Waktu demi waktu berlalu. Hubungan Jeno dengan Renjun mulai membaik, membuat Kerajaan terasa hangat. Meskipun jalannya tidak cepat, tapi Jeno dan Renjun menikmati alur mereka yang lamban namun menenangkan ini.
Jeno tidak lupa dengan pertemuan terakhir bahwa kali ini Azure diminta menjadi tuan rumah perserikatan. Maka inilah saatnya hari yang dijanjikan akhirnya tiba, diselimuti langit Azure yang cerah namun sarat kewaspadaan. Sejak fajar, istana telah terjaga lebih awal dari biasanya. Lonceng perunggu berdentang pelan, menandai dimulainya sebuah peristiwa yang akan dicatat dalam sejarah perserikatan antarnegara.
Jeno berdiri di ruang pertemuan keluarga kerajaan, suaranya tenang namun tegas—nada seorang raja yang tak memberi ruang bagi kelengahan. Ia tahu bahwa ada seseorang yang mengintainya, berusaha mencari celah agar bisa merebut Renjun. Maka detik inilah waktunya dimana ia tunjukan bahwa Jeno tidak akan membuat siapapun bisa bermain dengannya.
Ia memerintahkan para bangsawan, pelayan, dan pengawal istana untuk menjaga tata krama setajam pedang dan setulus hati. Setiap gerak harus terukur, setiap jamuan harus disuguhkan dengan kehormatan, namun tak satu pun lengah dari kehati-hatian. "Kita menjamu tamu," katanya, "bukan menyerahkan celah."
Aula besar Kerajaan Azure dipersiapkan bagai lukisan hidup. Pilar-pilar marmer menjulang, diukir dengan relief kejayaan lama. Permadani biru tua berbenang emas membentang dari pintu utama hingga singgasana. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya seperti hujan bintang, sementara tirai sutra berwarna perak beriak lembut mengikuti hembusan angin yang masuk dari jendela-jendela tinggi. Meja jamuan berderet rapi, memamerkan perak ukir, piala kristal, dan hidangan terbaik dari tanah Azure—hasil bumi yang subur, laut yang murah hati, dan tangan-tangan terampil yang bekerja dalam diam.
Sebelum acara dimulai, para perwakilan perserikatan telah berkumpul. Raja-raja dan utusan berdiri berkelompok, bertukar salam yang sopan namun penuh hitung-hitungan. Di antara kerumunan itu, Sora berjalan tanpa rasa malu, suaranya nyaring memperkenalkan diri di setiap sudut. Ia menyebut namanya dengan bangga, menegakkan dagu, dan berulang kali menekankan satu hal—bahwa ia adalah ibu dari Logan, putra mahkota. Senyumannya terukir lebar, seolah aula itu miliknya. Beberapa tamu mengangguk sopan, yang lain menahan raut heran. Nama Renjun, permaisuri Azure, seakan sengaja dihapus dari percakapan.
Renjun sendiri masih berada di balik pintu-pintu dalam. Ia diminta menunggu. Di ruangannya, Renjun menata napas. Gaun permaisuri berlapis sutra lembut membingkai tubuhnya, sederhana dalam potongan namun agung dalam makna. Hanya saja Renjun tidak mengerti kenapa lagi-lagi ia seolah diminta bersembunyi.
"Tuanku," ucap Renjun pelan, jemarinya mencengkeram lipatan gaun. "Mengapa aku harus menunggu di sini? Bukankah seharusnya kita menyambut para tamu bersama?"
Jeno menoleh sepenuhnya. Tatapannya lembut, namun di dasar mata itu berdiam ketegasan yang tak bisa ditawar. Ia mendekat, merendahkan suara agar hanya mereka yang mendengar.
"Karena aku membenci saat mereka menjadikanmu tontonan," katanya tenang. "Aku tahu bagaimana mata-mata bekerja—mereka tidak hanya melihat, mereka menakar, menginginkan, lalu melukai." Renjun menghela napas, ada ragu yang bergetar. "Aku tidak rapuh."
"Aku tahu," jawab Jeno, jemarinya menyentuh punggung tangan Renjun—singkat, hangat.
"Justru karena itu aku melindungimu. Ada mata jahat di aula itu. Dan tugasku adalah memastikan tidak satu pun berani mendekatimu dengan niat kotor." Ia menatapnya penuh keyakinan. "Kehormatanmu bukan bahan jamuan. Kau akan hadir—tapi dengan caraku."
Renjun terdiam. Dalam ketenangan suara itu, ia mendengar cinta yang tak lagi bersembunyi. Ia mengangguk kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHADOW QUEEN - Noren
FanfictionMendapat keindahan mu di sepanjang hidupku adalah sebuah keberuntungan yang selalu aku syukuri di setiap detiknya. Sepanjang waktu kalbu ku menjerit, pantaskah aku yang kecil ini bersanding dengan sosok agung seperti mu. Cinta mu tak hanya memberiku...
