Part 16

682 154 14
                                        



Ruang kamar utama begitu hening. Hanya suara napas keduanya yang terdengar, masih tersengal, masih sarat sisa tangis. Pelukan mereka tak kunjung terlepas, seolah masing-masing tak ingin kehilangan hangat tubuh yang kini terasa lebih berharga daripada semua harta dunia.

Jeno merendahkan wajahnya, menyelipkan jemarinya di sela rambut halus Renjun. Mata tajamnya yang biasanya dipenuhi bara kini redup, lembut, penuh rasa takut dan cinta yang tercampur jadi satu. Ia mengecup kening Permaisurinya lama, begitu lama, hingga Renjun merasakan denyut hati lelaki itu berdetak kencang, tepat di balik dada bidang yang mendekapnya.

Suara Jeno parau, retak, namun di dalamnya terselip nada lembut yang belum pernah Renjun dengar sebelumnya. "Rasanya mencekik, seperti aku hampir kehilanganmu ... aku tidak akan sanggup bila itu terjadi."

Renjun memejamkan mata, membiarkan dirinya larut dalam bisikan itu. Untuk pertama kalinya ia merasa Jeno menatapnya bukan sebagai Ratu Azure, bukan sebagai simbol kekuasaan, melainkan sebagai sosok yang benar-benar dicintai.

Perlahan, Jeno mengangkat wajah Renjun, menatap iris bening yang masih basah oleh air mata. Tangannya mengusap pipi pucat itu, jemarinya bergetar namun penuh kelembutan. "Aku begitu rapuh saat melihatmu terkulai tadi ... aku rasa hidupku akan terhenti."

Renjun menggenggam pergelangan tangannya, lantas menatap Jeno lekat—Renjun kembali menitikkan air mata di pipinya. Sebab baru kali ini ia mendengar kalimat yang membuatnya merasa dicintai selama pernikahan mereka. Kalimat yang akhirnya bisa menguatkan langkahnya untuk bertahan.

Jeno menatap khawatir sosok yang kini ia dekap, "Apa ada yang sakit, permaisuri" Sebuah gelengan lembut Jeno dapatkan sebagai jawaban, lalu ia kembali bertanya "Atau kah aku membuatmu tidak nyaman" Renjun kembali menggeleng.

Renjun masih berada dalam pelukan Jeno—erat, seolah dunia di luar kamar itu telah berhenti berputar. Ia bisa merasakan detak jantung Jeno yang tak beraturan, bisa merasakan kehangatan tubuh lelaki itu yang biasanya begitu kaku, kini luluh, dan rapuh.

"Tuanku ..." panggil Renjun perlahan, kepalanya masih bersandar di bahu Jeno. "Aku tidak ingin cinta yang perlu ku tebak. Aku tidak ingin kasih yang harus kucari artinya."

Jeno terdiam. Pelukannya mengendur sedikit, memberi ruang bagi Renjun untuk menatap wajahnya. Mata keduanya bertemu—mata yang selama ini hanya saling menatap dari balik topeng peran, kini menatap sebagai dua hati yang akhirnya berani telanjang.

Renjun melanjutkan, suaranya bergetar tapi penuh keteguhan, "Sejak kecil ... semua orang berkata mencintaiku. Ayah, ibu, bahkan kakakku. Tapi yang kurasakan berbeda. Mereka bilang semua itu demi kebaikanku, tapi apa artinya cinta jika yang tertinggal hanya luka?"

Renjun menarik napas yang terasa berat, seakan seluruh hidupnya bergantung pada tarikan itu. Dadanya sesak, bukan oleh tangis yang ingin pecah, melainkan oleh perasaan lama yang terlalu lama ia pendam sendirian. Di dalam pelukan Jeno, tubuhnya hangat—namun hatinya masih menggigil, dipenuhi jejak dingin dari tahun-tahun yang terasa sunyi.

Baginya, semua yang dilakukan Jeno selama ini adalah jarak yang dibungkus kemewahan. Setiap perhiasan yang melingkari lehernya terasa seperti rantai emas, indah dipandang, namun berat menekan. Setiap kamar megah yang ia tempati hanyalah ruang gema, tempat namanya jarang dipanggil dengan rindu. Ia hidup dikelilingi segalanya, namun tak pernah merasa dipilih.

Renjun tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta selalu datang dengan syarat. Bahwa dicintai berarti harus kuat, harus patuh, harus diam ketika sakit. Maka ketika Jeno memilih sunyi, memilih kuasa, memilih menjaga jarak dengan alasan kebesaran, Renjun belajar menyusutkan dirinya sendiri. Ia belajar untuk tidak meminta. Tidak berharap. Tidak menangis terlalu keras.

SHADOW QUEEN - NorenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang