SPAM KISSEU DI SINI💋
JANGAN LUPA VOTE
AYO RAMEIN KOLOM KOMENTAR WIRR😁
🚫🚫🚫🚫
Ruangan bernuansa putih dengan aroma khas hampir menyerupai logam yang begitu melekat di udara itu menjadi saksi bisu perang dingin yang terjadi antara dua orang manusia berbeda jenis kelamin. Mereka terlihat saling bungkam, namun sesekali si cowok tampak mencuri lirik, memberengut kesal dengan tangan terlipat di depan dada.
Sedang suara tawa si cewek di seberangnya terdengar renyah saat menonton acara komedi di layar televisi yang menyala.
“Annoying damn girl.”
Aldara menggeram, spontan menoleh dengan alis menukik dan mata lasernya. “Lo nyumpahin gue?” galaknya. Mendadak mood nya langsung anjlok, untungnya cowok itu duduk di Sofa seberang yang agak jauh dari posisinya, jika dekat mungkin Aldara akan memelintir mulutnya.
Elemen terkekeh kesal. “That's a fact! Tiba-tiba nonjok muka gue, lo pikir gak sakit?” geramnya.
Aldara berdecih dan memutar bola mata. Dia tidak menyangkal, karena dia memang menonjoknya. Bukan sengaja, itu lebih seperti reflek, atau mungkin pengalihan diri saat seseorang sedang merasa salah tingkah. “Lagian kenapa lo ngomong kaya gitu tadi, lo berharap gue mati kan?” sahutnya masih dengan seruan.
“Aldara!” Elemen spontan berdiri dari duduknya, membuat Aldara tersentak kecil. Rasanya bohong jika cewek itu tidak terkejut saat mendengar Elemen meneriaki namanya. “Don't ever talk like that again in front of me!” Tatapan mata cowok itu benar-benar gelap dan dalam.
[Jangan pernah ngomong kaya gitu lagi di depan gue]
“Kenapa lo marah?”
Sejenak Elemen menghembuskan napas berat. “Karena ada orang yang selalu nungguin lo bangun. Lo gak tau kan, gimana hancurnya perasaan mereka kalau sampai hal buruk terjadi sama lo?” Aldara tertegun saat melihat air muka cowok itu yang samar-samar menjadi sendu, meskipun itu hanya terjadi beberapa detik saja sebelum kembali ke setelan awal yang tidak ada ramah-ramahnya.
“Lo gak mungkin khawatirin gue kan?” Aldara menyipitkan mata, menyelidik.
“Gue gak bilang itu gue.”
“Kalau dipikir-pikir lagi, tadi kayanya lo nangis deh.”
“I don't!” seru Elemen. “You're damn.” Reaksi berlebihan Elemen sukses membuat Aldara kesal.
“Ya gak usah ngegas, nyolot amat!” dengus Aldara.
Elemen mengumpat pelan lalu melangkah mendekati brankar cewek itu dan menarik kursi di dekatnya membuat Aldara sedikit mengerutkan kening karena cowok itu diam cukup lama. “Orang yang bikin lo kaya gini...” Elemen menghela napas, menghentikan ucapannya sambil menatap Aldara.
“Kenapa lo mau tau, lo juga gak akan percaya kal—”
“Brama sama Livy,” potongnya spontan membuat Aldara mendelik.
Cewek itu berdehem pelan untuk menetralkan keterkejutannya. “Tau dari mana? Lo ngikutin gue?” tanya Aldara namun Elemen menggeleng cepat.
“Enggak.” Temen gue. Sayangnya cowok itu hanya melanjutkan ucapannya dalam hati.
“Terus?” Aldara siap mencecar.
“Kenapa lo bisa tau lokasi gue, padahal lo gak ngikutin gue?”
Elemen mendesis geram. Cewek ini benar-benar. “Emang itu penting sekarang?” kesalnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELEMEN; BAD FIANCÉ (TERBIT)
Teen Fiction🚫disclaimer, cerita ini bikin lo darah tinggi. 🚫 banyak adegan kiss, skinship and toxic relationship. be wise, luv~ *** Elemen benci hari Senin. Elemen benci musuh-musuh nya yang mendambakan kehancuran geng motornya. Dan Elemen juga benci tunangan...
