42

560 20 1
                                        

Aku bodoh, karena mengira Kaigan akan berhenti. Sebulan telah berlalu sejak terungkapnya bahwa Jasmine dan Joshua mengunjungi Kaigan. Sekarang laki-laki itu duduk di hadapanku. Dia sengaja menghampiriku di tempat pemotretan. Membuat manjer dan beberapa rekanku bertanya siapakah dirinya. Aku bilang hanya teman, lalu membawanya menjauh.

"Joshua bilang dia sudah berbicara denganmu. Bukan salahku jika dia tidak mau mengakuimu atau apapun itu."

"Kau semakin cantik, Joana." Kaigan bahkan tidak jauh berbeda. Sorot matanya yang dingin, wajahnya yang kasar dengan senyum sinis. Dia masih sosok yang sekali lihat dapat diketahui bahwa perannya adalah tokoh antagonis. Tubuhnya hanya lebih tegap dan kekar. Sisanya aku yakin dia masih sekanak-kanakan dulu.

"Jangan banyak bicara. Katakan apa yang kau inginkan?"

"Seharusnya dulu aku menikahimu."

"Jangan mengatakan sesuatu yang telah berlalu. Itu tidak dapat merubah apapun!"

"Aku bisa, Richard. Aku mengizinkanmu menikah dengan Hugo. Aku juga bisa mengambilmu kembali. Kau sejak awal miliku."

"Aku sudah menikah dengan Hugo. Dia memenangkan permainan, jadi dia berhak atas diriku."

"Tentu saja dia menang. Dia yang menciptakan permainan itu. Dia membujuk Axe dan Jean."

"Kau kalah. Itu tidak merubah apapun, Kaigan."

"Persetanan dengan kekalahan! Kau masih milikku, Richard."

"Jadi, kau kemari hanya untuk membicarakan penyesalanmu? Maaf saja. Aku terlanjur mencintai suamiku."

"Kau tidak mencintainya. Aku bisa melihatnya dengan jelas."

"Memangnya kau peramal atau apa," ejekku.

"Itu alasan mengapa kau tidak memiliki anak dengannya. Kau hanya menginginkan anak-anakku. Benar begitu, Richard?"

"Kau tidak tahu rasanya melahirkan, Kaigan. Bukannya aku hanya menginginkan darah dagingmu saja."

"Kau seharusnya berusaha jika kau memang mencintainya."

"Wah, terima kasih. Itu nasehat yang bagus."

"Ada hotel di sekitar sini. Kau pasti sangat merindukanku." Kaigan membicarakannya tanpa malu ketika seorang pelayan menurunkan minuman kami.

"Itulah mengapa kau seharusnya tidak mengonsumsi banyak narkotika, Kaigan. Sekarang otakmu benar-benar bermasalah."

Aku meminum segelas jus jeruk. Rasa dinginnya menenangkan dadaku dari panas di luar sana dan kegilaan Kaigan. Aku sudah menghadapinya bertahun-tahun. Namun aku tetap saja dipenuhi kebingungan setiap kali berhadapan dengannya.

"Setelah ini kau akan melakukan pemotretan dimana?"

"Aku akan pulang lebih awal. Hari ini suamiku berulang tahun. Jadi kami akan makan malam bersama di luar."

"Kau bahkan tidak pernah merayakan ulang tahunku."

"Aku pernah, Kaigan. Kau langsung melemparkan kue itu ke wajahku, karena aku menjijikkan. Apa sekarang ingatanmu juga terganggu?"

"Ya, aku hampir lupa. Kau peduli padaku."

"Kau benar-benar tidak tahu malu."

Kami menyelesaikan makan siang, lalu berpisah. Dia mengungkit banyak soal masa lalu, sementara aku meyakinkan diri bahwa segalanya telah berakhir. Aku hanya akan melanjutkan hidup bersama Hugo.

***

Di rumah, aku menata makan malam. Hugo menolak ide makan di luar secara tiba-tiba, padahal kami sudah membuat reservasi. Aku tidak tahu alasannya, tapi berhasil membuat Joshua dan Jasmine membantu menyiapkan makan malam.

Desire |18+ ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang