"Selamat siang. Dengan Pak Nanda?"
"Siang. Betul, saya Nanda. Silahkan duduk. Salsabila?"
"Betul, Pak. Salsa."
"Mau pesan minum apa?"
"Apa saja, Pak."
"Iced tea?"
"Boleh, Pak. Terima kasih."
"Oke, Salsa. Bisa perkenalkan diri dan jelaskan pengalaman kerja kamu secara singkat?"
"Nama saya Salsabila Puspita, biasa dipanggil Salsa. Saya lulus kuliah dua tahun lalu. Sebelum apply di sini, saya bekerja di sebuah kafe sebagai staff admin. Tadinya saya bekerja sebagai waitress di tempat yang sama sejak kuliah, lalu diangkat menjadi admin setelah saya lulus kuliah."
"Alasan berhenti bekerja?"
"Karena... kafenya tutup, Pak."
"Oh. Sudah lama tutupnya?"
"Sejak sebulan yang lalu secara resmi semua karyawan diberhentikan, Pak."
"Terus kamu melamar kerja di sini?"
"Betul, Pak."
"Apa alasan kamu tertarik bekerja di sini?"
"Saya memiliki pengalaman bekerja sebagai admin, sesuai dengan pekerjaan yang ditawarkan kantor Bapak. Saya percaya diri bisa menghandle pekerjaan yang diberikan pada saya. Saya juga suka design poster lowongan kerjanya."
"Kenapa suka?"
"To the point. Font-nya jelas."
"Terus?"
"Terus... saya tertarik, Pak."
"Hmm. Oke kalau begitu. Sekarang kamu tinggal di mana?"
"Saya kos di daerah Sumbersari, Pak."
"Oh, kamu kos? Asalnya dari mana?"
"Madiun, Pak."
"Lumayan jauh juga, ya. Punya jadwal pulang atau mudik setiap bulan?"
"Setiap dua bulan sekali, Pak. Tidak tentu, Pak."
"Hmm. Kalau misalnya kantor meminta kamu lembur di hari libur, kamu keberatan atau tidak? Tentunya ada fee tambahan untuk lembur di luar hari kerja."
"Bersedia, Pak."
"Orang tua nggak protes?"
"Orang tua saya mendukung saya bekerja, Pak."
"Studio kami ada di daerah Suhat, sih. Nggak terlalu jauh kan ya, dari Sumbersari. Kamu ke sini naik apa? Untuk transport sehari-hari? Ada motor?"
"Ada, Pak."
"Oke. Kalau range gaji, kamu bersedia menerima kisaran angka UMK Malang? Itu berlaku setelah masa probation satu bulan. Untuk bulan pertama, gajinya dipotong 500 ribu dari gaji tetap. Akan ada bonus tahunan setelah satu tahun bekerja, ada THR juga. Untuk BPJS, saat ini masih diusahakan. Untuk sakit yang ringan, kantor bersedia membantu. Kamu punya riwayat sakit?"
"Tidak ada, Pak."
"Gajinya? Oke?"
"Saya bersedia digaji sesuai kebijakan kantor."
"Oke. Mungkin kamu ada pertanyaan?"
"Tidak ada, Pak."
"Nggak ingin tanya jobdesk kamu?"
"...."
"Saya jelaskan singkat aja, ya. Tugas kamu secara umum menghandle email dan chat dari klien, memeriksa jadwal fotografer dan videografer, membantu back-up data, dan kalau bisa sih mengurus itinerary dan mencari tahu ketersediaan beberapa lokasi untuk photoshoot. Sebenernya job kamu sebelumnya ditangani manajer marketing dan keuangan kami, tapi dia nggak bisa all out karena baru melahirkan anak kedua. Apalagi studio kami udah semakin besar, jumlah staff juga bertambah. Jadi agak keteteran, apalagi saya juga nggak selalu available di kantor. Kira-kira bisa nggak, dengan job desk seperti itu? Namanya klien ya, nggak selamanya mereka manut, kadang-kadang rewel banget. Saya butuh orang yang sabar dan bisa tegas tapi tetap lemah lembut sama klien. Gimana Salsa?"
"Saya siap, Pak."
"Kalau gitu, bisa kapan mulai bekerja? Karena saya juga butuh cepat. Kamis besok bisa?"
"Bisa, Pak."
"Oke kalau begitu. Saya tunggu kedatangannya di kantor. Sudah tau alamatnya?"
"Seperti yang tertera di poster loker itu ya, Pak?"
"Iya betul. Kalau kamu bisa langsung masuk hari Kamis, jam kerjanya dari jam sembilan sampai jam lima. Untuk hari Sabtu, sebenarnya bebas aja ngantor atau nggak. Tapi saya harap kamu bisa ke kantor, sih. Setengah hari aja, dari jam sepuluh sampai jam satu siang. Gimana?"
"Siap, Pak."
"Oke kalau gitu. Sampai ketemu hari Kamis, ya. Nanti saya minta Mbak Lita untuk full ngajarin kamu langsung."
"Baik, Pak Nanda. Terima kasih banyak."
"Oke, Salsa. Semoga betah ya kerja bareng kami. Kamu langsung balik kos?"
"Sepertinya begitu, Pak."
"Sudah jam makan siang—makan dulu aja nggak apa-apa. Pesan aja, nanti bill-nya saya yang cover. Pemilik kafenya teman saya, kok."
"...."
"Nggak sama saya, Sal. Saya mau meeting ke tempat lain. Kamu pesan aja ya. Dibungkung juga nggak apa-apa. Saya juga dulu ngekos, jadi tau gimana rasanya jadi anak kos."
"Maaf merepotkan, Pak...,"
"Nggak repot, tenang aja. Chinese food di sini enak-enak."
"Terima kasih banyak, Pak...,"
"It's okay. Sampai ketemu hari Kamis, ya."
"Baik, Pak."
Salsa menatap punggung Nanda yang semakin jauh. Sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu, laki-laki itu menghampiri meja kasir dan mengatakan sesuatu sambil menunjuk meja tempat ia duduk. Kasir itu mengangguk-angguk, lalu mengacungkan jempol pada Nanda yang tertawa. Ini beneran ditraktir? Bukan malah disuruh bayar?
Seorang waiter menghampiri mejanya, membawa sebuah buku menu. Salsa meneguk ludah. Was-was dia benar-benar diminta membayar, sementara uang di dompetnya hanya tinggal selembar kertas berwarna biru.
"Mas Nanda yang bayar nanti, Mbak. Silahkan kalau mau pesan. Makan di sini atau take away?"
Salsa menahan diri untuk tidak bersorak gembira dan sujud syukur saat itu juga. Norak banget nggak sih, kalau bereaksi berlebihan begini? Ini kali pertama Salsa datang untuk interview kerja dan malah ditraktir makan di sebuah kafe yang—menurutnya—mahal.
Salsa meraih buku menu yang diangsurkan waiter di hadapannya. Ia terharu karena baru kali ini dia memesan dan membeli sesuatu tanpa harus melihat bagian sebelah kanan di buku menu. Namun dia cukup tau diri. Dia akhirnya menyebutkan menu nasi goreng pedas untuk dibungkus.
Dalam hati ia berdoa, semoga calon kantornya kali ini benar-benar bisa memperlakukannya layaknya manusia. Karena Salsa tidak akan ragu memberi dedikasi untuk seorang pemimpin yang begitu berbaik hati padanya pada pertemuan pertama.
***
Author note:
Hello, masih belum tidur kah? Wkwkwk. Sampai ketemu dengan calm gf x chaotic bf ini. :)) Padahal Pak Nanda usianya jauh di atas Dik Salsa. Tapi ya gimanaaaaaa Pak Nanda berjiwa muda mainnya sama anak-anak tengil wakakakak.
Btw itu dialognya sederhana banget, aslinya kalau lagi interview.... T_T *menyerah*. Kalau ini dibawa ke temen-temen HRD mungkin pada ketawa sadis.
Aaaaanyway. God bless untuk mantan kantorku yang pas interview malah ngasih nasi padang + roti (YES IT'S REAL, PEOPLE).
KAMU SEDANG MEMBACA
Entrance No Exit
RomanceSudah bekerja untuknya hampir dua tahun, tapi baru sekarang Nanda merasakan ketertarikan pada Salsa, karyawannya yang kalem dan cekatan. Namun siapa sangka, di balik ketenangan Salsa, gadis yang delapan tahun lebih muda dari Nanda itu menyimpan bada...
