Bab 12

167 18 0
                                        

Pagi itu, udara dingin menyergap, menusuk tulang. Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah-celah jendela toko yang berdebu, membangunkan kelompok Riyan. Bau apek dan lembap masih samar tercium, namun semangat mereka untuk melanjutkan perjalanan ke Kota U lebih kuat dari ketidaknyamanan semalam.

Brian adalah yang pertama bangun, disusul oleh Satria dan Jec. Mereka memeriksa kondisi di luar, memastikan tidak ada zombie yang berkeliaran terlalu dekat. "Aman," bisik Brian kepada yang lain. "Kita bisa bergerak sekarang."

Riyan, yang terbangun mendengar suara-suara itu, segera bangkit. Masih ada sedikit rasa kantuk, namun ia tidak ingin berlama-lama di tempat itu. Ia melihat Milo yang masih terlelap pulas di samping Cika. "Udah pagi aja," gumam Iyan pelan. "Ayo kita siap-siap."

Cika, Bayu, dan Bagas juga mulai bangun, meregangkan badan yang terasa pegal. Al sudah lebih dulu terjaga, merapikan ranselnya dengan tenang.

"Gimana tidur kalian? Lumayan nyenyak?" tanya Jec, tersenyum kecil.

"Lumayan, Pak," jawab Bayu. "Tapi badan agak pegal."

"Sama," timpal Bagas. "Nanti pas jalan, semoga nggak ketemu banyak masalah, ya."

"Pasti aman kok," ujar Iyan, mencoba menyemangati. "Kan ada Pak Brian sama yang lain juga."

Mereka berbagi sisa bekal sarapan yang terbatas, hanya beberapa biskuit dan air. Riyan ingin sekali mengeluarkan makanan enak dari dimensinya, tapi ia tahu itu akan menimbulkan terlalu banyak pertanyaan. Setelah sarapan singkat, mereka bersiap untuk berangkat. Brian mengingatkan semua orang untuk tetap waspada dan bergerak dalam formasi, dengan para tentara di depan dan belakang, melindungi yang lain di tengah.

"Kota U lumayan jauh, kan?" tanya Cika kepada Bayu.

"Iya, lumayan," jawab Bayu. "Kata ayah, sekitar satu setengah jam jalan kaki kalau jalannya lancar. Tapi ini kan banyak puing, jadi bisa lebih lama."

Mereka memulai perjalanan. Jalanan kota terlihat porak-poranda, banyak mobil yang terbengkalai, bangunan runtuh, dan tanda-tanda kekacauan pasca-kiamat. Udara dipenuhi debu dan bau apak. Iyan sesekali melirik ke sekeliling, merasakan firasat aneh yang sama seperti semalam. Ia mencoba mengabaikannya.

Di tengah perjalanan, mereka melewati sebuah supermarket yang terlihat masih utuh.

"Kita perlu menambah persediaan," usul Brian.

"Tidak ada jaminan di tempat perlindungan sana persediaan melimpah. Bagaimana kalau kita masuk dan mencari apa pun yang bisa diambil?"

"Setuju," kata Satria. "Lebih baik sedia payung sebelum hujan."

Mereka memasuki supermarket dengan hati-hati. Rak-rak barang sudah berantakan, beberapa di antaranya kosong. Namun, mereka masih menemukan beberapa kaleng makanan, botol air mineral, dan obat-obatan yang tersebar.

"Riyan, kamu bisa bantu cari makanan, kan?" tanya Brian. "Kalian anak-anak, cari yang ringan-ringan dan mudah dibawa."

Riyan mengangguk. Ia berpencar dengan yang lain. Saat mencari di lorong makanan kaleng, sebuah ide melintas di benaknya. Ia bisa menggunakan sistemnya untuk mengumpulkan barang dengan cepat tanpa menimbulkan kecurigaan. Dengan gerakan cepat dan tersembunyi, ia mengeluarkan beberapa kantong besar dari dimensinya, lalu mulai memasukkan makanan kaleng, mi instan, sereal, dan kebutuhan lain yang ia temukan. Dengan trik tangannya, ia membuat seolah-olah barang-barang itu ia temukan di rak.

"Banyak banget, Iyan?" tanya Cika, terkejut melihat tumpukan barang di kantong Riyan.

"Hehe, Iyan hoki aja kali," jawab Riyan, tersenyum. "Ketemu banyak yang masih bagus."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 22, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

All Rich Man Love MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang