Chapter 3: Siomay Limaribuan

2.5K 374 30
                                        


cw/tw: cursing, javanese, foods (izin aja ya kayaknya cerita ini bakal banyak tags ini)

***


"That was weird."

Nanda berpura-pura tak mendengar kalimat Kenzo. Ia memilih menyibukkan diri dengan laptopnya. Tapi Kenzo adalah Kenzo.

"UANEH CUK!"

"Language." Nanda mengerling galak ke arah Kenzo. Cowok itu menyeringai, merasa berhasil mendapatkan perhatian bosnya itu. Nanda menghela napas lelah.

Karma really got him back.

Dulu, saat Nanda pertama kali menginjakkan kakinya di kota ini, Nanda merasa bahasa Jawa yang digunakan dalam lingkungan anak-anak kampusnya tergolong kasar. Belum lagi mereka yang berasal dari Surabaya. Their Javanese just sounded wrong for Nanda.

Tinggal di lingkungan berbahasa Jawa krama membuat Nanda banyak mengernyitkan dahi setiap ada kawannya yang menunjuk-nunjuk wajahnya dengan telunjuk, lalu mengucap panggilan, "koen, koen (kamu, kamu—kasar, red)". Itu hal yang sangat baru bagi Nanda yang seumur hidupnya tidak pernah dipandang rendah di lingkungannya. Dipanggil, "sampeyan (kamu—halus, red)" saja kadang rasanya aneh. Karena orang-orang di lingkungan rumah Nanda selalu memanggilnya dengan, "Den," atau "Mas,". Ibu dan Romo saja memanggilnya, "Mas,", jarang sekali memanggil dengan namanya langsung—padahal Nanda adalah anak tunggal.

Nanda mulai menggunakan bahasa Jawa a la Malang sejak ia pindah satu kontrakan dengan Ian. Laki-laki yang langsung dia nobatkan sebagai sahabatnya itu masih saja terbawa dengan logat Jakartanya, dengan bahasanya yang lo-gue lo-gue itu. Ditambah lagi dengan Alea yang setali tiga uang dengan Ian, masih kekeuh dengan logat Jakarta. Nanda beralih menggunakan bahasa Jawa ngoko demi menjahili Ian yang selalu dongkol setiap Nanda melempar kalimat aneh berbahasa Jawa, atau berbicara pada Alea yang banyak tertawa mendengar upaya Nanda menggunakan bahasa Jawa yang bukan krama.

Meski begitu, Nanda selalu bisa menempatkan diri. Ian sampai mencibir ketika mereka liburan ke Solo dan mendengar Nanda berbicara dengan bahasa yang begitu halus dan sopan pada siapapun di sana. "Mereka bisa jantungan kalau dengar lo fasih misuh-misuh pakai logat Malang," cecar Ian saat itu. Nanda hanya tersenyum lebar mendengar olokan Ian, menganggapnya sebagai pujian karena ia bisa beradaptasi dengan lingkungan.

Terbukti, kemampuanya itu hingga sekarang teruji. Nanda bisa begitu sopan dan formal namun tetap asyik ketika bersama klien, tetapi dia bisa begitu konyol ketika bersama teman dan anak buahnya.

Sayangnya, Mbak Lita sangat tidak mengapresiasi bahasa kasar di lingkungan kantor.

Dan Nanda bertanya-tanya kenapa dia juga jadi ikut horor ketika Mbak Lita marah—padahal dialah bosnya di sini.

"That was weird!" Kenzo melempar lagi kalimatnya tadi.

"Opo to?" tanya Nanda, masih pura-pura tak mengerti.

"Coba kalau itu tadi Gazi atau gua, pasti lu udah ngomel-ngomel tujuh turunan!" Kenzo menuduh. Matanya yang sipit itu semakin mengecil karena memasang ekspresi curiga.

"Ya kalau kamu sama Gazi kan beda. Iki wis penggaweanmu sak bendino (ini kan udah pekerjaanmu setiap hari)."

"Hooo... kalau gitu mulai sekarang gua minta Salsa aja yang back up data biar kalau ada kesalahan gini lagi bos gua kagak marah-marah ke gua,"

"Kerjaan Salsa udah banyak, Ken. Kowe lak nganggur, a?"

Kenzo mengerucutkan bibirnya. "Bang, tapi tadi itu fatal loh, Bang. Coba lu bayangin gimana caranya kita nge-shoot lagi adegan pemberkatan kawinan orang? Ya masa klien kita disuruh pemberkatan lagi karena file-nya rusak?"

Entrance No ExitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang