23

1K 38 3
                                        

Januari, 2015
Los Angeles, Lympus University

Sejak awal aku meragukan bahwa Ilegal Party berakhir aman. Kelompok Asia yang terdiri dari 12 orang anggota yang salah satunya adalah Harin bersitegang dengan kelompok Kaigan. Pada Ilegal Party mereka diundang oleh Dewan Lympus untuk mewakili keharmonisan antar kelompok di Lympus. Mereka menjual berbagai merchandise yang semula tampak baik-baik saja. Namun salah satu dari mereka tampaknya mendapatkan pelecehan, sehingga membangkitkan kemarahan anggota lainya. Terjadi adu mulut yang jelas membuat anggota Asia itu kalah. Akhirnya salah satu dari mereka dan paling berani mengunggahnya ke sosial media. Foto berserta kata-kata yang meyakinkan. Dalam sekejap Lympus dibanjiri hinaan. Orang-orang Leodon dan Orion turut mencerca sistem permainan yang menurut mereka tidak adil. Beberapa meminta ketua Demon untuk turun sebab tidak sebaik pendirinya.

Hugo membuatku terkejut dengan kebaikan hatinya. Dia bolak-balik ke Lympus untuk menemani Harin melakukan rapat. Pada akhirnya tadi pagi anggotanya mengaku. Tentu saja kelompok Kaigan langsung menggunakan kekerasan. Perkelahian dengan kekuatan fisik tersebut melukai 3 orang dan berhasil membuat Harin hampir pingsan.

"Aku tidak tahu dia senekat itu." Harin berbicara kepada Hugo, sementara aku membuka kulkas.

"Apa yang kau lakukan?" Hugo menggosok-gosok rambutnya yang basah selagi menatapku.

"Perutku sakit."

"Memangnya ada obat di kulkas?"

"Obat lapar. Demi Tuhan, aku sangat lapar. Kau bilang akan mengirimkan makanan, tetapi tidak ada. Aku jadi fokus sendiri dengan penelitianku sampai malam."

"Astaga, aku benar-benar lupa."

Aku mencibirnya. Tidak biasanya Hugo melupakan apa yang aku katakan.

"Kaigan tampaknya tidak mau berdamai." Harin masih berbicara soal pertikaian itu.

"Dia membenci orang-orang Asia." Aku menambahkan.

"Aku mengerti, tetapi ini hanya tentang satu orang saja. Lagipula anggotanya yang lebih dulu bersalah."

"Anggota kelompok kalian melakukan hal yang lebih parah."

"Sekarang kau membelanya," ujar Harin malas.

"Kau tahu bahwa apa yang aku katakan benar. Seharusnya kalian membiarkan masalahnya selesai pada titik pertama."

"Maksudmu membiarkan saja pelecahan itu terjadi? Oh, aku tidak tahu jika hal semacam itu sudah biasa bagimu. Kaigan sudah melatihmu, bukan?"

Aku menutup kulkas dan beralih menatap Harin. Dia cantik, tapi hari ini tampak kacau. Dia tidak menggunakan make up yang akhir-akhir ini ia kenakan setiap keluar. Pakaiannya hanya kemeja biru muda dan celana kulot. Jelas Harin tidak berada dalam suasana hati yang baik, jadi aku menganggap ucapannya tidak serius.

"Maaf, aku terbawa suasana." Harin menjatuhkan tubuhnya di sofa.

"Well, bukannya aku membiarkan pelecehan itu terjadi. Kalian hanya perlu mengerti bahwa beginilah konsekuensi jika kalian menuntut Kaigan. Kalian harus menanggungnya." Aku menjelaskan, berharap Harin paham maksudku. Demi Tuhan, aku tidak membela Kaigan. Kelompok Kaigan berbuat kesalahan dan kelompok Harin menuntut. Jika terjadi pertikaian selanjutnya, maka memang begitulah yang seharusnya terjadi.

Harin tertawa. "Jelas kau membelanya. Kau sudah tidur dengannya. Aku dengar kalian malah berkencan."

"Benar, kami berkencan. Maksudku adalah kalian sudah melakukan hal yang benar dengan mencegah pelecahan tersebut. Sekarang lanjutkan saja. Seberat apapun, itulah yang harus kalian tanggung. Jangan mengeluh dan menyalahkan Kaigan."

Desire |18+ ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang