EXTRA CHAPTER

948 28 2
                                        

Terhitung sudah hampir tiga minggu setelah kematian Hugo dan aku masih membayangkan Hugo dimana-mana. Aku membayangkan Hugo berbaring di sampingku, memeluk erat dan membisikkan kata-kata cinta. Ketika aku terbangun itu adalah malam yang hening, gelap dan kosong. Rasanya hampa dan aku merasa aneh untuk pertama kalinya. Bagaimana bisa kepergian seseorang dapat membuatku kehilangan semangat hidup semacam ini?

Itu adalah cinta yang terlambat aku sadari. Aku menghabiskan banyak waktu untuk mencintai Kaigan. Aku memberikannya kesempatan berkali-kali dan berpikir dengan naif bahwa Kaigan dapat berubah. Mungkin Kaigan akan sangat mencintaiku dengan cara yang benar, tapi dia hanyalah bajingan. Sampai akhirnya dia tetap seorang bajingan dan aku membencinya.

Aku membenci semua keraguan yang aku pegang selama bersama Hugo. Jika saja aku lebih berani, aku dapat menciptakan lebih banyak momen bahagia bersama Hugo. Hugo pasti mengharapkan hal yang sama, tapi nyatanya aku masih terjebak dalam gairah Kaigan yang aku salahpahami sebagai cinta.

Aku memiliki desakan untuk memutar waktu. Aku ingin mempercayai Hugo dan mencintainya lebih banyak. Namun jika akhirnya akan tetap semacam ini, aku ingin memutar waktu hanya agar aku bisa menghindari semuanya: Los Angeles, Kaigan, Hugo, Kim Harin. Semuanya!

Aku tidak pernah ingin hidup. Aku tidak mau mengalami semua hal-hal menyakitkan ini. Aku adalah seorang pengecut yang menyedihkan.

Aku mulai merasa kesulitan bernafas beberapa hari belakangan ini. Aku tidak tahu mengapa aku harus makan atau tidur. Jasmine dan Joshua membujukku berkali-kali, tapi aku mulai lelah dengan semuanya. Aku ingin tidur yang panjang. Sebuah tidur yang lelap dan tenang. Aku ingin beristirahat dengan nyaman.

Tanganku bahkan terlalu malas untuk menulis. Namun aku berharap anak-anakku dapat membacanya sebagai perpisahan. Ini adalah sebuah takdir yang mengerikan. Keduanya sama sekali tidak bersalah. Keduanya hanyala korban. Anak-anakku yang malang, Jasmine dan Joshua.

Jasmine ingatlah ini baik-baik. Jangan mempercayai siapapun. Jangan mempercayai laki-laki manapun. Jangan tenggelam dalam kata-kata manis yang disebut cinta. Kau harus berdiri sendiri di atas kakimu. Kau harus menjadi perempuan yang tangguh dan pemberani. Jangan menjadi sepertiku yang terlalu lemah, sehingga terus menerus terpijak oleh roda kehidupan yang menyedihkan.

Teruntuk puteraku Joshua, aku mohon janganlah hidup seperti ayahmu. Jangan menjadi bajingan! Jangan menimbulkan kerusakan pada orang-orang yang tidak bersalah. Apabila kau berhadapan dengan orang-orang semacam itu, kau hanya perlu menyelesaikannya dengan strategi yang baik dan keberanian. Jangan menjadi pembunuh. Berjanjilah padaku, kau akan hidup dengan baik. Kalian harus hidup penuh kebahagiaan sebagaimana yang belum sempat aku dapatkan.

Siapapun yang aku tinggalkan, berhentilah bersedih atau menyalahkan diri. Ketika catatan ini telah diterima dan aku telah pergi, maka itulah benar-benar suatu kedamaian yang aku inginkan. Aku hanya ingin beristirahat. Maaf jika istirahatku membuat orang-orang menangis dan bersedih. Aku benar-benar mencapai batasku untuk bertahan hidup. Ini adalah sebuah akhir yang membahagiakan untukku. Akhir dari segalanya.

Joana Malik Walter

Jasmine menangis untuk setiap kalimat yang terbaca olehnya. Gadis kecil itu dapat membayangkan dengan jelas bagaimana Ibunya menulis dengan tangisan yang lebih menyedihkan di dalam kamar yang gelap dan sepi. Untuk setiap luka dan setiap kesedihannya, bahkan Ibunya tidak memiliki niat untuk balas dendam sama sekali. Ibunya seolah menyalahkan dirinya sendiri dan itu menyakiti Jasmine lebih banyak lagi.

"Mengapa Mom harus hidup semacam ini?" tanyanya dengan sisa-sisa suaranya yang parau. "Jika ini adalah takdir. Kenapa bukan dia saja yang menanggungnya? Mengapa harus Mom yang merasakan semua luka itu? Ini tidak adil!"

Di sampingnya Joshua mengepalkan tangan. Tangisnya sudah bersih. Kini yang tersisa hanyalah amarah yang meletup-letup. Bahkan kalaupun dia masih terlalu kecil, keinginan untuk membalaskan setiap rasa sakit ibunya sudah tergambar nyata.

"Aku akan membunuhnya!"

Jasmine melirik galak. "Apa kau tidak membacanya?"

"Oh ayolah, Jas. Siapa yang peduli soal itu. Mengapa hanya kita yang harus menjadi orang baik di sini, sementara dia berbuat semaunya seperti iblis."

"Kita harus hidup dengan baik."

Joshua menggeleng. "Tidak, kita harus hidup dengan baik dan mengikuti permainannya."

"Astaga, Joshua!"

"Kau pikir kenapa Mom mengalami semuanya? Itu, karena Mom sepertimu. Mom penakut. Mom memilih menyalahkan dirinya sendiri dan tidak punya keberanian. Itu sebabnya bajingan itu bertindak semaunya. Aku tidak akan begitu. Bahkan kalau aku hancur, aku akan tetap membunuhnya."

Joshua meninggalkan kamar. Pintu terbanting keras, sementara Jasmine menangis lebih banyak. Bertanya-tanya dimana keadilan itu dan bagaimana dia akan hidup dengan baik setelah ini. Jasmine kebingungan setengah mati dibuatnya. Kemudian rasa cemas itu menyergap dadanya.

Akankah kehidupannya berjalan dengan cara yang sama seperti Ibunya?

TAMAT

Okee ini extra chapter terakhir
Aku mau langsung up SIN

Sekali lagi terima kasih untuk
semua pembaca
I love u guyyyyyssss








Desire |18+ ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang