🤍🤍🤍
Malam yang gelap, namun dihiasi dengan lampu lampu jalanan dan lagit yang menampilkan bulan bintang.
Mereka berdua mampir disebuah pasar malam. Sebenarnya Afan sudah ngebet mengajak gadis itu pulang untuk tidur, tetapi Devi mengeluarlan jurus ngambeknya dan alhasil dituruti oleh afan.
"Yang, aku mau iniii" gadis itu menunjuk penjual permen kapas. Eh bukan penjualnya tetapi permennya.
"Mang, satu yang warna pink" ucap laki laki itu, dan memberikan uangnya
"Ambil aja kembaliannya" Afan melemparkan senyuman kearah penjual permen itu.
"Wahh, makasih ya mas"
"Ya sama smaa"
Afan memberikan permen kapas itu kepada Devi yang asik menggandeng tangannya dan mata gadis itu melihat sekeliling.
"Nih"
"Makasihh sayangg" Afan membawa gadis itu jalan mengikutinya, dan mereka sampai disatu kursi panjang yang kosong.
Gadis disampingnya itu asik memakan permen kapas itu dan tidak mempedulikan Afan yang sedari tadi memotonya dan memperhatikan gadis itu dengan intens.
Mata Afan tertuju pada satu cincin silver dengan hiasan 2 bentuk love kecil disana, sangat cantik.
"Cil, ini cincin dari siapa?" Tanya Afan, dia tidak asing dengan cincin yang melingkar dijari tengah gadis itu
Sebentar Devi melirik kearah cincin itu, dan dia sepertinya sedang mengalami Deja vu.
"Oh ini, ini dari teman kecil aku dulu yang pindah ke London dan sampai sekarang aku belum pernah ketemu dia"
"Cowo?"
Devi memangut "dia nyuruh aku kalau aku udah besar make ini, dan suatu saat aku ketemu dia. Dia pasti kenal aku"
"Ohh"
"Kamu ga cemburukan??" Devi menatap lekat lelaki itu
"Enggak kok, lagian dia kan sahabat kamu, kalau boleh tau namanya siapa?" Tanya Afan
"Aku ga tau siapa nama aslinya, tapi yang penting dia nyebutinnya cebol"
'Apa Devi?? Bocilnya aku dulu?" Batin Afan
🤍🤍🤍
Hari ini adalah hari yang paling tidak disukai semua siswa, yapp hari ini diadakan Upacara untuk sekian seninnya.
"Afaann, malass tau" kini Afan dan Devi berada di lapangan sedang menunggu siswa yang lain ikut berkumpul.
"Gaboleh gitu ih, namanya sekolah, kalau kamu ga kuat ke UKS aja biar aku antar. Okey"
"Iyaa"
Upacara pun berlangsung dengan khidmat, walaupun banyak dari siswa yang mengeluarkan keringatnya dan banyak juga yang berjongkok dibelakang.
Hari ini pembina upacara adalah Kepsek. Seperti biasa kalau kepsek pasti amanatnya lama.
Dan upacara pun berakhir banyak terdengar desisan napas siswa yang lelah maupun gusar.
Kini jam pelajaran telah masuk. Pelajaran pertama adalah Metematika, ilmu yang mematikan dengan guru yang bisa dibilang sangat baik.
"Selamat pagi anak anak" Sapa guru dengan kacamata dan buku yang berada ditangannya
"Selamat pagi bu ika" ucap mereka bersamaan.
"Buk, ada ga yang Agus bilang kemarin?" Ucap Agus penuh semangat
"Kamu gus, asik cewek aja yang kamu pikirin. Masih sering lapar ga kamu" Buk Ika melipat tangannya.
"Hehehe, sering lah buk, siapa sih yang ga suka makan" Agus mengelus perutnya yang buncit.
Semua siswa tertawa melihat badut mereka.
"Ga ada, sudah kamu belajar saja dulu, urusan cewek nanti saja"
🤍🤍🤍
Jam pelajaran usai, kini berganti dengan jam istirahat. Afan masih penasaran dengan anak laki laki yang yang sebutkan oleh Devi. Sahabat kecil?
Dulu laki laki itu juga mempunyai satu teman kecilnya, dia sering menyebutnya dengan sebutan bocil.
'Kalau dia Devi, gue senang banget' batin Afan.
Kemudian dia menatap Devi yang terlihat memegangi perutnya.
"Sayang, kamu mau kekantin" tanya Afan lembut.
Gadis itu menggeleng pelan, perutnya terasa sakit sekarang. "Perut aku sakit"
"Kenapa??"
Gadis itu sedang mengalami datang tamu tak diundang, dan baru datang pagi tadi.
"Tau lah kan??" Ucap Devi. Afan mencari yang lain sayangnya yang lain sudah pergi kekantin.
Yang tersisa didalam kelas hanya Defan, Kala dan 2 siswa yang lain, termasuk Agus yang tengah memakan donat kesukaannya.
"Aku kekantin ya, bawain kamu makan" Afan mengelus pelan kepala gadis itu.
"Aku sendiri dong"
"Kan ada itu, ada Agus, ada Rani, ada Kala juga. Nanti perut kamu makin sakit ya sayang"
"Iya deh, jangan lama lama ya"
"Iya, tunggu ya bocil" Afan pergi dan melambaikan tangannya.
Gadis itu tersenyum melihat kepargian Afan. Dia memainkan handphonenya. Laki laki yang berada disampingnya sudah selesai mencatat rumus rumus yang berada dipapan tulis.
"Em, Dev" panggilnya canggung
Devi melirik Kala sebentar "ya?" Dia kembali mematikan handphonenya.
"Pacar lo?"
"Iya, kenapa??" Herannya, Devi tahu bahwa Kala menyukainya sejak mereka bertemu untuk pertama kalinya.
"Ohh gapapa nanya aja, gue duluan ya" ucapnya lalu cabut dari sana.
Gadis itu kembali memainkan handphonenya sambil menunggu Afan kembali.
"Hayy sayang" panggil laki laki yang membawa satu mangkok bakso ditangannya dan satu botol teh bermerk.
"Hayy, kok cuma satu sih?"
Afan duduk ditempatnya sambil meyodorkan bakso itu "aku ga lapar" ucapnya.
"Masa sihh"
"Iyaa" balas Afan
"Aku suapin mau yak" Devi menyodorkan satu sendok yang berisi bakso.Afan menerimanya dan mereka pun makan satu berdua. Wanjayyy
🤍🤍🤍
Huaaaa
Gess gimana ini?? Gidara kita kapan jadiannya yaAllahh cape nunggu mereka berdua bersatu.
Disambut lagi dengan kedatangan Angga di magic5 kan tambah, ah gataulah ga ngerti sama alurnya.
Aing takut kalau nanti ujung ujungnya Maxim sama Rara bersatu dan akhirnya apa? Angga sama Adara. Trus Gabrin gue gimana dongg haaaa.
Tapi tetap nonton ya guyss bagi yang nonton aja.
Btw aing lagi malas ngetik pleess malas mikir. Tapi demi kalian semua inii.
Maaf ya kaga nyambung.
Daaa
KAMU SEDANG MEMBACA
Mereka DeFan (End)
Teen Fiction(FOLLOW SEBELUM MEMBACA) Afan, cowok playboy cap sendal jepit. Dimana mana pasti ia mempunyai cewek. Seperti yang ia bilang dia ingin mengoleksi cewe agar tidak bosan. Dari semua cewe yang dia pacari ada satu yang menarik perhatiannya yaitu lisa dan...
