"Pacaran, yuk?"
Aku melongo. "Ini kamu nembak?"
Dia mengangguk dan tertawa. "Nggak ada romantis-romantisnya, ya?"
"Iya, kamu ngajak pacaran kayak ngajak beli cilok."
Dia tertawa lagi. "Maaf, ya, ngajakin pacaran dulu, perayaannya nyusul."
"Ya udah, boleh deh, nggak ada yang lain lagi juga."
Dia memegang dadanya dramatis. "Astaga, jahatnya."
Aku tertawa. "Bercanda! Kamu nembak aja udah bagus kok, daripada sayang-sayangan tapi nggak ada status, kan?"
"Emang ada, ya, yang kayak gitu?"
"Banyak."
"Hm, makasih, ya?" Dia tersenyum dan mengusap punggung tanganku.
Aku mengangguk dan membalas senyuman manisnya. Kita saling melempar pandangan penuh cinta dan menyalurkan rasa hangat yang menjalar setiap kali kita menghabiskan waktu bersama.
"Ekhem! Maaf, Mas, Mbak, ini pesanannya," ucap si Mas Penjual Bakso yang entah sejak kapan berada di dekat kita.
Mas Penjual Bakso pun kembali melangkah sehabis menaruh pesanan kita.
"Mas, tunggu!" cegah priaku. "Pacar saya cantik nggak?"
"Cantik, pacarnya jomblo nggak, Mas? Mau saya deketin."
Aku tertawa dibuatnya. Dasar! Niatnya ingin pamer, malah dibuat kesal sendiri, kan?
"Nggak! Makasih! Pacar saya emang cantik."
Lihat, kan? Astaga... lucu sekali.
"Udah, Mas nya udah pergi, nggak usah dipelototin terus."
Dia merengut.
"Nggak usah cemberut gitu, nih, buka mulutnya," ujarku seraya menyodorkan sendok berisi potongan bakso, berniat menyuapi.
Dia menahan senyumnya, namun wajahnya tetap bersemu. "Iya."
"Kamu udah tua tapi tetap bikin gemes gini." Aku mencubit pipinya gemas. "Udah boleh dicium belum sih?"
Semburat merah kembali muncul di kedua pipinya. Astaga... dia ini benar-benar umur dua puluh delapan tahun, kah? Kenapa sangat menggemaskan?!
"Kamu tau nggak apa perbedaan kamu dengan bakso?" tanyanya.
"Bakso itu bau daging sapi, kalau aku bau kesuksesan," jawabku seraya tertawa.
Dia mencolek hidungku gemas. "Aamiin, sayang, tapi salah."
"Apa dong?"
"Bakso itu bikin kenyang, kalau kamu bikin sayang."
Buk!
"Aduh! Sakit loh, sayang... hobi banget nabok kalau salah tingkah."
Aku cengengesan. "Maaf, ya, om."
"Iya, nggak apa-apa, sini om peluk."
"Ih! Serem!"
Dia tertawa. "Loh? Kamu duluan, kok."
Aku pun turut tertawa dengannya.
"Mas-mu udah lama merantau?"
"Iya! Udah gitu jarang pulang! Mas Aryo bilang enakan di Bandung soalnya banyak teteh-teteh geulis, katanya bosan lihat aku terus! Jahat banget!" jawabku dengan menggebu-gebu.
Dia mengelus dadanya terkejut dan kemudian tertawa. "Sabar, sayang, sabar."
"Terus, ya! Tadi Mas Aryo nelepon Ibu, kan?! Masa nggak nelepon aku juga?! Udah lupa kalau punya adik?!" ujarku yang semakin tersulut api.
KAMU SEDANG MEMBACA
Glasses Man
RomantizmTentang aku, kamu, dan waktu. __________________________________ "Mas Farlan? Makasih, ya!" "Buat?" "Enggak tau juga, makasih aja." "Iya, sama-sama cantikku." __________________________________ Dia datang layaknya sang mentari yang menghangatkan san...
