cw: cursing, food, bahasa jawa
"Salsa, ya?"
Nanda menggumam tanpa melepaskan pandangan dari ponsel di tangannya.
"Apa Bos?" jawab orang yang ditanya di sebelahnya, sedikit acuh, karena sibuk pula dengan gim di ponselnya.
"Admin kita itu namanya Salsa, kan?"
Kenzo mengerutkan kening. "Bang, dulu lu yang wawancara dia, masa lu lupa? Udah hampir setahun juga dia kerja di sini Bang. Payah lu."
Nanda melengos. Agak ngeselin ya, kalau anak buah nggak punya rasa hormat sama atasan? Tapi Nanda tak bisa berlaku apa-apa karena sejak awal memang dialah yang menciptakan suasana kantor agar terasa seperti area bermain dan bertumbuh bersama. Mirip TK.
"Garek njawab ae lho, Caaaah!" (tinggal jawab aja loh, bocah)
Kenzo terkikik mendengar jawaban Nanda.
"Lu juga ngapain tiba-tiba nanyain Salsa? Mau dipecat anaknya? Jangan, Bang!"
"Mbok pikir (menurutmu)!!" Nanda mendengus. "Yang menyelamatkan klien potensial tadi itu Salsa, yo. Kalian mek iso plonga-plongo. (yang menyelamatkan klien potensial tadi itu Salsa, ya. Kalian hanya bisa bengong)"
Kenzo menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil tersenyum salah tingkah. "Padahal teorinya tuh udah ada di kepala, Bang. Tapi pas ditanya-tanyain langsung tuh jadi bingung harus mulai dari mana." Dia beralasan. Nanda menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau Mbak Lita tau, kalian yang digoreng sama dia,"
"Sebenernya yang bos itu lu atau Mbak Lita sih? Mbak Lita lebih galak dah daripada lu,"
"Kalian takut sama dia karena dia yang bagiin gaji kalian. Padahal kalau nggak tak ACC yo kalian nggak dapet gaji. Ancene kalian wae sing gak duwe wedi karo aku (emang dasar kalian aja yang nggak punya takut sama aku)."
Kenzo terbahak kali ini. Ia sampai rela menghentikan permainannya untuk menepuk-nepuk pundak Nanda, merasa terhibur dengan tingkah bosnya itu. Nanda mendelik kesal, balas memukul pundak Kenzo dengan lebih lembut.
"Lara iki Caaah (sakit ini bocah)!"
Kenzo masih tertawa dan terus meneruskan usaha meledek. "Lu ngomong begitu kayak bisep lu nggak segede paha gua,"
"Paha gua, paha gua. Pupumu iku sak gapuro ngono (pahamu itu kayak gapura)."
"Ih, body shaming lu Bang!"
"Ken, aku pusing ngomong sama kamu." Nanda menyerah, ia kembali menekuri video kucing di youtube yang sedang ditontonnya.
"Jangan dipecat lah Bang, anaknya," Kenzo lagi-lagi memperingatkan.
"Udah dibilang mana mungkin aku pecat, Keeen. Dia lebih capable daripada kalian semua digabung!"
"Hehehehe,"
"Lagian kenapa emangnya kok nggak boleh dipecat?"
Kenzo merenung sesaat. Menimbang-nimbang kata. "Cewek tuh biasanya suka hal-hal yang lucu gitu nggak sih, Bang? Dan perhatian banget sama penampilan?"
"Terus? Kaitane karo Salsa opo (hubungannya sama Salsa apaan)?"
"No offense, tapi sepatu dia buluk banget. Mana sepatu yang dia pakai ke kantor dan yang dia pakai ke kondangan nikahan Fiona tuh sama."
KAMU SEDANG MEMBACA
Entrance No Exit
RomanceSudah bekerja untuknya hampir dua tahun, tapi baru sekarang Nanda merasakan ketertarikan pada Salsa, karyawannya yang kalem dan cekatan. Namun siapa sangka, di balik ketenangan Salsa, gadis yang delapan tahun lebih muda dari Nanda itu menyimpan bada...
