Sudah bekerja untuknya hampir dua tahun, tapi baru sekarang Nanda merasakan ketertarikan pada Salsa, karyawannya yang kalem dan cekatan. Namun siapa sangka, di balik ketenangan Salsa, gadis yang delapan tahun lebih muda dari Nanda itu menyimpan bada...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Salsabila Puspita
Hmm lak kumat
Mas
Selamat pagi adeknya mas, sayangnya mas
Semangat kerjanya hari ini yaaa
Salsabila Puspita
Nanti lho ketemu di kantor, Mas.
Mas
Hehehe mas mau telepon boleh?
Salsabila Puspita
Nggak usah, saya udah mau berangkat
Mas
Kamu rajin amat :(
Salsabila Puspita
Ini udah jam setengah 8
Mas
:(
Tapi jam kantor kan jam 9
:(
Kalau udah sampai kantor kabarin ya adek
Salsabila Puspita
Nggih, Mas
***
"Gimana, guys, udah mulai betah di sini?" Nanda menyapa anak-anak kantor yang sedang duduk mengitari meja ruang tengah. Meja itu kini terlalu kecil untuk menampung semua karyawan kantor. Kebetulan, yang sedang berkumpul adalah pegawai-pegawai baru, plus Mbak Lita dan Salsa. Pegawai lain sudah rampung dengan makan siang mereka tadi, sehingga kini mereka memilih kembali ke tempat kerja masing-masing. Para fotografer dan videografer malah udah cabut dari kantor.
Nanda berjalan menuju tempat Salsa duduk dan berdiri di belakangnya, menghadap karyawan-karyawan baru yang duduk di depan Salsa.
"Betah, Pak," jawab Ferdy, editor baru kantor. Jawaban itu diamini dengan anggukan kepala anak-anak lainnya. Nanda manggut-manggut senang. Bibirnya tersenyum puas mendengar jawaban itu.
"Makan apa, nduk?" tangan Nanda mengusap puncak kepala Salsa, melongok isi bento box yang sedang dilahap oleh gadis itu.
"Rames," Salsa menjawab acuh. Sama sekali tidak terpengaruh dengan gestur Nanda. Sementara itu, anak-anak baru itu terkesiap memperhatikan pemandangan di depan mereka.