Haechan terbangun karena nyeri yang ada dilengannya. Setengah tangannya sudah terpisah, ia melirik tangannya yang terlempar begitu saja ditengah tengah ruangan.
Haechan hanya menghela nafas, miris dengan dirinya sendiri. Haechan kehilangan banyak darah, bibirnya memucat dan tubuhnya memutih. Haechan benar benar lemas, untuk bernafas saja ia tak kuat. Haechan hampir sekarat sekarang.
Haechan tak tahu sekarang pagi, siang, sore, ataupun malam. Namun Mark yang bebersih dikala pagi itu memberi tahu Haechan melalui kertas.
Kertas itu bertuliskan, "ini masih pagi, sekitar jam setengah 9. mereka akan datang jam 11. aku ingin memberimu makanan dan minuman seperti kemarin, namun pintunya terkunci. Aku tahu namamu, Lee Haechan. Aku Mark, Mark Lee. semoga kau kuat ya... maaf jika aku tak bisa membantumu lebih."
Meski pandangan Haechan sedikit buram, ia masih bisa membaca kalimat yang dituliskan Mark. Mark menulisnya dengan kertas gambar yang lumayan besar dan ia menuliskannya dengan spidol.
Haechan tersenyum kecil. Ia ingin sekali berkata, "tak apa... terima kasih sudah mendukung dan memberiku makanan dan minuman... meski tak seberapan, tapi aku senang berkenalan denganmu, Mark Lee.." , tapi ia jelas tak mampu.
Mark melipat kertas gambar itu dan ia masukkan ke dalam kantongnya. Mark kembali mengepel lantai seperti biasa, dan bertingkah seperti tidak terjadi apa apa.
Haechan merasa bebannya sedikit berkurang, ia merasa lebih tenang. Meski nanti ia akan dihajar kembali oleh ketiga pria itu atau lebih.

KAMU SEDANG MEMBACA
Day By Day
Randomi don't really know how to describe it, but what is certain is that this story is a lot of blood and quite sadistic. so be careful of reading my first story that i upload here :D maaf klo kata katanya kurang and cringe as fuck soalnya masih first ti...