18

1.1K 53 1
                                        

Keesokan malamnya aku kembali ke Los Angeles. Aku dan Kaigan tidak membicarakan apapun lagi, jadi aku pikir hubungan kami sudah berakhir. Dia bahkan membiarkanku turun begitu saja sesaat setelah mobilnya berhenti. Well, aku tidak mau peduli. Kaigan memang orang seperti itu. Tidak punya perasaan sama sekali. Aku bahkan ragu kalau dia mengingat kata-kata menyakitkannya padaku semalam.

"Jadi, apa menyenangkan bersama bajingan gila itu, Richard?" Hugo menyambutku dengan pertanyaan penuh nada ejekan.

"Itu menyenangkan sampai dia mengatakan hal menyakitkan seperti pertanyaanmu barusan."

Aku merapikan kembali barang-barang bawaanku pada tempatnya. Setelah mandi aku langsung pergi ke swalayan. Aku membeli dua cup mie instan dan onigiri. Aku menyeduh mie di dapur, sementara Hugo mengetik sesuatu di sofa. Lalu kumakan mie instan dan onigiri di meja makan.

Aku tahu Hugo sudah memasak, tapi aku sedang tidak mau berbicara dengannya, apalagi menyentuh masakannya. Bukankah dia sama saja seperti Kaigan. Selalu membuat kata-kata menyakitkan. Apa dia pikir hatiku terbuat dari batu?!

"Kau sudah pulang?" Jean menutup pintu, melepas mantelnya dan menggantungnya di lengan. "Apa Kaigan mengantarmu?"

"Tentu saja Kaigan mengantarku. Menurutmu dengan siapa lagi aku pulang?"

Jean melirik Hugo sebentar. "Kalian bertengkar?"

"Tidak."

"Perasaannya menjadi buruk gara-gara bajingan gila itu. Sekarang dia malah melampiaskannya padaku."

Aku menatap punggung Hugo sengit. "Dia yang lebih dulu menyambutku dengan pertanyaan tidak mengenakan!"

"Aku benar, kan. Apa menyenangkan tidur bersama Kaigan?"

"Sudah aku bilang itu menyenangkan. Apa urusannya denganmu!"

"Aku hanya bertanya."

"Kau menghinaku! Kau berpikir orang Asia buruk sepertiku pantas bersama bajingan semacam Kaigan. Benar, kami serasi. Kami sama-sama orang buangan."

"Aku tidak berbicara seperti itu."

"Itulah yang kau maksud. Kau pikir aku tidak mengerti?!"

"Astaga, jangan bertengkar." Jean duduk di depanku. "Walter hanya mencemaskanmu. Meskipun begitu aku tahu kadang-kadang dia memang menjengkelkan."

"Kau yang menjengkelkan, Mendez!" Hugo datang ke arah kami. Dia mengeluarkan sesuatu dari lemari es, lalu bergabung. Ternyata Hugo membawa sepiring kue cokelat.

"Kau sama seperti Kaigan. Kau suka mengatakan hal-hal menyakitkan."

"Aku tidak merasa ada yang salah dengan pertanyaanku, Mrs. Richard."

"Itu, karena kau tidak memiliki perasaan. Aku sudah lelah menghadapi orang semacam Kaigan dan kau malah membuatnya lebih buruk."

"Kalau begitu seharusnya kau tidak pernah pergi dengan Kaigan. Kau terlalu berani. Kaigan padahal bisa saja membunuhmu di sana tanpa sepengetahuan siapapun."

"Kaigan tidak segila itu."

"Lihat, sekarang kau membelanya."

"Kaigan memang mengatakan hal-hal menyakitkan dan berkeliaran melakukan hal tidak benar. Namun dia tidak akan begitu padaku. Setidaknya untuk saat ini aku baik-baik saja. Kaigan menyukaiku."

"Dia hanya menyukai tubuhmu."

"Maksudmu hanya tubuhku yang berguna, begitu?"

"Aku tidak bilang begitu."

"Aku paham kalau Kaigan tidak menyukaiku secara penuh, tapi kau mengatakan seolah-olah tidak ada satupun yang pantas disukai laki-laki dari diriku."

"Kenapa kau menjadi tidak jelas begini?"

Desire |18+ ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang