11

136 10 0
                                        

Satria dan Jec menghampiri Riyan, raut wajah mereka menunjukkan kekhawatiran yang sama dengan Brian. Riyan yang tiba-tiba terdiam, matanya tampak kosong seolah pikirannya melayang ke tempat lain. Brian menepuk pundak Riyan perlahan, menyadarkannya kembali.

"Riyan, kau baik-baik saja? Apa yang kau lihat tadi?" tanya Brian, tatapannya lekat pada Riyan.

Riyan mengerjap beberapa kali, lalu tersenyum tipis. "Oh, Iyan nggak apa-apa kok, Pak Brian. Iyan cuma... kaget aja. Ada sesuatu yang muncul di pikiran Iyan." Ia memilih untuk tidak menjelaskan tentang Sistem A00 dan toko kekuatan khusus kepada mereka.

"Sesuatu? Apakah itu berkaitan dengan energimu?" Brian bertanya lagi, matanya berbinar penasaran.

Riyan mengangguk. "Kayaknya gitu, Pak. Ini... pengalaman baru buat Iyan." Ia melirik ke arah Bayu, Bagas, Al, Cika, dan Milo yang juga menatapnya penuh harap. "Jadi, Pak Brian, gimana nih kita mulai latihannya? Iyan udah nggak sabar!"

Brian tersenyum. "Baiklah. Kalian semua sudah merasakan aliran energi dalam diri. Sekarang, kuncinya adalah fokus dan memvisualisasikannya."

Mereka kembali duduk melingkar di lantai toko. Brian memberikan instruksi lanjutan, menjelaskan cara memfokuskan energi ke telapak tangan dan membentuknya menjadi elemen tertentu.

"Coba bayangkan sesuatu yang familiar bagi kalian," instruksi Brian. "Api, air, tanah, atau bahkan angin."

Bayu mengerutkan kening, mencoba fokus. "Ini rasanya kayak narik sesuatu dari dalam, ya?" Ia mengulurkan tangannya. Tiba-tiba, percikan api kecil muncul di telapak tangannya sebelum padam. "Wah! Berhasil!" serunya bersemangat.
Bagas dan Al saling pandang, lalu ikut mencoba. "Punyaku cuma kayak angin sepoi-sepoi," keluh Bagas, sementara Al hanya bisa membuat sedikit getaran di udara.
Cika menangkupkan kedua tangannya. Ia mencoba membayangkan air, namun tidak ada yang terjadi. "Susah banget!" desahnya. Milo di sampingnya hanya menatap dengan mata berbinar, seolah menyaksikan pertunjukan sulap.

Riyan juga mencoba. Ia memejamkan mata, merasakan energi yang bergerak di dalam tubuhnya, dan membayangkan api. Namun, yang muncul bukanlah bola api seperti Brian, melainkan sensasi hangat yang menyebar dari telapak tangannya. Ia mencoba lagi dengan visualisasi yang berbeda, dan kali ini, sebuah kristal kecil transparan muncul di genggamannya sebelum menghilang. Riyan membuka mata, sedikit bingung.

"Iyan... Iyan nggak bisa ngeluarin api kayak Pak Brian," ujar Iyan, menunjukkan tangannya yang kosong. "Tadi cuma ada kristal kecil, terus hilang."

Brian mengangguk. "Itu normal, Riyan. Tidak semua orang akan mendapatkan kekuatan yang sama. Ada yang elemen api, air, tanah, angin, bahkan ada yang kekuatan fisik atau penyembuhan. Kekuatanmu mungkin berbeda. Jangan berkecil hati." Brian kemudian memberikan beberapa latihan dasar untuk memperkuat kendali energi. "Terus latih fokus kalian. Besok kita bisa coba lagi."

Setelah beberapa waktu, mereka berhenti berlatih. Hari semakin gelap dan perut mulai keroncongan. "Sebaiknya kita mencari tempat yang lebih aman untuk malam ini, dan juga makan," usul Satria. "Aku sudah lapar sekali."

"Betul. Besok pagi kita bisa melanjutkan perjalanan ke tempat perlindungan Kota U," tambah Jec. "Semoga perjalanannya aman."

Riyan mengangguk. "Iyan siapin makan malam deh. Kebetulan Iyan masih punya bahan." Riyan sebenarnya ingin mengeluarkan lebih banyak makanan dari dimensinya, tapi ia sadar ada banyak mata yang mengawasi. Ia hanya mengeluarkan beberapa nasi kepal dan sereal dari ranselnya, yang ia simpan di luar dimensi.

Meskipun sederhana, makanan itu terasa sangat lezat bagi semua orang yang kelelahan dan kelaparan. Milo memakan sereal dengan lahap, senyum kecil tak lepas dari bibirnya.

Saat makan, Riyan sesekali melihat ke arah jalanan, memikirkan Bima. Hatinya masih terasa ngilu saat mengingat kejadian di taman belakang tadi pagi. Apakah Bima benar-benar tidak peduli? Atau... Riyan teringat tatapan Bima yang kosong saat Jesica menciumnya, dan bagaimana Bima seperti tersihir ketika Jesica memanggilnya di depan rumah. Ada sesuatu yang janggal, namun Riyan terlalu sakit hati untuk memikirkannya lebih jauh.

"Jadi, Kota U itu benar-benar jadi tempat aman, ya, Pak Brian?" tanya Cika, matanya berharap. "Ayahku bilang mereka di sana."
"Setahu kami, itu salah satu posko besar yang didirikan militer," jawab Brian. "Banyak penyintas berkumpul di sana. Tapi, tetap saja, tidak ada yang 100% aman di dunia seperti sekarang ini."
"Penting untuk tetap waspada, ya, Pak," tambah Bagas.
"Betul sekali," timpal Jec. "Zombie semakin banyak, dan ada juga manusia yang berubah menjadi monster."
"Kita harus lebih kuat, kalau begitu!" seru Bayu, mengepalkan tangan.

Setelah makan, mereka bergiliran berjaga. Malam itu Riyan kesulitan tidur. Pikirannya melayang-layang antara kekecewaannya pada Bima dan rasa penasarannya pada kekuatan baru yang baru saja ia buka. Ia meraba-raba dadanya, tempat cincin Sistem A00 melingkar, bertanya-tanya apa lagi yang akan terungkap tentang dirinya dan dunia ini.

Di mansion Bima, suasana jauh lebih suram. Bima duduk termenung di ruang tamu, tatapannya kosong. Jesica sibuk membersihkan sisa makanan dan sesekali melirik Bima dengan senyum licik. Kekuatan kendali pikirannya bekerja dengan sempurna pada Bima yang emosinya sedang tidak stabil. Ia telah memanipulasi Bima agar tidak mengejar Riyan, dan sekarang, Bima tak lebih dari boneka di tangannya.

"Kau sudah membuat makan malam untuk kita berdua, sayang. Tidak perlu memikirkan orang lain," bisik Jesica saat melewati Bima, mengelus lembut rambutnya. "Semuanya akan baik-baik saja."

Bima hanya mengangguk, tanpa ekspresi. Ia tidak merasakan apa-apa, bahkan rasa bersalah atau rindu pada Riyan telah diredam oleh kekuatan Jesica. Matanya hanya terpaku pada kehampaan di depannya, menuruti perintah yang ditanamkan dalam pikirannya.
Jesica tersenyum puas. Riyan sudah pergi, dan Bima sekarang sepenuhnya miliknya. Setidaknya, itulah yang ia pikirkan.

TBC

All Rich Man Love MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang