilipan," jawab Nanda, asal. Pelayan itu mengangkat dua alisnya, seolah tak percaya. Dua pengunjung di sebelah mereka terkikik kecil.
Ya Tuhan, saya nggak pernah misuhin Pak Nanda karena selama ini beliau bos yang baik. Tapi sehari ini saja boleh, nggak, saya sumpahin dia sepuasnya?
Salsa sedikit terengah setelah menghembuskan napas. Gila, rasanya baru kali ini dia tidak bisa mengontrol emosinya begini. Degup jantungnya seperti baru diajak maraton tanpa istirahat.
Nanda menyodorkan minuman milik Salsa ke depan Salsa. Sementara dia dengan santai meneguk minumannya sendiri.
"Minum dulu, Sal. Kok kayak orang nggak minum sebulan gitu," Nanda cengengesan tanpa dosa. Sama sekali tidak terganggu dengan ekspresi Salsa yang horor. Meski begitu, dia masih saja menatap Salsa sampai Salsa memilih untuk fokus pada minumannya. Untuk sesaat, Salsa bisa menikmati dingin minumannya menyapa tenggorokannya yang mendadak terasa kering.
"Krunci kamu mana?" tanya Nanda.
Salsa menoleh bingung. "Krunci?"
"Itu lho, yang—" Nanda menyapu rambut panjang Salsa agar tidak menutup wajahnya. Dengan gerakan perlahan, jarinya mengusap rambut Salsa dan menyelipkan helai-helainya ke belakang bahu gadis itu. Salsa membatu, kembali menahan napasnya. "—ikat rambut kamu itu? Ketinggalan di kantor?"
Oh. Scrunchie.
"Scrunchie, Pak."
"Oh iya. Scrunchie. Nggak bawa?"
Salsa meraih benda yang dimaksud dari saku celananya. Tanpa kata, ia mulai menjalin rambutnya untuk ia ikat.
"Nah, gitu dong. Kan saya jadi bisa ngelihat wajah kamu,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Entrance No Exit
RomanceSudah bekerja untuknya hampir dua tahun, tapi baru sekarang Nanda merasakan ketertarikan pada Salsa, karyawannya yang kalem dan cekatan. Namun siapa sangka, di balik ketenangan Salsa, gadis yang delapan tahun lebih muda dari Nanda itu menyimpan bada...
