cw: panic attack
Roda kehidupan itu berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Itu kan, yang sering kita semua dengar?
Untuk Salsa, dia sudah sangat kenyang berada di bawah. Sampai-sampai dia berpikir hari-harinya selama beberapa bulan terakhir ini adalah mimpi. Hari-harinya beberapa waktu ini, seperti membuatnya melayang tinggi.
Tapi sepertinya Salsa harus kembali pada kenyataan bahwa hidupnya itu lebih pantas berada di bawah. Sudah cukup masanya bersenang-senang di atas. Sudah cukup masanya main-main. Sudah waktunya dia kembali pada realita yang menunggunya.
Hanya butuh satu telepon. Satu panggilan telepon.
Dan dunia Salsa seakan runtuh saat itu juga.
***
"Kamu bisa hubungin Salsa, nggak, Mbak?" Nanda bertanya panik pada Mbak Lita lewat telepon sore itu. "Kok udah tiga hari ini dia nggak masuk? Udah izin sih, katanya pulang ke Madiun, tapi aku telepon dan chat nggak pernah diangkat."
"Oh, ya? Kemarin masih sempat chat aku buat follow up kepastian Natasha-Charles, sih. Kupikir dia izin WFH karena lagi pulang ke Madiun. Chat kamu nggak dibalas?"
"Kalau dibalas aku nggak mungkin tanya, Mbak Lit," Nanda menyugar rambutnya frustasi.
"Kamu salah ngomong apa gitu?"
Nanda mendesah lelah. "Kayaknya nggak, deh. Terakhir kami ngobrol biasa kok, aku cerita tentang kerjaan, dia juga tanggapannya nggak aneh. Malah ikut bercanda. Tahu-tahu paginya izin nggak masuk kerja karena mau ke Madiun."
"Dia nggak bilang alasannya apa?"
"Dia cuma bilang ada urusan keluarga yang urgent. Ya masa aku larang?"
"Kamu nggak nawarin buat nganter dia?"
"Aku ada jadwal ke Bali, Mbak. Ini masih di jalan—" Nanda mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Jalanan Jakarta yang macet di jam pulang kantor. "Ke studio Jakarta, baru balik Malang besok. Aku tanya Eliz katanya Salsa masih nggak masuk kantor."
"Kamu nggak cek ada kerjaan dia yang miss atau gimana?"
"Aku cek email ke klien, dia masih respon, kok. Nggak tahu kalau chat, ya. Di grup juga dia nggak balas. Cuma update jadwal di kalender."
"Coba nanti aku yang chat atau telepon, ya, Nda. Kamu ngapain ke studio Jakarta malam begini?"
"Lantai tiga kan lagi direnov, Mbak. Aku mau lihat progress-nya aja. Soalnya bulan ini jadwalku padat buat wedding dan prewed."
"Oh. Tapi.. kira-kira ada waktu nggak, Nda, buat nyusul ke Madiun?"
Nanda terdiam sejenak mendengar pertanyaan Mbak Lita. "Apa selalu seserius ini kalau dia pulang ke Madiun?"
Mbak Lita menghela napas panjang di ujung telepon sana. "Nggak selalu, tapi ya seringnya begitu. Kamu belum diceritain Salsa apa-apa?"
"Salsa cerita sedikit sih. Dia cerita kalau Ibunya udah meninggal. Punya adik udah SMA. Bapaknya nggak kerja. Makanya dia yang merantau dan kerja, harus rutin kirim uang untuk keluarganya."
"Oh...,"
"Kenapa, memangnya, Mbak?"
"Aku tahu ini bukan tempatku cerita, Nda, tapi kayaknya kamu perlu nyusul ke Madiun untuk tahu gimana asal muasal Salsa. She's in a tough spot. Aku pernah nemuin dia di kantor kena panic attack setelah nerima telepon dari adiknya. Waktu itu hari Sabtu, kayaknya kalian banyak yang ngejob, jadi cuma ada dia di kantor. Dia minta aku nggak cerita siapapun waktu itu. Tapi sepertinya sekarang kamu perlu tahu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Entrance No Exit
Storie d'amoreSudah bekerja untuknya hampir dua tahun, tapi baru sekarang Nanda merasakan ketertarikan pada Salsa, karyawannya yang kalem dan cekatan. Namun siapa sangka, di balik ketenangan Salsa, gadis yang delapan tahun lebih muda dari Nanda itu menyimpan bada...
