13

1.6K 56 4
                                        

Desember 2014
Los Angeles

"Kau baik-baik saja?"

Aku menatap Jean sebentar. Memastikan bahwa dia benar-benar bertanya kepadaku.

"Ya."

"Pesta Kaigan berantakan."

"Oh, Axe memukuli seseorang. Aku sudah melihat videonya."

"Kau memintaku menjemput."

"Maafkan aku."

Jean mengulurkan tangan. "Berikan aku sekaleng soda."

Aku memberikannya sekaleng soda. Kami duduk bersisian di sofa. Tidak saling bicara dan hanya menonton film yang dipilih oleh Jean. Tiga bulan merubah hubungan kami. Jean lebih banyak bicara pada saat tertentu. Itu sebuah perkembangan yang belum memuaskan. Jean masih lebih suka menutup mulutnya sehingga aku merasa canggung.

Hugo baru pulang setelah langit gelap. Lagi, dia membeli pizza. Aku mengomentarinya. Hanya bercanda, tetapi ia membuatkanku sepiring pasta dan jus alpukat yang lagi-lagi menggunakan alat pemecah buah buatannya. Benda itu cukup berguna, meskipun suaranya cukup berisik.

"Astaga, kau mengajarinya menonton porno."

"Ini bukan cerita porno tahu." Aku mengoreksi.

"Mendez sialan ini memang pintar memanipulasi para gadis. Betapa malangnya putriku tercinta ini." Hugo mencium rambutku, selagi tangannya merebut remote dari Jean.

"Apa yang kau lakukan, sialan?"

"Kau tidak boleh merusak puteriku."

Jean menyentak dirinya dari sofa. Dulu aku merasa cemas melihatnya seperti itu, tetapi sekarang aku tahu bahwa meskipun mereka saling memukul, mereka hanya bercanda.

"Nah, bagaimana jika kita menonton sesuatu yang lebih menarik?"

Aku melotot. "Astaga, hantu?"

"Kau boleh memelukku jika kau takut. Tentu saja gratis."

"Aku bisa menonton hantu, tapi pastikan tidak ada adegan berdarah-darah di dalamnya."

"Justru itu yang menarik."

"Itu film psikopat namanya, bukan hantu."

"Ayolah, itu hanya film."

Aku hanya bisa menghela melihat Hugo memilih film berjudul Evil Dead. Hugo adalah laki-laki sejati. Ia sedikitpun tidak terkejut atau mengumpat melihat setan itu muncul secara tiba-tiba. Sorot matanya serius. Sesekali ia menggigit pizanya. Sementara itu aku merasa ngeri dan ngilu. Darah yang terlalu banyak entah bagaimana mengingatkan aku kepada Kaigan. Dia memukuli orang tanpa peduli darah yang mengalir seolah-olah dia tidak berbeda dari setan yang aku tonton.

"Kau membutuhkan pelukanku, Richard?"

"Tidak."

"Tinggalkan saja di sini." Hugo menarik tanganku. Mencegah aku untuk pergi ke pantry meletakkan piring.

"Aku mau mengambil minuman."

"Jean, bawakan puteriku sebotol minuman."

Jean di pantry menatap malas. Ia sangat keberatan, tetapi anehnya tetap datang kepadaku memberikan sebotol minuman.

"Dia pucat. Apakah kau tidak melihatnya?"

"Begitukah?"

Ditatap Hugo membuatku terbatuk. Aku buru-buru berkata. "Bukan apa-apa. Kau bisa menontonnya jika mau."

"Kau benar-benar lemah. Tidak heran Kaigan menjadikanmu target. Itu, kan, hanya darah."

"Itu bukan hanya darah. Dia melukai manusia. Darah sebanyak itu bukan cuma cairan, tapi berpotensi menghabisi nyawa seseorang. Aku tidak tahu jika kau melihat orang mati sebagai hal yang normal. Bagiku itu mengerikan."

Desire |18+ ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang