"WALTER!"
"Tuan, tunggu sebentar."
"TURUN KAU WALTER ATAU AKU AKAN MEMBAKAR TEMPAT INI!"
Keributan di lantai bawah mengejutkan kami berdua. Aku memakai jubahku. Terburu-buru, sementara Hugo masih tampak mengantuk.
"Ada apa ini?" Joshua datang dari teras samping. Tampaknya anak itu bahkan belum tidur.
Bill menyusul di sampingku. "Apa ini perampokan?"
"Mom." Jasmine menyentuh tanganku. Kami sama-sama turun ke lantai bawah. Di ruang tengah, Kaigan membawa kelompoknya. Mereka seperti raksasa. Berbadan besar, menyeramkan dan tampak siap memukuli siapapun.
"Kaigan, apa yang kau lakukan tengah malam begini?"
"Panggil Walter sialan itu!"
"Katakan ada apa sebenarnya ini?" Aku mendesaknya.
"Ya, karena kau ingin mendengarnya, Sayang. Aku akan mengatakannya. Suami keparatmu itu melaporkan usahaku. Kau tahu, kan, betapa itu penting bagiku!"
"Aku tidak melaporkanmu, Kaigan." Hugo mengikat jubahnya lebih erat. "Aku hanya memberitahu pada temanku bahwa kau menjual narkotika. Dia bilang, dia akan membelinya."
"Kau menjebakku, Sialan!" Kaigan meninju Hugo. Dia terjatuh, tapi malah tertawa kecil.
"Oh, jadi sekarang kau sudah menjadi buronan. Bukankah menarik jika aku memanggil polisi sekarang?"
"Kau pikir aku takut?" Kaigan menarik kerah Hugo, tetapi Hugo mendorongnya.
"Kau takut, Kaigan. Itulah mengapa kau kemari. Usahamu hancur. Kau harus bersembunyi, karena polisi mencari-carimu. Berdasarkan tebakanku, kau juga tidak bisa lagi menutup mulut mereka. Benar begitu?"
"Kau yang takut, Walter! Aku hanya bilang aku akan mengambil Joana dan kau melaporkanku. Kau takut aku benar-benar melakukannya sebab kau hanya bajingan yang tidak berguna. Kau tidak dicintai Joana atau anak-anakku. Kau itu sampah yang tidak berharga, jadi kau harus melakukannya. Kau ingin melindungi keluarga kecil ini."
"Kau benar. Kita sama-sama takut, tapi aku tidak lagi. Tempat itu sudah hancur sekarang. Kalian yang tersisa hanya menunggu waktu sampai polisi mendorong kalian ke balik jeruji besi. Akan aku pastikan kau berada di dalamnya setidaknya 20 tahun. Ketika kau keluar, kau telah kehilangan segalanya."
Kaigan meninju rahang Hugo. "Kau terlalu banyak berangan-angan. Bahkan jika aku mati, aku akan membuatmu mati lebih dulu."
Aku tahu kegilaan Kaigan adalah keseriusan. Kutarik tangannya menjauh dari Hugo. "Hentikan! Kalian seperti anak kecil. Apakah kalian tidak malu di depan anak-anak?"
"Persetanan dengan anak-anak itu. Mereka anak-anak Walter, bukan? Bahkan jika mereka mati, aku tidak akan peduli."
Jasmine tampak kaget. Meksipun Joshua berhati keras, tapi aku tahu dia juga terkejut. Tidak menyangka jika ayahnya akan mengucapkan kata-kata sekejam itu.
"Kau tahu Joana, satu-satunya yang aku pedulikan hanya dirimu. Aku tidak peduli pada keparat sialan ini."
"Dia isteriku." Hugo mengepalkan tangannya. "Berhenti seolah kau memilikinya. Kau itu orang asing, Kaigan!"
"Tidak, Joana adalah milikku. Kau merebutnya dariku. Kau selalu begitu. Kau mengusik barang-barangku. Kim Hana dan sekarang Joana. Mengapa kau hidup semacam bajingan begitu, Walter?"
Hugo meninju Kaigan. Mereka saling menyerang. Lebih parah dan lebih brutal. Darah sampai terlontar ke lantai. Aku memanggil semua pelayan dan satpam, tetapi mereka dilumpuhkan oleh kelompok Kaigan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Desire |18+ END
RomanceJoana Richard seharusnya tidak jatuh cinta kepada Kaigan Wilson. Pria itu tidak segan menenggelamkan kepala Joana di kloset toilet yang kotor, karena tidak menyukai kehadirannya. Kaigan adalah laki-laki yang selalu mendapat apapun yang ia inginkan...
