03- Penolong?

37.6K 1.6K 69
                                        

haloo ketemu lagiiii

how's your day nderr? kalo aku si tersibal siball sepanjang harii hahhay chuakss

VOTE, KOMEN DONG WOYYY GW MAKSAAA YAAKKK

H A P P Y  R E A D I N G

°°°

"Sialan?!"

Elemen menggeram marah, tangan yang digunakan untuk menggenggam ponsel yang ia dekatkan pada telinga sebelah kirinya itu tampak mengerat, sampai membuat urat-uratnya menonjol.

"Besok gue kesana." Dia memutus sambungan telponnya sepihak, lalu melempar ponselnya ke atas ranjang.

Dia menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Dadanya masih bergemuruh dengan netra gelapnya yang melotot merah, cowok itu menggertakan giginya sampai satu detik berikutnya sebuah bogem mentah mendarat mulus pada cermin yang berada di depannya.

CTARR!

Cermin yang semula baik-baik saja, kini sudah pecah tak layak pakai.

Elemen membiarkan tangannya mengucurkan cairan merah darah itu, karena beberapa serpihan kaca tersebut telah menembus kulitnya. Namun rasanya, ia sama sekali tak merasakan sakit sedikitpun meskipun luka di tangan sebelah kanannya itu cukup lebar, bahkan sampai detik ini pun darah cowok itu terus mengalir cukup deras.

Cowok itu mendesis pelan lalu sebuah seringai menyeramkan terbit di bibirnya.

"Theo, gue bakal bikin lo hancur setelah ini."

Elemen bersumpah dalam diri— ia akan memberi balasan atas apa yang sudah diperbuat oleh Theo Leonidas—ketua geng motor Dark Devil, musuh bebuyutannya.

Cowok itu harus menerima hukumannya karena telah dengan berani mengusik dan mengganggu teman-temannya sampai membuat Tegar dan Galing di kabarkan dilarikan ke Rumah sakit tadi sore.

Elemen meraih sebatang rokoknya lalu berjalan ke arah balkon kamarnya—mengeluarkan lighter dari dalam saku celananya setelah itu menyalakan sepuntung rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan tengahnya.

Cowok itu menghisap rokoknya kemudian mengepulkan asapnya ke udara, membiarkan kepulan asap itu menerpa kulit wajahnya. Manik gelapnya menatap ke arah luar, di mana langsung memperlihatkan pemandangan halaman utama rumahnya pada malam hari dari lantai atas.

Untuk sesaat, Elemen berhasil menenangkan dirinya, namun ia belum mau mempedulikan darah yang masih mengucur dari sela kulitnya. Cowok itu masih memikirkan tentang hukuman apa yang pantas dia berikan untuk musuhnya itu.

Apakah menggilas tubuhnya dengan motor besarnya—black boy? Ataukah membakar kulitnya dengan besi panas? Seperti yang dulu pernah dia lakukan untuk para pecundang yang telah mengkhianatinya.

Ah, baru memikirkannya saja membuat adrenalin-nya tertantang,  Elemen sudah tidak sabar untuk segera mengeksekusinya.

Berbeda dengan cowok itu yang tampak tak henti-hentinya menyunggingkan senyum miringnya, Aldara— malah terlihat sangat kepo dengan suara berisik yang sempat ia dengar tadi.

ELEMEN; BAD FIANCÉ (TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang