Chapter 9: Tengkleng Di Meja Makan

2.2K 338 48
                                        



Nanda tahu, kabur sama sekali bukan cara yang gentleman. Dia juga sudah dewasa—lihat itu, sahabatnya saja sudah punya putri kecil yang cantik—masa dia masih memilih bertindak kekanakan dengan menghindari Salsa begini?

Sebelum terbang ke Sumba, dia menyempatkan diri mengantar oleh-oleh ke kantor. Tentu saja kedatangannya—bersama oleh-oleh itu—disambut dengan sukacita. Namun ekspresi mereka perlahan berubah ketika melihat Nanda. Mereka berterima kasih dengan wajah yang memancarkan ragu. Sepertinya mereka bisa melihat bagaimana buruknya keadaan Nanda saat itu.

"Mbak Salsa nggak kenapa-napa kan, Pak?" tanya Eliz, sedikit panik. Nah, kan. Bukannya tanya kabar bosnya ini, dia malah tanya kondisi Salsa. Seolah dia tahu bahwa keadaan buruk Nanda ini pasti karena melihat kondisi Salsa yang sedang buruk.

"Nggak. Adiknya yang masih dirawat di rumah sakit, tapi udah membaik. Besok atau lusa kayaknya dia udah ngantor, kok," jawab Nanda tak acuh. Eliz menghembuskan napas lega. Tapi keningnya masih berkerut.

"Pak Nanda... sakit?"

Nanda tersenyum kecut. "Kenapa?"

"Kayak agak pucat gitu, deh. Ya nggak, guys?" ia meminta persetujuan Hidam, Moses, Arjun, dan Raia yang memang sedang di kantor. Gazi dan Kenzo sedang ada job memotret. Mbak Lita sepertinya masih bertemu klien di luar. Teman-temannya itu mengangguk setuju. "Terus matanya bengkak—Pak Nanda habis nangis?!"

Sedikit banyak, Nanda sebenarnya bersyukur tidak ada Kenzo, Mbak Lita, atau Gazi di sini. Karena kalau mereka bertiga yang melihat kondisi Nanda, sepertinya mereka akan segera menginterogasi Nanda di ruangan tertutup.

Nanda tertawa kecil. "Capek aja ini, Eliza. Udah ya, utangku lunas, lho. Bagi-bagi juga sama Mbak Lita, Kenzo, Gazi. Pak Firman dan Pak Cakra juga," Nanda tak lupa menyebutkan nama satpam dan petugas kebersihan yang hanya datang di jam pulang kantor. "Wis rek, aku langsung berangkat. Dahhh!" Nanda melambaikan tangan, mengabaikan pandangan ragu dari karyawan-karyawannya itu.

Di dalam mobil, Nanda memijat keningnya yang terasa pusing. Di kepalanya terputar memori semalam, ketika dia menelepon Ibu. Nanda tidak tahu jam berapa dia menelpon sang ibu, yang jelas ibunya sudah terbang ke alam mimpi namun masih menyempatkan diri menerima panggilan telepon dari putranya ini. Suara beliau yang sedikit serak menjadi indikasi hal tersebut.

"Halo, Mas?"

Nanda membayangkan, bagaimana ibunya yang mengantuk namun merelakan waktu istirahatnya untuk mendengar suara putranya. Ia membayangkan, bagaimana ekspresi wajah Ibu dengan mata setengah tertutup, lalu beranjak duduk agar kesadaran beliau perlahan kembali.

Nanda membayangkan, betapa beruntungnya dia memiliki ibu seperti ibunya. Dan betapa... malangnya Salsa karena dia tidak punya kemewahan ini.

Salsa tak lagi punya ibu yang bersedia mendengarkan dukanya. Salsa tidak punya ibu yang memberikannya kasih sayang. Salsa bahkan tidak mendapatkan itu dari ayah dan adiknya.

Nanda mencoba menghirup napas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan walaupun terasa begitu berat. "Mboten, Bu—" suara Nanda parau. Tercekat. Ia kemudian tersadar, pipinya terasa hangat karena air mata yang mengalir begitu saja. Tubuhnya masih sedikit basah karena kehujanan ketika turun dari mobil tadi, Nanda bisa merasakan tubuhnya gemetar dan menggigil.

Ibu di seberang sana tampaknya menyadari suara Nanda yang terdengar aneh. Dengan sabar, beliau kembali bertanya. "Mas Nanda? Mas nggak apa-apa?"

Begitu lembut. Begitu penuh perhatian.

Nanda lalu teringat bagaimana Raihan mendengus dan bercerita dengan dingin tentang Salsa. Bahwa kakaknya itu selalu meninggalkannya. Bahwa kakaknya itu tidak peduli kecuali hanya mengurus uang, uang, dan uang. Nanda teringat bagaimana dia hampir meraung frustasi, karena di memorinya, Salsa selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Dia teringat sepatu yang tidak pernah diganti itu. Ingat kemeja biru yang semakin pudar warnanya dari hari ke hari. Ingat seplastik siomay yang jadi menu makan siang Salsa satu hari itu.

Entrance No ExitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang