40

599 23 4
                                        

Delapan Belas Tahun Kemudian

Kami tinggal di Florida. Kami menempati rumah berlantai dua. Tidak terlalu besar, tetapi memiliki interior modern yang indah. Taman depannya dipangkas rapi oleh pelayan yang dibayar Hugo setiap bulan untuk merapikannya. Kami memiliki halaman belakang yang luas, ditumbuhi rumput hijau pendek dan belum tahu akan digunakan untuk apa.

Sementara itu Hugo bekerja sebagai konsultan bisnis di perusahaan cabang milik pamannya. Dia memulai dari gaji yang tidak terlalu besar, tetapi cukup membeli rumah yang sama setiap bulannya jika dia mau. Lagipula Hugo begitu pandai dan giat. Dia menjadi dosen, menerima tawaran seminar dan ikut melakukan penelitian. Uang-uang itu diinvestasikannya dalam bentuk saham, obligasi dan beberapa real estate.

Hugo mungkin boros. Dia menghadiahiku pakaian bagus atau perhiasan mahal setiap menerima gaji, tetapi dia juga pandai memutarnya sehingga menghasilkan lebih banyak uang. Hugo bahkan membuka akun tambahan atas nama puteriku dan mengisinya setiap bulan. Namun Hugo tidak sepeduli itu pada puteraku Joshua yang memiliki kemiripan dengan wajah Kaigan.

Joshua masih tujuh belas tahun, tetapi dia telah terlibat dalam banyak perkelahian yang membuatnya tidak disukai. Dia melawan Hugo dan keras kepala. Hugo terang-terangan bilang kalau dia tidak menyukai Joshua. Namun Jasmine adalah kesayangan Hugo. Anak itu patuh, meskipun tidak terlalu pintar. Dia suka melukis dan pergi ke pantai. Kata Hugo, Jasmine sepertiku. Cantik, rapuh dan lugu. Jadi dia menyayanginya.

Aku sejujurnya tidak berharap banyak untuk pernikahan kami. Namun siapa yang mengira kalau pernikahan kami sudah delapan belas tahun berlangsung.

"Kau tidak bisa pergi study tour!"

"Kenapa tidak? Mom tidak melarang."

"Dia akan melarang begitu tahu, karena kau pasti akan membuat masalah. Kami tahu itu, Joshua!"

Aku menurunkan kacamata hitamku. Aku baru melakukan pemotretan untuk sebuah brand kosmetik. Hugo tidak melarangku melakukan hal ini, meskipun dia jelas memberikanku uang yang cukup setiap bulannya.

"Aku bahkan tidak meminta uang atau pendapamu? Aku hanya memberitahu."

"Joshua, jaga ucapanmu." Jasmine berkata ngeri. Dia jelas tidak menyukai keributan.

"Ada apa ini?"

"Aku akan pergi study tour, Mom!" Joshua langsung bicara ketika melihatku.

"California," kata Hugo. "Itu tidak dekat dan dia jelas akan membuat masalah."

"Mom, kau tidak mungkin mendengarkannya. Lagipula semua temanku pergi. Mengapa aku tidak boleh?"

"California itu cukup jauh." Aku setuju dengan ucapan Hugo.

"Kami bersama Mr.Makenzie. Aku akan aman. Aku bisa mengurus diriku. Mom hanya perlu menandatangani suratnya."

"Aku tidak akan mengizinkannya." Hugo bersikeras.

"Sudah aku katakan aku tidak membutuhkan pendapatmu."

"Mom, aku juga diminta untuk pergi study tour ke California." Jasmine angkat bicara.

"Kau tidak bisa melakukannya, Jasmine. Meskipun Dad menyayangmu, Dad tidak akan mengizinkannya."

Jasmine hanya diam. Dia tidak akan membantah seperti Joshua. Jika dia memiliki pendapat, dia juga akan mengatakannya dengan benar.

"Apakah kita bisa makan malam dulu? Mom sangat lapar."

Joshua meraih tasku, membawanya ke ruang makan, tetapi wajahnya terlanjur tidak enak dilihat. Suasana hatinya seburuk ekspresi Hugo.

Desire |18+ ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang