Sixth Day 00:30

8 2 0
                                    

Suhu malam ini terasa sangat dingin dan salju turun semakin lebat, membuat Haechan tidak bisa tidur. Haechan menggigil kedinginan. Tubuhnya kembali terasa nyeri.

Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba menghangatkan dirinya sendiri walau hasilnya nihil. Ia masih bernafas menggunakan mulut, saat dirinya menghembuskan nafas-pun mengeluarkan uap.

Giginya gemertak, Haechan melipat kedua kakinya. Ia telungkupkan kepalanya. Haechan menangis, menangis tanpa mengeluarkan air mata dan tanpa suara.

Tangannya yang buntung sebelah itu juga mulai terasa nyeri. Haechan terjengit dan memeganginya dengan tangan kanannya. Ia merintih, tubuhnya gemetar. Tangisan Haechan semakin hebat, ia benar benar tidak kuat lagi.

Tubuhnya semakin memutih, luka ditubuhnya semakin terlihat mencolok ditubuhnya. Wajahnya-pun semakin memucat, bibirnya berwarna ungu pucat karen kedinginan.

Mata Haechan semakin mengungu dan bengkak. Haechan ingin menyerah, Haechan ingin mati. Tapi ia terlalu takut untuk mati. "Makeu... help me.. please.."

07:30

Haechan membuka matanya. Sekitarnya terdengar sangat berisik. Ia melirik kanan dan kirinya. Haechan tengah dibawa oleh sebuah mobil jeep dan beberapa orang dikanan kirinya yang tengah mengobati luka Haechan dengan obat seadaanya.

Haechan merasa sesak, terasa sangat pengap. Akhirnya seseorang pun sadar bahwa Haechan sudah sadar. Penyupir langsung mempercepat stirnya menuju rumah sakit.

"hold on sec okay... we're so sorry that cant give you an oxygen" ucap salah satu seseorang disebelah kanannya. Haechan masih lemas, kini pandangan Haechan memburam. Yang pasti, suara itu adalah suara perempuan.

Hospital 08:00

Haechan sudah sampai dirumah sakit. Salah satu perawat yang mengenali jeep tua itu langsung melarikan Haechan ke UGD. Tidak hanya sekali mereka dapat orang yang terluka sampai seperti Haechan, dan selalu jeep yang sama yang mengantarkan para korban itu ke rumah sakit ini.

Heinster, nama tempat itu. Tempat yang membuat Haechan terluka parah dan bertemu dengan Mark. Tempat itu sudah terkenal dimana mana. Bahkan kalangan polisi sekaligus. Namun tidak ada yang berani mendekatinya, bahkan melewatinya.

Banyak orang yang menghilang dan berakhir meninggal ditempat tersebut tanpa sebab yang jelas. Entah maksud tujuan apa mereka  membunuh orang yang tak berdosa sama sekali ditempat yang terlaknat itu.

Haechan langsung diberi perawatan sebaik dan seampuh mungkin. Perempuan dan Pria yang ikut didalam mobil tadi ikut masuk ke dalam rumah sakit.

Salah satu dokter yang dari UGD itu sangat kenal dengan kedua orang tadi. Dokter itu langsung menemui dua orang itu dan mengatakan bahwa Haechan butuh donor darah secepatnya. Dan setelah di tes, golongan darah Haechan adalah AB.

Sialnya, mereka berdua adalah A. Mereka berdua menelpon seluruh teman yang ada dalam kontak mereka. Sang wanita menemukan temannya yang bergolongan darah AB dan sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Haechan tetap diobati meski keadaanya dalam kekurangan darah.

Tidak sampai 15 menit, wanita itu sudah sampai dan langsung masuk ke ruangan untuk donor darah. Setelah selesai, wanita itu langsung menemui temannya. "you okay?? Catherine??" Wanita yang bernama Catherine itu mengangguk.

Catherine melihat Haechan sekilas dari kaca. "are he from..." Perempuan itu mengangguk. Catherine langsung menutup mulutnya. "i feel so sorry about him too..." Pria itu ikut menyahut. Catherine merasa iba dan menundukkan kepalanya.

Two hours after that, 10:00

Haechan sudah dibawa ke ruang rawat inap. Noen, kakak dari adik perempuannya, Jane, masuk ke dalam ruangan Haechan. Ia duduk disebelahnya.

Noen sering menjenguk korban korban yang pernah ia selamatkan. Dan setelah diamati, luka Haechan lebih parah daripada yang lain. Noen kembali merasa iba dengan Haechan, padahal ia tak pernah seperti ini ke korban yang lainnya.

Noen menatap wajahnya. Pipi yang menirus, wajah yang pucat, dan bibir yang membiru membuat Noen merasa kasihan padanya. "why am i feeling like this in all of a sudden... oh god.." gumam Noen.

Noen beranjak dari duduknya dan menggelengkan kepalanya. Noen keluar dari ruangan Haechan. Ia akan disana sendirian, atau mungkin dijaga oleh satu hingga dua perawat.

Mark POV 23:00

Mark belum tertidur, begitu juga dengan Theo. Mark hanya melamun, Theo sedang menjemur baju para pria kekar itu diatas. Mark merasa dirinya hampa.

Mark terus memikirkan Haechan. Dalam satu jam, Haechan akan genap seminggu terlantar disana, ditempat yang tak akan pernah Mark ketahui. Theo sudah selesai dan langsung merebahkan dirinya ke kasur. Theo menatap Mark.

"how long are you going to daydreamin like that... Mark? aren't you tired..?" Mark menopang dagunya, "i don't know. im just... feel so empty." Theo berdecak, "you're too much, Mark. just enough... it's your fault for liking him in this wrong place."

Ucapan Theo sedikit menusuk, namun ada benarnya. Salah dia sendiri menyukai Haechan ditempat seperti ini, ditempat terlaknat ini. Mark merasa dirinya bodoh, Mark menelungkupkan wajahnya dimeja. Theo menelentangkan dirinya dikasur. "go to sleep, Mark. your neck will hurt if you sleep there" ujar Theo

Mark tidak menggubris. Theo sudah tertidur, sedangkan Mark masih menelungkupkan wajahnya, masih memikirkan keadaan Haechan. Mark mengangkat kepalanya, dan berjalan menuju ranjangnya. Dan Mark merebahkan dirinya, menatap ke langit langit.

"how is he... God..? did he doing fine..? im so afraid about him.. so much. And suddenly.. i feel like.."

"i already miss him."

Day By DayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang