Part 14

1.3K 251 119
                                        

Halo, sudah lama tidak berjumpa dengan Raja dan Ratu Azure. Masih adakah yang ingat cerita ini? Maaf karena membuat kalian harus menunggu lama. Untuk kabar update selanjutnya tidak ada jadwal khusus, tapi aku usahakan secepatnya ya.

Selamat membaca💓










“Berikan ia kuasa, agar Sora mengerti di mana tempatnya.”

Kalimat yang pernah terucap dari bibir Sang Ibu masih terngiang dalam benak Jeno. Namun, ia yakin Renjun tak akan pernah tergeser. Sebelum kata-kata itu lahir, ia telah menyiapkan rencana.

“Tidak, Ibu,” ucapnya tegas dalam sunyi. “Langkah Sora takkan sejauh itu. Aku takkan membiarkan Renjun meninggalkan sisiku.”

Jeno sengaja menunda memiliki keturunan dengan Renjun. Bukan tanpa alasan. Ia tahu, kehamilan Permaisurinya akan dijadikan alat oleh para penentang. Ia sadar pula, Sora takkan rela anak Renjun lahir, sebab keberadaannya mengancam Logan—sang pewaris takhta. Maka demikianlah cara Jeno melindungi cinta hatinya.

Namun waktu menuntun hatinya berubah. Setelah hampir kehilangan Renjun di kunjungan mereka ke Tyrone, ia akhirnya mengambil keputusan: Renjun harus melahirkan darah dagingnya, agar ikatan mereka tak tergoyahkan, agar Renjun tak lagi memiliki alasan untuk meninggalkannya.

Raja Azure itu tahu langkahnya terlambat. Seharusnya sejak awal ia bisa mengikat Renjun dengan cinta yang berwujud keturunan. Tetapi baru kini ia memiliki keberanian itu—didorong rasa takut yang lahir dari kehilangan.

Kali ini Jeno bersumpah akan menghadapi sendiri siapa pun yang berani menyentuh Renjun. Jika kelak Permaisurinya mengandung, ia akan menutupinya rapat, menyembunyikannya dari mata istana, menjaga hingga saat yang tepat tiba.

“Yang Mulia, mohon maaf mengganggu. Perhiasan yang beberapa waktu lalu Anda pesan untuk Permaisuri, telah tiba.”

Jeno berbalik dari jendela yang memperlihatkan bentangan luasnya Kerajaan. Pandangannya kini tertuju pada Sungchan, abdi setia yang menunduk penuh hormat.

“Bawa ke paviliun ku. Panggil Ratu ke sana,” titahnya.

Sungchan segera berlalu setelah memberikan salam penghormatan pada sang Raja untuk memenuhi tugasnya.

Langkah Sang Raja berderap lembut menyusuri koridor marmer. Tirai sutra bergetar ditiup angin senja, sementara cahaya emas matahari melukis siluetnya—menambah wibawa pada sosok tampan nan kharismatik itu.

Hari itu, ada debar halus di dadanya—bukan karena peperangan, bukan pula karena takhta—melainkan karena perasaan membahana yang bergejolak di dalam dada. Kini ia tengah berjalan menuju paviliunnya, di mana hadiah yang ia pesan khusus untuk sang belahan jiwa, Roohi-nya.

Saat pintu paviliun terbuka, cahaya lampu kristal menyambut. Di atas meja, sebuah kotak beludru biru terpajang di bawah kubus kaca. Di dalamnya, perhiasan berkilau seolah meminjam cahaya bintang. Berlian biru itu bersinar, seindah tatapan mata Renjun kala tersenyum hangat—sorot mata yang begitu dirindukan Jeno.

Jeno menatapnya dengan senyum yang tak bisa disembunyikan. Dalam diam ia berbisik pada dirinya sendiri, bahwa setiap kilau perhiasan itu hanyalah bayangan kecil dari cahaya yang sesungguhnya, cinta yang tumbuh dan bersemayam dalam hatinya untuk Renjun, sang permaisuri, sang jiwa dan raganya.

Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Dengan Renjun yang berdiri di ambang. Tatap mereka bertemu, saling mengunci, hingga langkah-langkah Permaisuri yang anggun membawa dirinya dekat pada Sang Raja.

Dengan lembut, Jeno menggenggam tangan Roohi-nya. Dibawanya sang istri mendekati meja perhiasan. “Lihatlah ini, Permaisuri. Indah, bukan?”

Renjun terpaku. Sebuah kalung dengan berlian biru berkilau menantinya. Begitu indah sangat menawan.

SHADOW QUEEN - NorenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang