Siang itu adalah hari di mana matahari terasa sangat menyengar, setidaknya itu yang pertama kali Lily rasakan. Bagaimana tidak? Ia baru bangun pukul 11 siang dalam keadaan jendela terbuka dan gorden tersingkap. Karena hari ini merupakan hari libur maka Lily memutuskan untuk tidak melakukan apapun selain bermain ponsel tentu saja. Hanya itu yang ia lakukan selama 2 jam kedepan. Ia bahkan tidak beranjak dari ranjangnya untuk sekedar membasuh wajah atau apapun yang biasa manusia normal lakukan. Sejak matanya terbuka, Lily tidak mengubah posisi tubuhnya selain tangan yang kini menggenggam ponsel dan berselancar ria di media sosial. Mempertontonkan hal yang sebenarnya tidak penting atau memberikan keuntungan apapun. Akan tetapi bukankah hampir semua pengguna media sosial memang berselancar untuk mencari hiburan?. Penting atau tidak, jika orientasinya adalah hiburan maka hal tersebut sah-sah saja, toh yang terpenting memenuhi parameter untuk menghibur yang menjadi fungsi utama media sosial tersebut.
Entah sudah berapa ratus vidio tidak berbobot yang Lily tonton hari itu, hingga rasanya kedua mata coklatnya mulai pegal dan berat.
"Mbak, cangkul di mana ya?" Lily berdecak sebal saat mendengar sebuah suara yang tak lain dan tak bukan adalah asisten rumah tanggganya yang datang setiap 2 atau 3 hari sekali.
"GAK TAU TANYA PAPAH COBA." Teriak Lily dari dalam kamarnya. Lagi pula mana ia tahu di mana letak cangkul di Rumah ini? Memangnya ia pengguna aktif cangkul?. Yang suka bertani dan bercocok tanam kan ayahnya, kenapa jadi dirinya yang ditanya?.
"Dari tadi saya panggil Bapak ndak ada." Ujar asisten rumah tangganya. Lily sedikit mengernyit, tumben sekali Ayahnya tidak ada.
"Ya mana saya tau, emangnya saya ngoleksi cangkul?!." Lily membalas dengan geram. Setelah itu tak lagi terdengar suara dan ia melanjutkan kegiatannya tanpa beban. Selama setengah jam berlalu dengan tenang tiba-tiba suara bergemuruh terdengar dari arah belakang Rumah dan disusul dengan teriakan-teriakan histeris.
"MBAK!!!! MBAK!!! MBAK!!! BAPAK MBAK!!!."
"Papah?!." Lily seketika bangkit dari posisinya tanpa peduli sakit yang tiba-tiba menusuk kepala karena berubah posisi secara tiba-tiba. Saat mendengar asisten rumah tangganya berteriak histeris, Lily tidak bisa berpikir tentang apapun selain keluar dengan nafas yang sudah tak karuan, ia bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi entah mengapa perasaannya sudah hancur terlebih dahulu.
Sesuatu yang buruk terjadi.
Lily sampai di belakang, di mana asistennya sudah histeris di depan pintu kamar Papahnya yang kini terbuka, namun Lily hanya mampu menatap kaki Ayahnya yang menjulur tanpa mampu berjalan lebih dekat. Lily seketika lupa caranya bernafas, ia mundur beberapa langkah, dan bersandar pada dinding dapur ketika kakinya seperti tak mampu menopang beban tubuhnya sendiri.
Dunianya seakan berhenti berputar.
"MBAK BAPAK-"
"DIEM!!!." Lily menjambak rambutnya sendiri, ia tidak mau mendengar apapun yang berhubungan dengan ayahnya. Ia masih mencoba untuk menarik nyawanya menuju realita namun mungkin itu adalah hal tersulit yang pernah ia lakukan. Suasana menjadi sangat kacau, karena Lily mulai histeris dan meraung ketika ia sudah berhasil menyadari kenyataan yang saat ini terjadi. Lily tidak sanggup membayangkan apapun, dan dengan sisa kewarasannya Lily berlari keluar dari Rumah.
Setelah berada di teras ia langsung menjerit histeris dan menangis dengan raungan yang siapapun akan tahu betapa sakit perasaanya saat ini hanya dengan mendengar jeritan dan raungan itu. Satu persatu orang mulai berdatangan, dan bertanya ada apa, namun Lily tidak mampu mengatakan apapun dan terus menangis histeris, sampai akhirnya asistennya datang dari arah dalam rumah dengan wajah panik.
"Pak Yusuf meninggal." Ucapnya dengan nafas terengah-engah.
"LO BISA DIEM GAK?!" Lily menampar asisten rumah tangganya yang mengatakan hal yang paling tidak ingin ia dengar seumur hidupnya. Siapapun tidak ada yang menyangka Lily akan melakukan hal tersebut. Begitupun dengan dirinya sendiri. Ia tidak siap mendengar itu, tidak untuk saat ini, atau esok, atau kapanpun.
