Mark masih tertidur, begitupun Noen yang teridur disofa. Sudah seminggu Haechan koma, karena tidak ada siapapun yang menunggunya dihari itu.
Namun kali ini kondisinya sedikit membaik dari sebelumnya. Dan kali ini, Haechan menggerakkan jarinya dan perlahan lahan ia membuka matanya. Haechan sudah terbangun dari komanya.
Pandangan Haechan masih buram. Haechan melirik ke kanan, dan mendapati seorang lelaki berambut pirang tidur disana. /Mark..?/ batinnya.
Haechan melirik lagi kearah kiri, ia melihat lelaki berambut hitam pekat juga masih tertidur disofa. Haechan kembali menatap langit langit rumah sakit.
Haechan tak bisa membangunkan mereka, lagi pula ia tidak merasakan sakit dibagian apapun. Ia hanya merasa pusing dan merasa badannya memberat, padahal dirinya masih terbilang sangat kurus.
Mungkin karena perban yang membalut diseluruh tubuhnya sekarang. Ia terlihat seperti mummy yang masih hidup sekarang.
/srek srek/ "hmm..." Seseorang bangun dari tidurnya, entah siapa dan ia juga tidak terlalu jelas mendengar itu suara siapa.
Lelaki itu bangun dan berjalan mengambil segelas air minum lalu menengok ke arah Haechan. Haechan yang kebetulan juga menatap pria itu menangkap bahwa pria itu pria yang berambut pirang tadi.
"HAECHAN??" Mark langsung menaruh gelasnya dimeja dan menghampiri Haechan yang masih kebingungan. "h- haec- haechan- do you- remember me?? M- Mark- Im Mark" Mark berbicara gagap.
Haechan masih menatap netra Mark. Mark juga masih menatap netra Haechan sambil berkaca kaca.
"m... ma.. keu..?" ujar Haechan sangat pelan, hampir tidak terdengar oleh Mark. Namun Mark mendengar bisikan Haechan samar samar. "yes.. its me.. chan.." Mark terisak, ia tersungkur dibawah.
Haechan ingin menangis, namun ia tak memiliki tenaga sama sekali. Mata Haechan berkaca kaca, kepalanya mulai terasa pusing. Ia mengerjapkan matanya.
Noen terbangun dan langsung melihat Mark yang tersungkur dilantai sambil menangis. Noen langsung menyadari bahwa Haechan sudah bangun dari komanya.
Ia langsung menelpon dokter untuk mengecek kondisinya. Mark dipindahkan ke kasur untuk ditenangkan dirinya. Haechan baik baik saja, ia hanya terkejut dan kelelahan setelah koma hampir dua minggu. Dokter meninggalkan mereka bertiga.
Noen langsung duduk mengelus elus pundak Mark. "calm yourself Mark, he's fine right now.. you don't need to worrying about him anymore..." ujar Noen. Mark masih terisak, Mark juga tidak tahu mengapa ia sebegininya.
Mark masih mencoba menetralkan nafasnya, namun masih saja gagal. Noen menatap Haechan. Haechan sebetulnya menangis, namun ia tidak bisa mengeluarkan air matanya.
Mark sudah mulai bisa menetralkan nafasnya. Mata Mark memerah, terlihat dengan sangat jelas. Noen sedikit bingung harus bagaimana. Noen berdiri menuju ranjang Haechan.
"c- can you.. hear me?" ujar Noen. Haechan ingin mengangguk, tapi ia tak kuat untuk menggerakkan lehernya. Tangan kanan Haechan ia angkat ke perutnya. Tangannya gemetar.
Noen langsung mengadahkan tangan Haechan dan ia taruh diperutnya. Haechan berpose jempol. Noen terkekeh dengan respon Haechan, terlihat lucu baginya.
"are you hungry? or something?" tanya-nya. Haechan menggelengkan jempolnya. Noen paham dengan isyarat Haechan. "okay... calm urself okay? M- Mark is still-" "its okay...."
Haechan berbicara, terdengar serak. Noen sedikit ngilu mendengar suaranya. "dont talk, dont talk, ok?. just- just do that gesture, i understand it." ujar Noen.
Haechan tersenyum tipis. Noen membalas senyum dan kembali duduk disebelah Mark. Namun Mark malah beranjak dan berdiri menghampiri ranjang Haechan. Mark menatap netra Haechan, begitu juga dengan Haechan.
Mark hanya terdiam. Haechan yang masih lemas itu juga terdiam. "Haechan-ah... maafkan aku.." Mark bicara dalam bahasa korea. Noen tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Mark.
Haechan kebingungan mengapa ia minta maaf. Mark masih terisak, ia tertunduk. "kenapa..." Mark menatap Haechan, "kau... minta... maaf...?"
Ini pertama kalinya Mark mendengar suara Haechan, sangat serak. Mark tak tega mendengar suaranya. Mark terkesiap, "i- im just... im just sorry... c- cause you have been f- fighting for... 5 days and 2 weeks in a coma..." ujar Mark.
Haechan tersenyum tipis. "i've... woken.. up... Mark... don't... worry..." ujar Haechan. Mark tertawa, meski matanya masih berkaca kaca.
Haechan masih tersenyum tipis melihat Mark tertawa, ia terlihat sangat tampan. Haechan mulai menyukainya sepertinya, syukurlah dia tidak lupa ingatan saat dirinya sadar. Haechan sedikit senang dirinya sudah tersadar dari komanya.
Dan sekarang, dan seterusnya, Haechan akan berusaha untuk sembuh dari luka lamanya hingga lukanya saat ini.
Untuk Mark.
Dan dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Day By Day
De Todoi don't really know how to describe it, but what is certain is that this story is a lot of blood and quite sadistic. so be careful of reading my first story that i upload here :D maaf klo kata katanya kurang and cringe as fuck soalnya masih first ti...
