Love Your Life

8 0 0
                                        

Lily berdecak saat ujung jemarinya berdebu akibat menggapai tempat persembunyian kunci yang diletakan di sela-sela pembatas pintu. Setelah berhasil masuk, ia langsung melempar tas nya ke atas sofa dan meletakan sepatunya secara asal. Saat menoleh ke arah jam dinding yang menjadi satu-satunya sura yang mengisi ruangan yang luas tersebut, jarum pendeknya menunjukan pukul 6 sore, namun senja sudah jatuh dan membuat ruangan di rumah itu menjadi kian meremang seiring berjalannya waktu. Lily selalu merasa tidak nyaman dengan kesunyian rumah ini, ia tidak menyukai udara dingin yang mencekam dan kekosongannya yang seolah tak berujung.

Kemudian ia berjongkok dan dengan tangan mungilnya yang mencoba mencapai sesautu dari kolong etalase, sekalipun ia kesulitan, namun setelah berusaha sedikit lebih keras dengan memaksakan lengannya masuk lebih dalam sekalipun itu menyakiti lengan atasnya yang terjepit antara lantai dan etalase, namun ia behasil mengambil sebuah bungkusan hitam besar dari sana, dengan tidak sabar Lily membuka bungkusan itu dengan tergesa, hingga kulit jarinya lecet dibeberapa bagian, padahal jika ia sedikit lebih bersabar dan meluangkan waktu ke dapur untuk mengambil pisau atau gunting, mungkin ia tidak perlu terluka. Tapi Lily sudah muak dan tidak sabar, jadi ia langsung mengeluarkan isinya yang merupakan sebuah jam dinding besar yang jika dilihat dari bentuknya tidak ada yang istimewa dari jam dinding itu, namun jam itu memiliki sistem penggerak berupa sweep movement di mana ia tidak akan mengeluarkan suara berdetak, dan hanya berputar dengan gerakan memutar yang konstan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

Lily menarik sebuah kursi dan mencoba meraih jam dinding lamanya yang masih sangat berfungsi dengan baik, dengan hati-hati ia menurunkan jam dinding yang membuatnya terbatuk-batuk dan bersin akibat debu yang menumpuk di belakangnya itu. Setelah menurunkan jam dinding tersebut, Lily pergi ke dapur untuk mencari sendok yang memiliki ujung runcing, kemudian ia menggunakan ujung sendok tersebut untuk membuka baut dari penutup mesin jam dinding lamanya, dan setelah itu ia mengeluarkan baterai yang berada di dalamnya kemudian menutup kembali jam dinding tersebut dengan cara yang sama seperti saat ia membukanya.

Lily mengusap-usap jam dinding tersebut untuk membersihkan debu yang menempel, dan memasukan jam itu ke dalam bungkusan jam barunya, sekalipun bungkusan itu sudah sedikit rusak karena ia membukanya dengan tidak sabaran tadi, namun setidaknya masih bisa digunakan untuk menyimpan jam dinding lamanya, setelah selesai membungkus jam itu dengan rapat dan memastikan benda apapun tidak akan bisa dengan mudah masuk ke dalamnya, ia lantas mendorong bungkusan itu ke kolong etalase dan mulai memasukan baterai yang tadi ia keluarkan ke dalam jam dinding barunya, setelah itu ia mensinkronisasi waktu yang ada di ponselnya dengan jam tersebut, ia kemudian naik ke kursi yang sama dan menempatkan jam itu ditempat yang sama dengan jam dinding lamanya, dan kini ruangan itu semakin sunyi tanpa suara sama sekali.

Lily mendongak untuk melihat posisi jam barunya, bukan untuk memastikan apakah posisinya semetris, melainkan mencoba terbiasa dengan suasana baru ini. Jam dinding lamanya, sudah ada di rumah ini selama hampir lebih dari satu dekade, tapi hari ini ia memutuskan untuk menyingkirkannya, dan untuk kali pertama selama hampir lebih dari 10 tahun, kini ia telinganya tak lagi mendengar suara detak apapun, sebuah suara dari benda yang hanya bertugas untuk menunjukan waktu, dan mengabdi dari tahun ke tahun, padahal itu hanyalah benda mati dan ia sama sekali tak bersalah, bahkan jika suara detaknya membuat Lily tak nyaman, itu adalah bagian dari spekulasi Lily, salahnya.

Dulu rumah ini sehangat musim semi di benua Eropa, suara ayahnya yang menyapa dan tertawa seolah mengisi setiap celah dari rumah ini dan tak membiarkan keheningan apapun masuk ke dalamnya, dulu rumah ini penuh dengan obrolan yang terus mendayu, bahkan ketika pembahasannya tak memiliki rencana, namun semua itu mengalir tanpa riak. Rumah ini pernah hidup. Namun ketika yang memberikan nyawa akhirnya pergi, maka kehidupan di rumah ini turut mengikuti kematiannya.

HER LIFETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang