Second Day 10:00

20 2 0
                                    

Haechan terbangun. Ia merasa sesuatu berubah, sepertinya ia berada diruangan yang lain. Haechan menatap sekeliling.

Benar saja, ruangan semalam hanya beralaskan semen, tapi sekarang berlantai. Didepannya, terdapat kasur lusuh dan tipis sekali. Apa yang akan mereka lakukan kali ini... batinnya.

/cklek/ "you're awake..." seseorang masuk ke ruangannya. Haechan tak berani menatap pria itu. Pria itu melipat kedua lututnya didepan Haechan.

Haechan masih menunduk. /grep/ "akh-" Pria itu menarik rambut Haechan karena Haechan tidak menatap pria itu. Leher Haechan masih nyeri akibat cekikan semalam. Anak buah pria itu masuk, ia melepas tarikan dirambut Haechan.

"torture him, more than last night." ujar pria itu. Haechan yang menundukkan kepalanya mendengar ucapan Pria itu dengan jelas. Mereka tersenyum dan berjalan mendekati Haechan. Haechan mulai gemetaran dan berkeringat dingin.

/BUGHH/ Kepala Haechan dipukul, samar samar ia melihat gerombolan orang itu. Hanya 3 orang, namun mereka semua berbadan kekar dan tinggi.

Belum sempat ia tatap wajahnya, rambut Haechan ditarik dan dilempar ke pojok ruangan. Ia kembali dihajar oleh mereka, seperti itu terus menerus hingga mereka lelah.

Mereka menghajarnya sangat lama, sekitar satu hingga dua jam. Mereka lelah dan meninggalkan ruangan dengan Haechan yang terpuruk diujung ruangan dengan darah yang kembali mengalir didahi, hidung dan telinganya.

Mata Haechan kembali memerah. Haechan mengepalkan tangannya, "s... shi... bal..." umpatnya. Haechan kembali mengatur nafasnya.

Lengan Haechan terasa nyeri, luka ditangannya semakin melebar dan tulangnya semakin terlihat. Haechan meringis meratapi lengannya, nyeri sekali. Haechan gemetar menahan rasa sakit dilengannya.

Ia merasa lengannya mati rasa, tapi tidak dengan patah ditulangnya. Haechan masih mimisan, ia kesusahan bernafas. Mulutnya gemetaran, dengan darah yang menghiasi mulutnya, begitupun tubuhnya. Haechan sangat jauh dari kondisi baik.

Ia hanya ingin mati segera, tubuhnya sangat lelah. Haechan menatap kosong ke pintu depan. Haechan menangis, lagi. Pantulan dari pintu kaca itu menampakkan Haechan yang terduduk lemah dengan darah disekitar dirinya.

Haechan tersenyum tipis, ia kasihan dengan diri sendirinya yang sangat lemah ini. Tangan kanannya setia memegang tangan kirinya yang patah dan perutnya yang nyeri karena ditendang terus menerus tadi.

/cklek/ Pintu terbuka, Haechan mulai merasa takut. Pria itu mendekati Haechan. Pria itu menaruh 2 telur rebus dan satu air putih kemasan kecil. Haechan membuka matanya, menatap pria itu.

Meski terlihat buram, namun Haechan menyadari bahwa Pria itu berambut pirang. Pria itu menatap balik Haechan. "ini tak beracun, makanlah." Pria itu berbicara dengan bahasa korea, Haechan terpana.

"aku tahu kalau kau dari korea, dan... aku hanya OB disini, aku bukan penyiksa seperti mereka. tenang saja." Haechan menatap Pria itu lalu menatap makanan dan minumnya.

Persetan dengan rasa sakit di tenggorokannya, Haechan langsung meminum dan memakan kedua telur itu. Pria itu masih menunggu Haechan menghabiskan makanan dan minumannya.

Setelah Haechan selesai, Pria itu mengambil sampah kemasan air dan piringnya. "aku pergi... dan... sebentar lagi mereka akan kembali... maaf aku hanya bisa memberimu itu.." ujar Pria itu. Haechan mengangguk pelan.

Pria itu keluar dan ketiga Pria itu masuk. Kedua pria itu mulai memukul kepalanya, namun tidak dengan sang ketua. Pria itu menatap Mark dari kejauhan. Haechan tersentak. Pria itu pergi dan hanya menyisakan Haechan dan ketiga Pria itu.

Haechan kembali dihajar. Lelaki pirang itu hanya mendengar dari kejauhan. "AAAKKHHH" Suara teriakan Haechan terdengar hingga luar. Haechan hampir memuntahkan makanannya karena ia berteriak cukup kencang.

Ia mulai merasa iba, Ia masuk ke ruangannya dan pintunya ia buka sedikit. Dia khawatir dengan lelaki itu. Ia menghembuskan nafas, "hope he's doing fine..."

Namun, takdir berkata sebaliknya.

"AAAKKHHHH" Tangan Haechan yang patah diinjak oleh mereka. Para pria itu tertawa puas melihat Haechan yang menangis dan berteriak itu. Haechan ditahan oleh mereka.

Salah satu Pria mematahkan tangan Haechan ke arah yang berbeda dan menarik tangan Haechan. Kulit tangan Haechan terrobek, tangannya hampir terlepas. "ANDWAEEE AAKKHH"

Tangannya terlepas... Haechan berteriak semakin kencang. Darah dari tangan Haechan memancar ke seluruh ruangan. Lengannya terasa sakit sekali. Pria itu pergi begitu saja dari sana.

Haechan mengejang, Ia bersandar ke tembok. Haechan menangis sambil menggigit bibirnya hingga mengeluarkan darah. "aishh... akh... eomma- hiks- akh" Secara tak sadar, Haechan menyebut ibunya. Ia ingin bersama dengan ibunya, namum tidak dalam keadaan seperti ini.

Pria berambut pirang itu masih mendengar teriakan Haechan dari dalam. /tok tok tok/ Seseorang mengetuk pintu, Pria itu langsung membuka pintunya.

"Mark, can you wash this up? we still need this clothes for tomorrow." "yes sir." Ketiga Pria itu menjauh dari pandangannya. Pria yang bernama Mark itu menaruh pakaian itu asal dan menghampiri Haechan.

Ia ingin membuka pintunya, tapi dikunci. "shit..." Umpat Mark. Haechan masih gemetar dan darah dilengannya masih mengalir. Haechan memegangi lengannya, nafasnya tersendat sendat. Mark hanya menatap Haechan dan pergi dari sana.

Mark sadar, bahwa tangan kiri Haechan sudah terlepas. Dan ditempat ini, hanya Haechan yang diperlakukan lebih daripada yang lainnya. Mereka biasanya hanya sehari sekali, tapi tidak dengan Haechan. Ia bisa dalam sehari diperlakukan seperti itu 3 kali.

Entah mengapa reaksi Haechan sangat berbeda dari yang lain. Teriakannya sangat candu ditelinga mereka, sehingga mereka terus menerus ingin menyiksanya.

Day By DayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang