Chapter 4: Mie Ayam Sayurnya Sedikit

2.2K 366 38
                                        


Ian was right. 'Mulai aja dulu, siapa tau cepet jadinya'.

Well, Nanda dan Salsa belum ada 'apa-apa', sih—seperti yang diinginkan Nanda. Tapi setidaknya mereka sekarang jadi sering makan bareng. Baik hanya berdua, bertiga, atau beramai-ramai bersama anak-anak kantor lainnya.

Lucunya, anak-anak kantor juga tidak merasa heran karena memang selera makanan Nanda dan Salsa sangat mirip. Sama-sama menggemari makanan lokal tradisional, sementara anak-anak kantor lebih suka makanan cepat saji. Jadi anak-anak kantor sudah biasa melihat Nanda dan Salsa memilih makan nasi soto atau nasi buk dengan lauk babat-paru goreng, sementara karyawan lainnya memilih ke resto cepat saji.

Salsa yang awalnya canggung setiap berada di sekitar Nanda, sekarang sudah mulai santai dan menanggapi gurauan Nanda dengan caranya sendiri. Dulu Salsa merasa dia harus selalu tertawa ketika Nanda melempar lelucon, sekarang dia sudah berani mengkritik halus humor receh Nanda yang menurutnya tidak lucu.

Karena mereka sering bersama, baik Nanda maupun Salsa mulai hafal selera dan kebiasaan makan masing-masing. Nanda suka mencoba berbagai jenis minuman, sementara Salsa setia dengan es teh manisnya.

Sampai suatu hari, kantor sedang kosong di hari Sabtu. Wajar, karena hari Sabtu memang hari bebas. Pegawai boleh ngantor ataupun tidak, tetap dapat gaji full tanpa potongan kalaupun tidak menunjukkan batang hidungnya di kantor.

"Sepi banget?" Sapa Nanda pada Salsa yang sedang mengetik sesuatu di komputernya.

"Pada nggak ngantor kayaknya, Pak. Mbak Lita ketemuan klien di Javanine terus katanya mau langsung pulang. Eliz dan Hidam WFH, fotografer dan videografer lainnya ada jadwal prewed di Bali dan Lombok."

"Hmmm. Nggak ada orang nih berarti?"

"Saya kan orang, Pak."

Nanda tersenyum mendengar jawaban Salsa. Pegawainya itu memasang wajah datar, namun ada sorot jahil dari tatapan matanya. Sumpah rasanya Nanda ingin sekali memeluk gadis itu erat-erat dan mencubit gemas pipinya.

"Jalan, yuk!" Nanda dan mulutnya yang kadang tidak bisa difilter ketika bersama Salsa. "Sekalian nyoba kamera baru,"

Salsa yang tadi memasang wajah datar kini mengernyitkan dahinya. "Sama saya, Pak?"

"Iya. Kapan lagi saya jalan sama kamu? Sabtu begini biasanya saya kan kerja fotoin orang, sementara kamu biasanya nggak ngantor. Mumpung sama-sama kosong, yuk!"

Salsa gelagapan. "Tapi kerjaan saya gimana, Pak?"

Nanda berjalan mendekat, melongok layar komputer Salsa. "Kamu mau ngapain emangnya?"

"Balas email dan ACC revisi klien, Pak."

Nanda mendecak. "Gampang lah itu, kan bisa mobile. Bawa aja tabletnya, langsung dicek dan dibalas lewat tablet kantor aja."

"Saya... buat apa ikut Pak Nanda? Saya kan nggak bisa motret, Pak?"

"Ya nggak apa-apa, ikut aja. Kan saya bilang jalan bareng."

Here's the thing about Salsa.

She was totally clueless about things like this. Salsa tidak pernah pacaran seumur hidupnya. Sekalinya naksir cowok, cuma bisa dia pendam sendiri. Lagipula cowok yang ditaksirnya ketika SMA dan kuliah adalah tipe cowok yang punya banyak fans. Jadi presensi Salsa hampir nol di mata mereka karena Salsa tidak pernah menampakkan diri.

Ketika Nanda mengucapkan kata 'jalan bareng', kepala Nanda dan Salsa mengartikannya dengan definisi yang berbeda. Nanda menganggap itu adalah frase yang menunjukkan dia sedang PDKT, sementara Salsa menangkapnya sebagai tugas kantor. Alias dia pikir ya dia bakal jadi asisten Nanda selama Nanda ingin mencoba kamera barunya. Apalagi di kantor sedang tidak ada orang selain Salsa.

Entrance No ExitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang