"Nanti kalian lihat rumah pilihan kami buat kalian berdua ya" ujar Cyntia
"HA?? RUMAH KITA??" Sorak Afan dan Devi mendengar perkataan Cyntia
Sekarang, keluarga Afan dan Devi berada dikediaman Daniswara. Disana mereka mengumpul untuk makan malam bersama.
Dan diakhiri dengan mereka berkumpul diruang keluarga Devi.
"Gausah kaget gitu dong" balas Daniswara yang tengah memainkan handphonenya tanpa melirik sekalipun kearah mereka yang tengah berbicara.
"Ya, ga ngira pa bakalan secepat onoh" tukas gadis itu.
Dan Rakha?? Laki laki itu hanya terdiam mendengarkan pembicaraan yang lain.
"Nanti papa kirim alamat rumahnya" sambung Ahmad yang berada diujung kanan sofa.
Afan melirik gadis yang tengah termenung menatap meja didepan mereka. Laki laki itu menggenggam tangan Devi.
"Gas??"
"Gas lah apa lagi, pa sekarang ajabalas Devi semangat
"Oke, tuh udah disharelok" ujar Ahmad yang membuka handphonenya.
"Dahh masuk, ayok seng kita capcus" ujar Afan yang menarik lembut tangan gadis itu untuk ikut bersamanya.
Devi pun mengikuti arah laki laki itu "bunpa, mipi, kami pergi duluu oh ya kakha (kaka rakha) kami pegii" sapa Devi dan melanjutkan berjalan bersama Afan.
Mereka menaiki mobil yang dibawa oleh keluarga Afan. "Yang, semogaa rumahnya sederhana aja ya, gausah ada lantai duanya" ucap Devi.
"Emangnya kenapa kalau ada lantai duanya??"
"Ya gapapa, tapi aku lebih suka yang sederhana aja gitu"
Afan mengangguk paham "kita lihat aja" ujar Afan.
Tak berselang lama, mereka sampai ketempat yang disharelock oleh Ahmad.
Devi membelakkan matanya melihat rumah yang ditujukan untuk mereka berdua. "Fan, bukan ini kan??"
"Iya, ini kok. Tuh didepannya ada tulisan Daniswara dan Khadafi, berarti bener yang ini" benar Afan.
"Gilak ini mah, kita tinggal cuma berdua loh Fan" ucap Devi tak percaya, lihat saja halamannya luasnya sangat sangat behh.
"Ya gapaapa sih, siapa tau anak kita banyak kan, mereka leluasa untuk main"
"Iya juga sih"
"Kamu mau banyak anak??"
"Ih apasih enggaa engaaa ga mau"
🦋🦋🦋
Devi menutup mulutnya yang menguap, dengan malasnya dia mengerjakan soal matematika yang tercetak jelas didalam buku didepannya.
"Fan, yang ini susaahh" tunjuk gadis itu pada soal nomor sepuluh, nomor terakhir dari soal.
Dia menggaruk kepalanya "ohh, ini. Ini itu dikali trus kamu bagiin aja, ntar dapat hasilnya" jelas Afan.
"Ga ngertii, heemmm" rengek gadis itu pelan
Afan menggelengkan kepalanya "sini aku ajarin. kamu lihat yah" usul Afan mengelus pelan kepala Devi yang tengah meletakkan kepalanya diatas meja.
Devi mengngguk saja, tanpa berminat mengangkat kepalanya.
"Sayangg, jangan gitu ngelihatnya nanti pusing" peringat Afan.
"Gaada guru yang," ucap Devi, dari tadi gadis itu tengah menahan kantuknya.
"Kamu kenapa, hm?? Pengen sesuatu?? Atau apa??"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mereka DeFan (End)
Roman pour Adolescents(FOLLOW SEBELUM MEMBACA) Afan, cowok playboy cap sendal jepit. Dimana mana pasti ia mempunyai cewek. Seperti yang ia bilang dia ingin mengoleksi cewe agar tidak bosan. Dari semua cewe yang dia pacari ada satu yang menarik perhatiannya yaitu lisa dan...
