Nanda was never a big fan of western foods. Walaupun, dia sendiri bukan tipe yang rewel masalah makanan. Ibunya selalu mengajarkan bahwa bersyukur itu sangat penting. Dan apa yang selama ini Nanda miliki, Nanda makan, Nanda kenakan, Nanda nikmati privilisenya sebagai seorang berdarah biru, sudah sangat cukup untuk membuatnya terus bersyukur.
Tapi terkadang, dia sangat ingin memuntahkan makanan yang dihidangkan di depannya—sangat bertolak belakang dengan mindset bersyukur yang diajarkan Ibunya. Seperti duck foie gras and toast sebagai starter acara malam ini. To think that this is a start. Nanda can only shudder.
"Mas Nanda masih betah sendiri, nih?"
Okay, to be honest, it was not the food. It's this occasion. This talk. This very specific talk. Sayangnya dia tak lagi punya Ian yang bisa dia 'gunakan' sebagai tameng untuk mengerjai para sesepuh yang menyebalkan ini.
Ia jadi teringat ia pernah memaksa Ian untuk datang ke pernikahan sepupunya di Jakarta, dan dengan konyolnya memperkenalkan Ian sebagai plus one-nya. Sebagian besar tetua yang hadir di acara itu menatapnya seolah Nanda punya tiga kepala. Ian hanya bisa melengos kesal setelah tau dia sedang diperdaya.
Sepulang dari acara itu, Ibu menghajarnya habis-habisan. Benar-benar menghajarnya dengan cubitan dan pukulan. Tentu saja semua serangan itu tidak sakit. Mungkin sensasinya akan beda kalau Ibu memukulnya dengan tongkat golf Romo. Nanda malah menganggap serangan itu sangat lucu karena Ibu adalah perempuan paling berwibawa dan menjaga tata krama. Lagipula, Ibu juga tau Ian adalah sahabat dekat Nanda. Ibu hanya tidak suka melihat tingkah usil putra semata wayangnya itu.
Sampai akhirnya, Nanda mengunggah salah satu foto di sosial media di hari pernikahan Ian dan Mora—dengan ekspresi Ian yang begitu stupidly in love with his wife itu. Foto itu tampaknya udah menjadi jawaban bahwa tidak ada hubungan apa-apa di antara keduanya selain persahabatan. Desas-desus tentang orientasi seksualnya di tengah keluarga besar jauh mereda setelah Nanda memasang foto Ian dan Mora tersebut.
So, now he's here, in another one of his cousin's wedding, ready to listen all these talk about him still being single. Lagipula, kenapa memangnya kalau masih single? Toh, dia senang-senang saja. Tidak perlu sembunyi-sembunyi ketika harus liburan dengan pacar rahasia seperti yang dilakukan salah satu sepupunya. Tidak harus merasa tertekan karena tidak akur dengan mertua.
Kadang Nanda merasa hidupnya seperti berjalan di atas kabel antara dua tiang. Di satu sisi dia sangat senang menyaksikan pernikahan bahagia—seperti rumah tangga orangtuanya atau Ian dan Mora, di sisi lain dia sangat lelah dengan pernikahan konyol yang dilihatnya bahkan sebelum kata sah itu terjadi. Ada banyak kliennya yang sebenarnya sudah tidak akur ketika prewedding dan Nanda bertanya-tanya apa yang membuat mereka begitu memaksakan diri untuk menikah.
"Nggih, Budhe. Syarate dereng kepanggih, (iya Budhe, syaratnya belum ketemu)"
"Syarat?"
"Nikah menika kan syarate namung kalih*. Kalih sinten. (menikah itu kan syaratnya hanya dua*. Dengan siapa)"
Budhe Lastri tertawa kecil. Sedikit terhibur dengan candaan Nanda. "Ya makanya dicari toh, Mas."
"Nggih, Budhe." Nanda iyakan saja supaya cepat. Tapi tampaknya Budhe Lastri tidak ingin perbincangan mereka berakhir.
"Mas Nanda mau cari yang seperti apa? Level anak Presiden? Jangan terlalu pemilih, Mas. Nanti jadi perjaka tua juga ndak bagus. Hidupmu nggak ada yang ngurus. Nanti malah jatuh ke zina, Mas. Jadi mencoreng nama baik keluarga."
Nanda hanya bisa tersenyum kecut. Ia bertanya-tanya kapan dessert segera disajikan. Lidahnya gatal untuk membongkar perbuatan Mas Rendra, putra pertama wanita di depannya ini. Nanda secara tak sengaja melihatnya di Paris sedang berciuman mesra dengan wanita berambut pirang yang bukan Mbak Arum, istri sahnya. Atau ketika Nanda memergoki Budhe Lastri pernah menyentuh salah seorang abdi dalem laki-laki muda ketika Kirab Satu Suro tiga tahun lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Entrance No Exit
RomanceSudah bekerja untuknya hampir dua tahun, tapi baru sekarang Nanda merasakan ketertarikan pada Salsa, karyawannya yang kalem dan cekatan. Namun siapa sangka, di balik ketenangan Salsa, gadis yang delapan tahun lebih muda dari Nanda itu menyimpan bada...
