LET'S DO IT TOGETHER

3 0 0
                                        

Lily seperti kehabisan nyawa pagi ini. Saat matahari sudah mulai mengintip malu-malu dari gorden yang tidak tertutup sempurna. Ia masih berbaring sambil menatap cahaya yang memantul dari lantai keramiknya. Ia bergeming, sekalipun dirinya tahu jika terus berada di posisi itu tidak lama lagi ia akan terlambat, namun sebagian dari dirinya seperti kehilangan semangat untuk hidup. Setelah mencoba melawaan, akhirnya Lily memilih untuk bangun, karena posisinya tidak akan tiba-tiba berubah dari kamar menjadi ruang kelas jika ia hanya merenung tanpa melakukan apapun. Dan jujur saja, tidak melakukan apapun itu lebih buruk dari pada kelelahan karena melakukan terlalu banyak hal. Karena ketika ia tidak melakukan apapun, kemungkinannya untuk tenggelam dalam kesepian yang suram lebih tinggi. Jika ia menyibukan diri seharian ini, setidaknya sore nanti ia akan jatuh tertidur bahkan mungkin tanpa sempat mengganti pakaian. Dan itu lebih baik.

"Udah mau berangkat?" Lily menghentikan gerakannya saat sebuah suara menginterupsi dari belakang.

"Iya." Lily menjawab singkat.

"Nih uang buat seminggu ke depan." Ibunya menyodorkan sejumlah uang yang langsung diambil oleh Lily tanpa banyak bicara. Setelah itu ia bergegas pergi, dan Ibunya pun tidak mengeluarkan kalimat apapun saat putrinya pergi begitu saja. Sedikit-banyak ia sadar kalimatnya semalam sudah keterlaluan dan sangat menyakitkan. Hanya saja ia kadang tidak mampu menahan mulutnya untuk tidak mengatakan hal-hal jahat saat emosinya sedang naik. Tapi membawa kembali luka yang sangat dalam adalah sesuatu yang keji, dan ia tahu itu.

Sedangkan disisi lain Lily tengah termenung, untuk yang entah keberapa kalinya, sambil menunggu angkutan umum yang lewat. Akibatnya ia beberapa kali melewatkan angkutan tersebut hingga akhirnya ada salah satu angkutan umum yang mengklaksonnya hingga ia tersadar dan tanpa basa-basi naik ke atas angkutan tersebut.

Sejenak ia kembali mengingat terakhir kali ia naik angkutan umum sepert ini adalah ketika ia bertemu dengan Belva untuk pertama kalinya. Gadis itu tersenyum tipis sambil menikmati angin yang bercampur dengan polusi udara. Masih sama seperti terakhir kali ia di posisi ini, kali ini pun di kanan-kirinya masih ada sekumpulan Ibu-ibu yang bergosip. Hanya saja  kali ini ia tidak ingin mendengarkan apapun. Tak lama Lily sampai di pertigaan di mana ia harus transit menggunakan angkutan yang berbeda untuk sampai ke Sekolahnya. Karena ini adalah jam berangkat kerja, jadi jalanan sangat padat dari 3 arah yang ke 6 haluan yang berbeda.

TIINNNNNNN
Lily melihat sebuah mobil dari ujung matanya, kejadian itu terlalu cepat hingga ia bahkan tidak sempat berpikir untuk mengambil langkah mundur, dan dalam sepersekian detik saat ia sudah pasrah jika setelah ini beberapa tulangnya akan patah. Tiba-tiba saja sebuah tangan menarik tubuhnya hingga ia bisa merasakan punggungnya menubruk sesuatu yang tidak terlalu keras dan mendarat pada suatu tumpuan. Lily sempat terdiam dan membeku karena selama beberapa saat ia kehilangan fungsi otaknya yang masih shock, tapi kemudian beberapa orang yang terdiri dari Bapak-bapak mulai mengerubunginya dan mencoba membantu Lily untuk bangkit, setelah itu mereka juga membantu seseorang yang menarik lengan serta menjadikan tubuhnya sebagai tumpuan tadi.

"Belva?!" Lily langsung menarik paksa kesadarannya dan spontan menghampiri pria yang kini masih meringis dengan bagian tubuh belakang yang sudah sangat kotor terkena genangan air yang bercampur dengan lumpur. "Lo gak apa-apa?" Setelah menyadari mereka berdua saling mengenal akhirnya orang-orang itu mulai pergi untuk kembali ke kesibukannya masing-masing dan meninggalkan keduanya.

"Lo yang gak apa-apa?" Belva balik bertanya. "Dari tadi lo gue panggilin gak nengok-nengok, untung gue sempet lari waktu lo mau nyebrang tapi gak liat kiri-kanan kayak orang mau bunuh diri." Lily terlihat kebingungan, karena ia tidak mendengar suara siapapun memanggilnya, dan ia juga tidak merasa hendak menyebrang. Sepertinya ada yang salah dengan dirinya.

"G-gue gak tau." Melihat Lily yang terdengar linglung. Belva lantas mencarikan tempat untuk duduk, setelah itu ia memberikan sebotol air yang tadi ia beli tanpa peduli orang-orang menatapnya aneh dengan pakaian kotor penuh lumpur.

HER LIFETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang