EXTRA CHAPTER

722 16 5
                                        

Apa itu cinta?

Entahlah, aku tidak pernah mengetahuinya. Bahkan hanya untuk memikirkannya saja aku merasa malas. Aku memiliki kecerdasan di atas rata-rata apabila berbicara soal bisnis atau strategi. Namun otakku seolah tidak mampu memahami hal-hal manusiawi semacam cinta dan kebaikan lainya. Ada yang aneh dalam diriku. Aku berpikir itu semacam sifat alami yang mengakar di dalam tubuhku. Sekuat apapun aku berusaha mengabaikannya, pada akhirnya aku memanglah orang semacam itu.

Aku penjahat!

Aku pembunuh!

Aku bajingan gila!

Sudah lama sekali sejak aku berpisah dari Joana. Aku berhubungan dengan banyak wanita sampai aku tidak bisa memikirkan tentang Joana. Namun semuanya mulai terasa menjengkelkan, karena aku membayangkan wajah Joana di percintaan manapun. Joana entah bagaimana semacam kutukan yang tidak bisa aku hilangkan.

Ketika aku melihat Joana kembali aku merasakan dorongan untuk membawanya kembali ke ranjangku, mengurungnya dan menikmatinya sendirian. Aku tidak akan membiarkan pria manapun melihat Joana, bahkan suaminya sendiri. Mungkin aku terobsesi dengan Joana, dibandingkan mencintainya. Peduli setan dengan apapun itu namanya, aku hanya benar-benar menginginkan Joana sebanyak itu. Ini hanya semacam gairah yang terlalu gila saja. Tidak lebih.

Setelah Hugo kehilangan banyak darah di depan mataku, aku mulai membayangkan hal-hal gila. Aku mungkin akan dipenjara selama beberapa tahun. Kemudian aku akan menikahi Joana dan kami akan menghabiskan banyak waktu di dalam ruangan yang sama. Kami akan bercinta lebih banyak atau mungkin sekedar menonton drama di televisi selagi membicarakan kapan kami akan memiliki anak dan semacamnya.

Aku tahu Joana membenciku. Sejak awal Joana begitu, karena aku memang lebih pantas dibenci daripada dicintai olehnya. Namun aku paham bagaimana cara menaklukkan Joana. Aku hanya perlu membujuknya, melakukan lebih banyak kebaikan dan mungkin meminta maaf apabila diperlukan. Setelahnya kami dapat hidup seperti pasangan lainya. Mungkin malah lebih menyenangkan dan penuh kebahagiaan, karena aku serius akan memberikan Joana hal-hal semacam itu.

Ada semacam benda tajam yang menyayat hatiku. Rasanya terlalu sakit, sehingga aku tidak dapat berkata apa-apa untuk beberapa saat setelah mendengarnya.

"Joana bunuh diri." Axe mengulanginya.

Aku tahu bahwa Joana adalah perempuan yang lemah. Namun dia tidak mungkin meninggalkan kedua anak itu. Joana mencintai keduanya lebih banyak daripada siapapun.

"Tidak mungkin."

"Jasmine menemukannya tadi pagi.  Joana meminum pil Heaven. Mungkin itu milik Hugo dan dia mengalami overdosis. Kemudian Joana menyayat tangannya sendiri. Aku yakin dia bermaksud menghilangkan efek samping pil itu atau entahlah. Mungkin Joana benar-benar ingin bersama Hugo selamanya."

Aku merasa marah mendengarnya. Bagaimana bisa Joana melakukan hal segila itu hanya untuk Hugo? Itu cocok disebut cinta. Sebuah pengorbanan untuk hidup bersama. Namun aku membencinya. Joana seharusnya bersamaku saja. Aku sudah membayangkan semuanya dan sekarang semuanya hanya khayalan belaka.

Secepat setelah Axe memberi kabar. Secepat itu kami mengunjungi rumah Joana. Ada begitu banyak orang yang berkumpul. Rekan kerja Hugo dan bahkan wartawan. Tentu saja mereka menyukai hal-hal semacam ini.

Perempuan itu di sana. Berdiri memegangi setangkai mawar merah muda selagi matanya  tampak bengkak. Tubuhnya yang ramping dibalut gaun putih tipis. Di sampingnya, Joshua memeluk bahunya.

"Apa kau bahagia sekarang?" Caranya berbicara berubah dari yang terakhir kali aku ingat. Dulu bahkan matanya tampak gembira hanya dengan melihatku saja.

Desire |18+ ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang