"Kemarin maag ku kambuh, Mas."
Alisnya menekuk, dahinya mengernyit bingung. "Kamu ada sakit maag? Kok aku baru tau?"
"Kayak kamu tau segalanya soal aku aja. Kamu kan enggak pernah nanya apa-apa soal aku, nyari tau aja enggak."
Dia menatapku dengan sorot tersinggung. "Kata siapa? Bukannya kamu yang kayak gitu?"
Alisku terangkat satu. "Oh ya? Berarti tau dong aku suka apa?"
"Kamu suka coklat, kamu suka makanan pedas, aku tau kamu."
Salah. Aku tidak begitu suka coklat, dan aku tidak kuat pedas.
Aku menatapnya dengan tatapan... remeh? atau mungkin kecewa? "Kamu itu udah ngotot, salah lagi."
"Yaudah, maaf. Lagipula cuma perkara hal sepele aja sampai diperpanjang gini.""
Cuma, ya?
"Udah tau ada sakit maag tapi enggak sarapan? Enggak sayang diri sendiri? Enggak harus diingetin buat sarapan, kan?" lanjutnya.
"Aku lupa, buru-buru."
"Sarapan kok lupa. Kamu udah besar, kalau kamu bisa atur waktu ya kamu nggak akan buru-buru kayak gitu."
"Iya, maaf."
***
"Dia bilang kayak gitu?"
"Iya, Mas. Nggak apa-apa, bener kok yang dibilang." Senyuman tipis ku berikan seakan mengatakan aku baik-baik saja.
Mas Fahri menghela napas panjang. "Kamu yakin Dek sama dia? Dari awal udah Mas bilang, Mas lebih setuju kalau kamu sama Seno aja,"
"...atau sama Mas aja?" lanjutnya.
Aku berdecak sebal. "Aku maunya Mas Farlan."
"Yaudah, terserah kamu aja. Ara izin lagi, kenapa?"
Aku mengernyitkan dahi sebentar, mengingat-ingat apa yang dikatakan Ara kemarin.
"Flor, kalau ditanyain jawab aja acara keluarga, ya."
Ah, ya!
"Acara keluarga, Mas."
"Kemarin sakit, sekarang acara keluarga, ini Mas loh Dek, bukan Pak Wakhid yang percaya-percaya aja kalian bohongin."
"Hehe," balasku dengan cengiran dan peace sign.
Mas Fahri menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Disusul dengan datangnya priaku, juga dengan Mas Seno.
"Sarapan?" tawar Mas Seno.
"Nanti aja," jawabku.
"Enggak sarapan lagi?" celetuk Mas Farlan.
"Enggak sempat lagi? Lupa lagi? Apa susahnya atur waktu kamu?" lanjutnya.
"Ngingetin nggak? Bawain sarapan nggak? Cuma modal omongan?" sindir Mas Fahri.
"Sana ke belakang, aku bawain roti buat kamu, dimakan dulu," bisik Mas Seno.
Sebenarnya aku tidak enak hati kepada pria ku, kasihan, aku tahu niat dia baik, dia mau aku lebih baik dalam mengatur waktu. Itu juga berdampak baik untukku, kan?
"Aku izin ke belakang dulu, semuanya," pamitku.
Baru sedetik mendudukkan diri, ponselku berdenting. Sebuah pesan singkat dari pria ku yang sukses membuatku menghangat.
Mas Farlan
Maaf, aku cuma khawatir.
Flory H.K.
Nggak apa-apa, Mas. Aku tau niat kamu baik. Omongan Mas Fahri jangan dimasukin hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Glasses Man
CintaTentang aku, kamu, dan waktu. __________________________________ "Mas Farlan? Makasih, ya!" "Buat?" "Enggak tau juga, makasih aja." "Iya, sama-sama cantikku." __________________________________ Dia datang layaknya sang mentari yang menghangatkan san...
