Part 15

1.7K 229 98
                                        

Sebelum masuk ke cerita, aku mohon maaf karena book ini belum bisa aku ganti nama tokohnya. Sebab partnya sudah terlalu banyak, dan sudah terlalu lama. Jadi untuk perombakannya memerlukan waktu lagi. Sekali lagi aku mohon maaf, tapi di ceritaku yang baru, aku sudah mengganti tokohnya. Harap dimaklum ya🤍












°°°°°











Tangan Jeno gemetar saat menopang tubuh istrinya yang terkulai, seolah sehelai kain rapuh yang tak mampu lagi melawan hembusan angin. Napasnya memburu, dadanya bergemuruh oleh rasa takut yang belum pernah ia rasakan, bahkan di medan perang sekalipun. Dengan sigap ia mengangkat tubuh Permaisurinya untuk ia bawa kembali ke Kamar utama di Paviliun Raja.

“Sungchan ... Sungchan!”

Teriak Jeno sembari berlari mendekati pembaringan dan dengan hati-hati menurunkan tubuh Renjun di sana.

“Panggil dokter kerajaan! Cepat!” suara Jeno menggema, pecah di antara dinding-dinding megah istana yang seakan ikut terperanjat melihat Permaisurinya terkulai tak berdaya.

Sungchan, yang baru tiba, sontak kembali berlari tanpa banyak bertanya. Raja Azure mendekap erat tubuh Renjun, mengelus wajah pucatnya dengan jemari yang bergetar. “Roohi ... bangunlah, jangan tinggalkan aku ...” suaranya serak, penuh luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapapun sebelumnya.

“Yang Mulia, mohon beri saya ruang.” Ucap sang dokter Kerajaan yang akhirnya tiba, setelah memberi salam hormat pada Pemimpin Negerinya.

Jeno melepaskan pelukannya namun enggan melepas genggaman tangannya pada Renjun. Tatapannya menusuk tajam ke arah sang dokter, seolah memberi peringatan, kesalahan sekecil apa pun akan berakhir dengan malapetaka.

Dokter itu memeriksa denyut nadi Renjun, menatap lama wajah pucatnya, lalu menempelkan telinga ke dada sang Permaisuri. Beberapa menit terasa seperti keabadian bagi Jeno. Setiap detik tanpa suara Renjun bagaikan siksaan.

“Apa yang terjadi Permaisuri?!” suara Jeno meninggi, tidak sabar, bahkan gemetar oleh rasa takut. “Katakan padaku, sekarang juga!”

Dokter kerajaan itu menghela napas pelan. “Yang Mulia, tenanglah. Keadaan Permaisuri tidak berbahaya—” Kalimatnya menggantung sejenak, sebelum dilanjutkan kembali “Ia ... ia sedang mengandung.”

Waktu seakan berhenti. Jeno terpaku, matanya membesar, suaranya tercekat. “M—mengandung ...?”

Dokter itu mengangguk, suaranya penuh kehati-hatian. “Ya. Tanda-tanda jelas terlihat. Permaisuri tengah mengandung darah daging Anda.”

Roohi ... Anak kita ...” bisiknya parau.

Jeno memejamkan mata, dadanya naik-turun tak terkendali. Sebuah rasa syukur menyeruak, begitu kuat hingga membuatnya hampir terisak. Akhirnya, hal yang selama ini diharapkan telah terwujud. Renjun mengandung darah dagingnya.

Tetapi bersamaan dengan itu, bayangan ancaman pun datang. Ia tahu betapa berbahayanya kabar ini jika sampai ke telinga pihak yang membencinya—terutama Sora dan para penentang yang menunggu celah untuk menjatuhkan mereka.

Jika mereka tahu ... jika mereka mencium tanda-tanda ini ... mereka akan merenggut segalanya dariku.

Sepasang jenggalanya kembali terbuka. Tatapannya berubah dingin, penuh kuasa, ketika menoleh pada sang Dokter Kerajaan. “Dengarkan aku baik-baik,” ucapnya rendah, namun setiap kata menekan seperti bilah pedang di tenggorokan. “Apa yang kau tahu di sini tidak boleh keluar dari bibirmu.”

Dadanya mengeras, rahangnya menegang. Ia kembali memandang Renjun, yang terbaring lemah, dan dalam hatinya pecah sumpah yang terdengar seperti doa bercampur ancaman.

SHADOW QUEEN - NorenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang